← Beranda
Harga Minyak Mentah Kembali Naik, Pasar Cermati Pemulihan Pasokan Global
Djati WaluyoSelasa, 16 Juni 2026 | 15.41 WIB
Ilustrasi minyak mentah dunia.

JawaPos.com - Harga minyak kembali naik pada perdagangan Selasa (16/6), setelah sempat jatuh cukup dalam pada perdagangan Senin (15/6). Pergerakan tersebut terjadi karena pelaku pasar mulai mempertanyakan seberapa cepat pasokan minyak global akan pulih.

Berdasarkan Investing pada Selasa (16/6) harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) naik sebesar 0,3 persen menjadi USD 81,06 per barel dan kontrak berjangka Brent turun tipis sebesar 0,1 persen persen menjadi USD 83,38.

Berdasarkan Reuters, AS dan Iran yang dimediatori oleh Pakistan akan menandatangani nota kesepahaman di Swiss pada hari Jumat. Trump mengatakan pada hari Minggu (14/6) bahwa Selat Hormuz akan dibuka kembali tanpa biaya dan bahwa blokade angkatan laut AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran juga akan diakhiri.

Baca Juga: Bos Maktour Fuad Hasan Kembali Mangkir dari Pemeriksaan Dugaan Korupsi Kuota Haji, KPK Minta Bukti

"Premi risiko geopolitik yang sebelumnya telah terakumulasi dalam harga minyak kini sedang dilepas secara agresif karena para pelaku pasar mulai memperhitungkan kemungkinan pulihnya aliran pasokan minyak," kata Tim Waterer, Kepala Analis Pasar di KCM Trade dilansir Reuter.

Dunia telah kehilangan jutaan barel pasokan minyak dan gas sejak perang menyebabkan penutupan Selat Hormuz, yang merupakan jalur strategis bagi sekitar seperlima pasokan minyak dunia dan gas alam cair (LNG), selama lebih dari tiga bulan.

Investor juga mencermati dengan hati-hati seberapa cepat para produsen minyak di Timur Tengah dapat memulihkan produksi dan ekspor setelah kerusakan akibat perang, serta apakah lebih banyak kapal akan kembali memasuki kawasan tersebut.

"Meskipun ketidakpastian ini menunjukkan adanya risiko kenaikan terhadap perkiraan kami bahwa harga minyak Brent dapat mencapai USD 80 per barel pada akhir tahun, perlu dicatat bahwa arus minyak melalui Selat Hormuz hanya perlu kembali ke sekitar 60–70 persen dari tingkat sebelum perang untuk mengembalikan pasar minyak pada kondisi kelebihan pasokan seperti sebelum perang," kata Vivek Dhar, ahli strategi komoditas dari Commonwealth Bank of Australia, dalam sebuah catatan.

 

EDITOR: Nurul Adriyana Salbiah