← Beranda
Hadapi El Nino, Pemerintah Pastikan Stok Beras Indonesia Aman Sampai Mei 2027
Dimas ChoirulRabu, 24 Juni 2026 | 19.17 WIB
Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) yang juga Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman. (Istimewa).

 

JawaPos.com — Fenomena cuaca El Nino diprediksi mulai melanda Indonesia. Pemerintah telah bersiap memperkuat stok pangan nasional, terutama beras. Di mana, Indikator stok Cadangan Beras Pemerintah (CBP) Indonesia berada lebih dari 5 juta ton sebelum El Nino menerpa.

"Kami memang sudah siapkan jauh hari sebelumnya menghadapi El Nino. Dulu pengalaman kita (El Nino) tahun 2023. Alhamdulillah kita lolos. Stok kita sampai detik ini, itu 5,2 sampai 5,3 juta ton. Itu stok tertinggi sepanjang sejarah. Nah ini Alhamdulillah cukup baik," ujar Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman dalam suatu interviu di Jakarta dikutip Rabu (24/6).

Amran yang juga sebagai Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) itu mengaku optimis mengenai ketersediaan beras Indonesia sampai Desember masih aman. Bahkan dalam estimasinya keseluruhan stok beras masih dapat mencukupi sampai Mei tahun depan.

"Insya Allah aman, katakanlah sampai Desember. (Bahkan) beras kita sudah sampai Mei pun cukup. Jadi tidak masalah," kata Amran lagi.

Baca Juga: Sampai Pertengahan 2026, Pemkot Tangsel Pasang WiFi Gratis di 5.000 Titik Termasuk Rumah Ibadah

Hal Tersebut selaras dengan Proyeksi Neraca Pangan untuk beras yang sudah diperbarui awal Juni ini. Neraca akhir tahun beras Indonesia diestimasikan masih terdapat stok 16,24 juta ton. Ini berasal dari stok awal tahun 2026 di 12,54 juta ton ditambah proyeksi produksi setahun 34,76 juta ton lalu dikurangi kebutuhan konsumsi setahun 31,1 juta ton.

Dengan proyeksi neraca akhir tahun beras sebesar 16,24 juta ton tersebut dinilai masih mampu untuk penuhi kebutuhan konsumsi nasional sekitar 5 bulan lamanya di tahun 2027 mendatang. Namun demikian, di Maret April stok beras nasional akan semakin meningkat karena telah memasuki musim panen raya.

Kendati demikian, Amran juga menyatakan adanya posibilitas penurunan produksi beras di 2026, meskipun cukup minim. Ini merujuk pada data Badan Pusat Statistik (BPS) yang melaporkan total produksi beras Januari-Juli 2026 yang diproyeksikan menurun 0,08 juta ton dibandingkan total produksi Januari-Juli 2025.

"Tahun lalu surplus (produksi) 4 juta ton. Anggaplah sampai akhir tahun turun 0,2 persen, kurang lebih 80 ribu ton. (Tapi masih) surplus 4 juta ton selama 2 tahun. Jangan 0,2 persen dibandingkan tahun lalu, kan tahun lalu sudah naik tinggi. Itu (surplus) 4 juta ton," beber Amran.

Prediksi adanya surplus produksi 4 juta ton di 2026 ini tersebut dapat menjadi target penyerapan untuk stok Cadangan Beras Pemerintah (CBP) yang dikelola Perum Bulog. Stok CBP pun dapat semakin melejit seiring akselerasi produksi beras nasional.

"Dulu cuma cadangan kita 1 juta ton. Kemudian turun 0,2 persen, (tapi) kalau diakumulasikan, berasnya itu ada di gudang 5 juta ton, ditambah lagi 4 juta ton, (bisa) jadi 9 juta ton. (Sekarang) 9 juta ton dimana nyimpannya? Justru yang kita cari nanti, dimana disimpan ini beras berikutnya? (Jadi) langkah kita aman, stok kita banyak," ungkap Amran.

Untuk diketahui, per 23 Juni dalam catatan Bapanas, realisasi penyaluran CBP ke masyarakat untuk anggaran 2026 telah menyentuh total 1,02 juta ton. Ini terdiri dari bantuan pangan beras 601,7 ribu ton, SPHP beras 367,8 ribu ton, golongan anggaran 38 ribu ton, dan tanggap darurat 11,3 ribu ton. Terbaru, pemerintah pun telah memutuskan bantuan pangan beras akan ditambah 3 bulan alokasi selama semester kedua tahun ini.

Sementara total stok beras yang ada di Bulog sampai 23 Juni berada di angka 5,17 juta ton. Ini bersumber dari pengadaan setara beras produksi dalam negeri sejak awal 2026 yang telah mencapai 3,23 juta ton. Selain itu juga ditopang dari stok akhir tahun 2025 yang masih ada 3,24 juta ton yang sepenuhnya bersumber dari realisasi pengadaan setara beras produksi dalam negeri selama 2025 di 3,43 juta ton tanpa ada impor.

Baca Juga: Polusi Udara Ikut Andil Dalam Ribuan Angka Kematian Per Tahun di Jakarta, Akar Rumput Didorong Aktif Perbaiki Kualitas Udara

Lebih lanjut, kondisi harga beras dalam pemantauan Bapanas, per 22 Juni mencatatkan rerata harga beras medium masih berada di bawah Harga Eceran Tertinggi (HET). Memang terjadi kenaikan harga beras dalam sebulan terakhir, namun masih sesuai koridor HET beras medium.

Zona I (Jawa, Lampung, Sumatera Selatan, Bali, Nusa Tenggara Barat, Sulawesi), rerata harga per 22 Juni di Rp 13.080 per kilogram (kg) dengan HET beras medium Zona I di Rp 13.500 per kg. Sulawesi Selatan jadi daerah dengan rerata harga beras medium paling rendah dengan Rp 12.665 per kg dan Sulawesi Tengah mengalami rerata harga paling tinggi di Rp 13.847 per kg.

Untuk Zona II (Sumatera selain Lampung dan Sumsel, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan), rerata harga 22 Juni di Rp 13.704 per kg dengan HET Rp 14.000 per kg. Jambi menjadi daerah dengan rerata harga beras medium paling rendah dengan Rp 12.595 per kg dan daerah dengan rerata harga paling tinggi di Kalimantan Timur dengan Rp 14.586 per kg.

Terakhir, di Zona III (Maluku, Papua), rerata harga beras medium per 22 Juni berada di level Rp 15.244 per kg dengan HET Rp 15.500 per kg. Daerah paling rendah rerata harga beras medium ada di Maluku dengan Rp 14.700 per kg, sedangkan daerah dengan rerata harga beras medium tertinggi di Papua Pegunungan dengan Rp 20.000 per kg.

 

EDITOR: Sabik Aji Taufan