← Beranda
Dolar Menyala, Pedagang Warteg Merana: Pelanggan Cuma Pesan Nasi dan Telur Doang!
Dimas ChoirulSabtu, 6 Juni 2026 | 13.06 WIB
Izzudin Zidan, Pedagang Warung Tegal (Warteg) di Kawasan Puri Kembangan, Jakarta Barat. (Dok. Zidan untuk JawaPos.com)

 

JawaPos.com – Nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) yang menembus level Rp 18.000 mulai berimbas di kalangan pelaku usaha warung tegal (warteg). Tak hanya omzet yang menyusut, pelanggan warteg kini juga semakin berhemat dengan memilih menu makan yang lebih murah dan mengurangi jumlah lauk yang dibeli.

Salah satunya dirasakan oleh Izzudin Zidan, pedagang warteg di kawasan Puri Kembangan, Kembangan, Jakarta Barat. 

Zidan, sapaan akrabnya, menilai kenaikan nilai tukar dolar AS terhadap rupiah beberapa pekan terakhir ini sudah beimbas terhadap penurunan omzet.

Zidan bilang, para pelanggan yang biasanya membeli berbagai macam lauk dan sayur, kini membatasi anggaran makan dengan rata-rata maksimal Rp 20.000 alias mulai berhemat.

"Pelanggan yang biasa pesan dua menu ayam dan telor, sama sayur, sekarang pelanggan cuma satu menu, paling hanya nasi dan telor (tanpa sayur) doang," kata Zidan kepada JawaPos.com, Jumat (5/6).

Lebih parahnya lagi, lanjut Zidan, pelanggan yang makan di warungnya kini menurun hingga 50 persen dari sebelumnya. Padahal, lokasi warteg milik Zidan cukup strategis karena berada di kawasan perkantoran.

"Kalau lagi ramai biasanya 150 orang lebih tuh, sekarang paling 70, 75 orang aja," terangnya.

Rentan Kenaikan Harga Bahan Pokok

Dikatakan Zidan, usaha warteg merupakan jenis usaha yang sangat sensitif terhadap kenaikan harga bahan baku. Adanya pelemahan rupiah, lanjut dia, membuat harga berbagai barang berbasis impor ikut terdorong naik dan akhirnya berdampak ke pasar domestik.

"Warteg adalah lini usaha yang sangat sensitif terhadap harga bahan baku. Pelemahan rupiah memicu kenaikan harga-harga barang berbasis impor dan rantai pasok global, yang kemudian merembet ke pasar domestik," ujar Zidan, yang juga menjadi Ketua Komunitas Warteg Merah-Putih (Kowarmat) itu.

Karena itu, dirinya terus memantau perkembangan ekonomi, termasuk pergerakan nilai tukar dolar yang dikhawatirkan akan mengganggu operasional wartegnya.

"Dampaknya sangat signifikan bagi warteg, kami tetap waspada terhadap kemungkinan kenaikan harga bahan baku yang dapat memengaruhi biaya operasional," ujar Zidan.

Ia berharap pemerintah dapat menjaga stabilitas harga kebutuhan pokok dan memperkuat perlindungan bagi pelaku usaha mikro agar tetap mampu bertahan di tengah dinamika ekonomi global.

Zidan juga mengimbau para pelaku warteg untuk terus melakukan efisiensi usaha dan menjaga kualitas pelayanan kepada pelanggan agar daya saing usaha tetap terjaga.

"Kami optimistis warteg tetap mampu bertahan karena memiliki basis pelanggan yang kuat dan menjadi bagian penting dalam penyediaan makanan terjangkau bagi masyarakat," pungkasnya.

EDITOR: Estu Suryowati