JawaPos.com - Pengamat Ekonomi, Mata Uang, dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi, memproyeksi indeks dolar Amerika Serikat (AS) kembali menguat pada pekan depan dan berpotensi menekan nilai tukar rupiah hingga berada di kisaran Rp17.600-Rp18.000 per dolar AS.
Secara teknikal, indeks dolar AS bergerak pada area support 99,200 dan resistance 101,700. Menurutnya, penguatan indeks dolar menjadi salah satu faktor utama yang membebani pergerakan rupiah dalam beberapa waktu ke depan.
"Untuk rupiah sendiri, saya sudah membuat rilis kemarin di hari Jumat dan internal itu salah satu fundamentalnya itu resnya dalam minggu depan di 17.600 sampai di 18.000 karena melihat USD-nya ke 101,700," ujar Ibrahim dalam rekaman suara yang diterima, Minggu (21/6).
Ibrahim menjelaskan pergerakan dolar AS dan rupiah dipengaruhi sejumlah faktor, mulai dari perkembangan geopolitik global, kebijakan politik Amerika Serikat, kebijakan bank sentral AS, hingga faktor supply dan demand.
Dari sisi geopolitik, ia menyoroti perundingan antara Amerika Serikat dan Iran yang telah memasuki tahap pertama selama 60 hari. Kesepakatan tersebut mencakup pembukaan Selat Hormuz dan pencabutan sanksi ekonomi.
Namun, situasi di Timur Tengah masih dinilai rentan karena pascagencatan senjata, Israel dan Lebanon masih terlibat aksi saling serang. Kondisi itu, menurut Ibrahim, meningkatkan ketidakpastian pasar global.
Ia mengatakan Iran juga mengancam akan kembali menutup Selat Hormuz apabila kesepakatan yang mencakup perdamaian antara Israel, Lebanon, dan Palestina tidak dijalankan sebagaimana mestinya.
Selain itu, perwakilan Amerika Serikat, Iran, dan Pakistan dijadwalkan melanjutkan perundingan tahap kedua di Jenewa, Swiss, yang akan membahas nota kesepahaman terkait reaktor nuklir dan Selat Hormuz.
Pada saat yang sama, Presiden AS Donald Trump meminta tidak ada pungutan transit selama proses negosiasi berlangsung dan memperingatkan tindakan yang dapat menghambat lalu lintas perdagangan internasional.
Ibrahim menilai perkembangan geopolitik tersebut berpotensi mengangkat harga minyak dunia, memperkuat indeks dolar AS, serta memengaruhi pergerakan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Baca Juga: Dibayangi Sentimen Global dan MSCI, Rupiah Berpotensi Melemah Pada 19 Juni
Sementara itu, dari sisi kebijakan moneter, Ibrahim menilai arah kebijakan bank sentral AS di bawah kepemimpinan Kevin Walsh akan lebih hawkish dengan fokus pada pengendalian inflasi agar tetap berada di target 2 persen.
"Arah kebijakan moneter Kevin Walsh itu diprioritaskan yang pertama adalah suku bunga tetap dengan sinyal kemungkinan besar akan dinaikkan," ujarnya.