← Beranda
Harga Pertamax Melejit, Mahasiswa Pilih Beralih ke Pertalite, Pegawai Khawatir Motor Rusak
Djati WaluyoSabtu, 13 Juni 2026 | 23.33 WIB
Petugas melayani pengisian bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertamax di SPBU Pertamina Menteng, Jakarta.. (Salman Toyibi/Jawa Pos)

 

JawaPos.com - Penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertamax dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter membuat masyarakat mulai melakukan evaluasi terhadap mobilitas dan pengeluaran mereka.

Sejumlah pengguna Pertamax mengaku telah mempertimbangkan untuk beralih ke Pertalite atau memanfaatkan transportasi umum jika biaya bahan bakar semakin membebani keuangan.

Akmal, 22, mengaku pengeluaran untuk bahan bakar menjadi salah satu komponen biaya yang cukup besar dalam aktivitas sehari-hari.

Pria yang masih berstatus mahasiswa ini mengatakan, biaya bensin dapat mencapai Rp 40.000 hingga Rp 45.000 dalam sekali pengisian, sedangkan total pengeluaran saat bepergian untuk keperluan nonakademik dapat mencapai Rp 100.000.

“Pasti ya, mau enggak mau sih pindah ke Pertalite. Kalau enggak urgent banget ya enggak keluar, atau enggak ya naik transum sih,” ujar Akmal kepada Jawapos.com, Sabtu (13/6).

Baca Juga: Mutu Pelayanan Jadi Ujian Transformasi Kesehatan Indonesia, Teknologi dan AI Tidak Boleh Kalahkan Kemanusiaan

Sementara itu, Krisna, 28, mengaku sebagai pegawai swasta penggunaan sepeda motor masih menjadi pilihan utama untuk menunjang aktivitas pekerjaannya sebagai pekerja lapangan. Pasalnya, dalam sehari, ia harus berpindah-pindah lokasi kerja sehingga kendaraan pribadi dinilai lebih efisien dibandingkan transportasi umum.

“Sehari-hari saya selalu mengandalkan sepeda motor untuk mobilitas karena saya pekerja lapangan, sehingga sering berpindah-pindah lokasi kerja dalam satu hari. Kalau naik transum, hal itu bakal lebih boros karena harus ada ongkos gojek dan sebagainya. Tapi kalau pakai motor sendiri lebih enak tinggal geser ke sana-sini kalau lokasi kerjanya pindah,” ujar Krisna.

Meski demikian, ia tidak menutup kemungkinan beralih ke Pertalite apabila harga Pertamax saat ini semakin menguras pengeluarannya.

“Soal pindah ke Pertalite, saya enggak mau gegabah. Saya maunya coba jalanin dulu ini, tetapi kalau misalnya memang harga Pertamax yang sekarang bikin dompet kering, ya mau enggak mau saya pindah ke Pertalite,” katanya.

Sikap serupa disampaikan Mukti, 30, pegawai swasta. Ia menilai selisih harga antara Pertamax dan Pertalite saat ini cukup besar sehingga menjadi pertimbangan tersendiri bagi konsumen.

“Selisih harganya sekarang sudah Rp 6.250 per liter antara Pertamax dan Pertalite itu sangat signifikan,” ujar Mukti.

Meski begitu, ia masih mempertimbangkan kondisi dari kendaraanya jika beralih ke Pertalite atau BBM subsidi. Menurutnya, kendaraan miliknya masih bisa menggunakan Pertalite, namun jika digunakan jangka panjang terdapat risiko akan kesehatan mesin kendaraan.

Baca Juga: Gus Rozin Tegaskan Pendanaan Pesantren Kewajiban Negara, Kiai Tebuireng Beri Dukungan

“Yang saya khawatirkan lebih ke jangka panjang apakah mesin tetap optimal karena banyak berita kurang bagus untuk bahan bakar Pertalite. Belum lagi antrean di SPBU makin panjang kalau banyak orang beralih. Sementara ini saya masih evaluasi dulu dan menyesuaikan keuangan,” ucapnya.

Sebagaimana diketahui, PT Pertamina (Persero) melalui anak usahanya PT Pertamina Patra Niaga resmi menyesuaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) non subsidi atau Pertamax Series. Pada Rabu (10/6/2026) harga Pertamax naik menjadi Rp 16.250 dari Rp 12.300.

Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, Roberth MV Dumatubun, mengatakan, penyesuaian harga ini diputuskan setelah dikoordinasikan dengan pemerintah sebagai regulator dan dilakukan sesuai mekanisme evaluasi berkala yang mempertimbangkan perkembangan harga minyak dunia serta harga pasar keekonomian.

Roberth menjelaskan, penyesuaian harga BBM non subsidi mengikuti regulasi yang berlaku dan merupakan bagian dari implementasi tata kelola energi yang bertujuan untuk menjaga keseimbangan antara keberlangsungan bisnis, kualitas layanan, dan kepastian pasokan energi bagi masyarakat.

“Penyesuaian harga Pertamax dan Pertamax Green dilakukan setelah melalui proses evaluasi sesuai formula harga yang ditetapkan pemerintah. Harga jual tersebut diputuskan dengan tetap dikoordinasikan dengan pemerintah sebagai regulator, dan menjadi bagian dari upaya menjaga keberlanjutan penyediaan energi dan distribusi BBM berkualitas bagi masyarakat terus berjalan optimal,” ujar Roberth dalam keterangan tertulis yang diterima, Rabu (10/6).

EDITOR: Sabik Aji Taufan