← Beranda
Devisa Sektor Pariwisata Triwulan I 2026 Tumbuh 6,3 persen, Akademisi Sebut Peluang SDM Masih Banyak
Dimas ChoirulSabtu, 20 Juni 2026 | 04.39 WIB
Akademisi sekaligus Wakil Rektor III Institut Pariwisata (IP) Trisakti Novita Widyastuti menjelaskan terkait peluang tenaga kerja di sektor pariwisata kepada wartawan, Jumat (19/6). (Dimas Choirul/Jawapos.com)

JawaPos.com – Sektor pariwisata dinilai masih memiliki prospek cerah di tengah ketidakpastian ekonomi dan politik global. Peningkatan kunjungan wisatawan serta kontribusi pariwisata terhadap perekonomian nasional menjadi sinyal positif bagi perkembangan industri tersebut dalam beberapa tahun ke depan.

Berdasarkan data Kementerian Pariwisata (Kemenpar) per 14 Juni 2026, jumlah kunjungan wisatawan mancanegara pada periode Januari hingga April 2026 mencapai 4,68 juta kunjungan. Angka tersebut meningkat 8,24 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang tercatat sebanyak 4,33 juta kunjungan.

Sementara per 22 Mei 2026, menunjukkan devisa pariwisata pada Triwulan I 2026 mencapai USD 4,05 miliar atau setara Rp 68,28 triliun. Nilai itu meningkat 6,3 persen dibandingkan Triwulan I 2025 yang sebesar USD 3,81 miliar atau setara Rp 62,29 triliun.

Baca Juga: 8 Neptu Weton Ini Bakal Meraih Kekayaan dan Kesuksesan di Usia 50-70 Tahun, Tua Kaya Raya!

Dari sisi wisatawan domestik, aktivitas perjalanan juga masih menunjukkan pertumbuhan. Sepanjang Januari hingga April 2026, jumlah perjalanan wisatawan nusantara mencapai 417,06 juta perjalanan. Jumlah tersebut naik 1,48 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebanyak 410,99 juta perjalanan.

Pada Triwulan I 2026, kontribusi sektor pariwisata terhadap produk domestik bruto (PDB) diperkirakan berada pada kisaran 4,01 persen hingga 5 persen atau setara Rp 248,11 triliun sampai Rp 309,36 triliun.

Akademisi sekaligus Wakil Rektor III Institut Pariwisata (IP) Trisakti Novita Widyastuti mengungkapkan, tren peningkatan kunjungan wisatawan terlihat dari data kunjungan pada April yang menunjukkan kenaikan. Kondisi tersebut antara lain dipengaruhi pergeseran rute perjalanan wisatawan internasional dari kawasan Timur Tengah ke Asia.

“Karena apa? Orang-orang yang tadinya terbang ke wilayah Timur Tengah, mereka membelokkan, maskapai juga memberikan banyak sekali relaksasi untuk penerbangan-penerbangan ke arah Asia (khususnya Indonesia). Nah, ini yang harus kita manfaatkan,” katanya dalam acara Gala Dinner Parents Day, di Kampus IP Trisakti, Jakarta, Jumat (19/6).

Baca Juga: Prediksi Skor Skotlandia vs Maroko di Piala Dunia 2026: Tugas Scott McTominay Redam Amukan Singa Atlas

Novita juga menilai berbagai insentif yang diberikan pemerintah, termasuk relaksasi pada tiket pesawat, turut membantu menjaga minat masyarakat untuk bepergian.

“Iya, kemarin kan dikurangin ya (PPh), walaupun surcharge untuk fuel-nya atau bensin avtur-nya naik gitu ya, tapi ini masih ada relaksasi dan orang masih banyak yang bepergian. Mereka butuh untuk hiburan, wisata, healing, dan sebagainya,” ucapnya.

Ia optimistis kinerja sektor pariwisata pada triwulan kedua dan ketiga tahun ini masih berpotensi meningkat. “Insyaallah. Kalau pemerintah bisa berharap mendinginkan suasana dan kita bisa terus menggalakkan pariwisata Indonesia menjadi lebih baik lagi. Itu,” tuturnya.

Butuh Banyak SDM Pariwisata

Lebih lanjut, Novita menegaskan bahwa industri pariwisata saat ini telah menjadi salah satu sektor strategis nasional. Kebutuhan akan sumber daya manusia (SDM) pariwisata juga tidak hanya terbatas pada sektor perhotelan. Berbagai subsektor lain seperti transportasi, pengelolaan destinasi wisata hingga operator perjalanan juga membutuhkan tenaga profesional yang memahami industri pariwisata.

Baca Juga: Playdate dengan Sesame Street saat Libur Sekolah, Berimajinasi Bersama Teman dan Keluarga

“Karena apa? Sektor pariwisata tidak kita hanya mengenal tentang hotel, tapi bagaimana mulai berpikir orang untuk pergi ke suatu tempat menikmati destinasi wisata, itu butuh SDM pariwisata. Jadi career path-nya ke depannya pun juga terbuka luas,” jelasnya.

Novita menambahkan, peluang kerja di sektor pariwisata masih sangat besar dan banyak yang belum terisi. Salah satu contohnya adalah kebutuhan tenaga pendamping perjalanan umrah bagi jamaah Indonesia.

“Indonesia ini salah satu penyumbang kuota umrah ke Timur Tengah, terutama ke Mekkah, Arab Saudi, ya. Katakanlah kalau 45 juta masyarakat Indonesia bepergian umrah, mereka membutuhkan tour leader dari Indonesia, pendamping mutawif,” ujarnya.

EDITOR: Bintang Pradewo