← Beranda
Perhutani Perkuat Bisnis Kopi Berbasis Kelestarian Hutan, Libatkan Puluhan Ribu Petani
Dimas ChoirulRabu, 3 Juni 2026 | 18.00 WIB
Pengembangan budidaya kopi di areal kawasan hutan Perhutani yang dikelola bersama masyarakat  dengan luas mencapai 43.143 hektare dan tersebar di 32 Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH). (Istimewa).

JawaPos.com - Di tengah meningkatnya minat masyarakat dunia terhadap kopi berkualitas, Perum Perhutani memperkuat perannya sebagai penghasil kopi yang mengedepankan prinsip keberlanjutan lingkungan. Upaya tersebut dilakukan dengan mengoptimalkan pemanfaatan kawasan hutan produktif melalui pola agroforestry yang tidak hanya menjaga kelestarian hutan, tetapi juga mendorong perekonomian masyarakat sekitar.

Sebagai BUMN yang bergerak di bidang kehutanan, Perhutani memandang tren konsumsi kopi global bukan sekadar peluang pasar. Perusahaan melihat komoditas ini sebagai sarana untuk menggabungkan kepentingan pelestarian lingkungan dengan pengembangan ekonomi hijau.

Melalui pengelolaan hutan bersama masyarakat, budidaya kopi menjadi salah satu cara menjaga tutupan hutan tetap lestari sekaligus membuka sumber penghasilan bagi warga desa hutan.

Direktur Utama Perum Perhutani Tio Handoko mengatakan, pengembangan kopi di bawah tegakan hutan merupakan bentuk nyata penerapan prinsip pembangunan berkelanjutan yang menyeimbangkan aspek lingkungan, sosial, dan ekonomi.

“Kopi telah menjadi komoditas global yang digemari masyarakat dunia. Perhutani hadir memastikan bahwa setiap cangkir kopi yang dinikmati masyarakat, lahir dari sistem kelola hutan yang lestari. Lewat skema agroforestry, kita membuktikan bahwa perlindungan hutan dan peningkatan ekonomi masyarakat desa tidak harus saling mengorbankan, melainkan bisa berjalan beriringan,” ujarnya.

Baca Juga: Komitmen Lindungi Hutan, Perhutani Tanam 357 Juta Bibit Pohon Jaga Kelestarian Alam

Data Perhutani menunjukkan, hingga saat ini areal tanaman kopi di kawasan hutan yang dikelolanya mencapai 43.143 hektare dan tersebar di 32 Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH).

Wilayah Jawa Timur menjadi sentra terbesar dengan luas mencapai 30.365 hektare. Sementara itu, Jawa Barat dan Banten memiliki areal kopi seluas 7.124 hektare, sedangkan Jawa Tengah mencapai 5.685 hektare.

Dari kawasan tersebut, total produksi kopi tercatat mencapai 9.365 ton dengan produktivitas rata-rata sekitar 197 kilogram per hektare. Pengembangan komoditas ini melibatkan 518 Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) dan sedikitnya 75.872 petani hutan yang menggantungkan sebagian penghasilan keluarganya dari sektor kopi.

Menurut Tio, keterlibatan masyarakat dalam budidaya kopi juga berperan penting dalam menjaga kelestarian kawasan hutan. Semakin besar manfaat ekonomi yang dirasakan masyarakat, semakin tinggi pula kepedulian mereka terhadap keberlangsungan hutan.

“Ketika masyarakat merasakan langsung manfaat ekonomi dari pohon yang tegak berdiri, mereka akan ikut menjaga kelestarian hutan tersebut dengan sukarela. Potensi ekonomi kopi inilah yang terus kita dorong agar naik kelas, bertransformasi ke kelembagaan yang lebih kuat seperti koperasi, dan mampu menembus pasar yang lebih luas dengan tetap membawa narasi perlindungan lingkungan,” tambahnya.

Ke depan, Perhutani berkomitmen memperluas dampak positif program agroforestry kopi sebagai bagian dari strategi perusahaan dalam mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs). Program ini diharapkan dapat berkontribusi pada pengentasan kemiskinan, penciptaan lapangan kerja yang layak, serta upaya mitigasi perubahan iklim melalui pelestarian ekosistem daratan di Pulau Jawa dan Madura.

EDITOR: Mohamad Nur Asikin