← Beranda
Wamentan Ungkap Ubi Jalar Bisa Jadi Harta Karun Pangan Indonesia
Dimas ChoirulSelasa, 16 Juni 2026 | 17.38 WIB
Wakil Menteri Pertanian (Mentan) Sudaryono/(Istimewa)

JawaPos.com – Kementerian Pertanian (Kementan) terus mendorong pengembangan komoditas ubi jalar sebagai salah satu sumber pangan strategis nasional. 

Menurut beliau ubi jalar memiliki potensi besar untuk meningkatkan ketahanan pangan, kesejahteraan petani, dan pengembangan agribisnis berbasis komoditas lokal.

Dalam forum tersebut, Sudaryono menegaskan Kementan siap mendukung pengembangan varietas unggul hingga perluasan budidaya ubi jalar di berbagai daerah.

"Kami sangat mendukung pengembangan ubi jalar. Mau ditanam di mana dan berapa luas pengembangannya, kami siap mendukung. Ubi jalar ini komoditas yang luar biasa karena dapat tumbuh di berbagai kondisi lahan, termasuk lahan marjinal, sehingga potensinya sangat besar untuk dikembangkan sebagai sumber pangan," ujar Sudaryono, Senin (15/6). 

Menurut Sudaryono, luas tanam ubi jalar nasional pada tahun 2026 mencapai sekitar 70 ribu hektare dengan produktivitas rata-rata 26 ton per hektare.

Pemerintah akan terus berupaya meningkatkan produktivitas dan pengembangan komoditas tersebut melalui dukungan teknologi, benih unggul, serta pendampingan kepada petani.

“Produksi ubi jalar harus terus kita tingkatkan. Saat ini luas tanamnya sekitar 70 ribu hektare dengan produktivitas 26 ton per hektare dan akan terus kita dorong agar berkembang lebih besar lagi,” ujar Sudaryono.

Ia menjelaskan Kementan memiliki berbagai fasilitas pendukung pengembangan komoditas umbi-umbian, termasuk balai pengembangan umbi di Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, yang selama ini menjadi salah satu pusat pengembangan dan penyediaan teknologi budidaya.

Selain itu, Kementan juga telah memiliki berbagai varietas ubi jalar yang terdaftar dan dilepas secara resmi untuk mendukung kebutuhan petani.

Karena itu, Wamentan Sudaryono mendorong agar hasil-hasil penelitian perguruan tinggi yang memiliki potensi unggul dapat segera menyelesaikan proses pelepasan varietas sehingga dapat dimanfaatkan secara lebih luas.

“Kami siap menindaklanjuti hasil riset yang dikembangkan perguruan tinggi. Kalau varietasnya sudah dilepas secara resmi, Kementan dapat mendukung pengadaan benih dan pengembangannya di lapangan,” katanya.

Sudaryono mengungkapkan bahwa Kementan sebenarnya telah menyiapkan program pengembangan ubi jalar seluas 295 hektare di Kabupaten Kuningan, Jawa Barat.

Program tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat diversifikasi pangan nasional sekaligus membuka peluang pengembangan komoditas bernilai ekonomi tinggi bagi petani.

Meski saat ini fokus utama pengembangan komoditas umbi berada pada singkong untuk mendukung program bioenergi nasional, Wamentan Sudaryono menegaskan ubi jalar tetap memiliki peran penting sebagai sumber pangan masa depan yang perlu terus dikembangkan.

“Ubi jalar memiliki potensi besar sebagai sumber pangan. Komoditas ini dapat tumbuh di berbagai kondisi lahan, termasuk lahan marjinal, sehingga peluang pengembangannya sangat luas,” jelasnya.

Menurutnya, tantangan utama dalam pengembangan ubi jalar bukan terletak pada ketersediaan lahan, sumber daya manusia, maupun teknologi budidaya, melainkan pada penyediaan benih atau bibit unggul yang memadai.

Dukung Pengembangan Skala Besar

Percepatan pelepasan varietas hasil penelitian menjadi langkah penting untuk mendukung perluasan pengembangan komoditas tersebut.

“Kami siap mendukung pengembangannya dalam skala besar. Yang paling penting adalah memastikan ketersediaan bibit unggul agar petani memiliki akses terhadap varietas yang produktif dan sesuai kebutuhan pasar,” tegasnya.

Pada kesempatan yang sama, Wamentan Sudaryono juga menegaskan bahwa berbagai program pembangunan pertanian yang dijalankan pemerintah, termasuk program cetak sawah di Merauke, bertujuan meningkatkan produktivitas lahan dan kesejahteraan masyarakat.

Menurutnya, program tersebut tidak mengambil alih kepemilikan lahan masyarakat, melainkan membantu mengubah lahan yang sebelumnya tidak produktif menjadi sumber pendapatan bagi petani.

“Negara hadir memberikan bantuan agar lahan yang sebelumnya tidak produktif dapat menjadi lahan pertanian yang menghasilkan. Kepemilikan lahan tetap berada di tangan masyarakat. Dengan dukungan infrastruktur dan irigasi, lahan tersebut bahkan dapat ditanami hingga dua sampai tiga kali dalam setahun sehingga meningkatkan pendapatan petani,” ungkapnya.

EDITOR: Dony Lesmana Eko Putra