← Beranda
Pakar Tenaga Listrik ITB: Faktor Cuaca Diduga Picu Blackout Sumatra
Nanda Prayoga• Sabtu, 30 Mei 2026 | 06.56 WIB
Kondisi listrik padam di Jalan Soebrantas Panam Pekanbaru, Jumat (22/5/2026).(EVAN GUNANZAR/RIAUPOS.CO)

JawaPos.com - Pengamat sistem tenaga listrik Institut Teknologi Bandung (ITB) Djoko Darwanto menilai faktor cuaca memiliki peran besar dalam peristiwa pemadaman massal atau blackout di Sumatra pekan lalu.
Menurutnya, ada tekanan mekanis akibat angin kencang pada jaringan transmisi, terutama di titik sambungan kabel atau mid span jointing.

“Kalau melihat pola gangguan yang disampaikan dan titik kerusakannya berada di sambungan kabel, maka faktor cuaca sangat mungkin berkontribusi dalam peristiwa ini,” ujarnya.

Sebelumnya, hasil investigasi awal gabungan Bareskrim, Puslabfor, dan PLN menyebut terdapat tiga kemungkinan penyebab putusnya kabel transmisi, yakni stress thermal akibat cuaca, faktor pada area sambungan, serta tekanan mekanis akibat beban dan pengaruh angin.

Baca Juga: Ferrari Luce Dihujat Habis-habisan, Eks Bos Ferrari Sampai Minta Logo Kuda Jingkrak Dicopot

Menurut Djoko, masyarakat kerap menilai kondisi cuaca dari apa yang dirasakan di permukaan tanah. Padahal, pada ketinggian konduktor transmisi, kecepatan angin dapat jauh lebih besar dan memicu osilasi kabel secara terus-menerus.

“Di bawah mungkin terasa tidak ekstrem, tetapi di area konduktor, angin bisa cukup kuat untuk menyebabkan kabel bergerak dan saling menarik. Kondisi itu dapat memunculkan tekanan berulang pada kabel,” katanya.

Ia menjelaskan, pergerakan berulang akibat terpaan angin dapat menambah tekanan pada area sambungan kabel, terutama ketika sistem sedang menerima beban tinggi.

Terlebih, titik yang mengalami putus diketahui berada pada area mid span jointing atau sambungan di tengah bentangan kabel transmisi. Area tersebut merupakan lokasi penyatuan dua konduktor yang disambung menggunakan metode dan pelindung khusus.

Baca Juga: Ini Spesifikasi Luce, Mobil Listrik Pertama Ferrari yang Panen Hujatan

Menurutnya, titik sambungan memang menjadi salah satu area yang paling diperhatikan dalam sistem transmisi karena menerima kombinasi pengaruh getaran, perubahan temperatur, serta distribusi tekanan ketika kabel bergerak akibat angin.

“Pada area sambungan, distribusi tekanannya berbeda dibanding bagian kabel utuh. Karena itu area ini menjadi salah satu titik yang paling diperhatikan dalam sistem transmisi,” ujarnya.

Ia juga menilai hasil inspeksi thermal sebelumnya yang menunjukkan kondisi kabel masih normal tidak otomatis bertentangan dengan terjadinya blackout.

Sebab, gangguan akibat kombinasi cuaca, getaran, dan tekanan mekanis tidak selalu memunculkan indikasi awal yang mudah terdeteksi, termasuk melalui inspeksi thermal rutin menggunakan drone.

“Kalau sebelumnya hasil drone thermal menunjukkan normal, itu masih sangat mungkin terjadi. Ada kondisi tertentu yang baru muncul ketika sistem sedang menerima tekanan saat operasi berlangsung,” katanya.

Dalam konferensi pers investigasi, aparat turut memperlihatkan potongan kabel yang menjadi sampel barang bukti untuk pengujian laboratorium. Sampel tersebut diambil dari titik kabel yang mengalami kerusakan untuk dianalisis lebih lanjut, karena pengujian laboratorium dilakukan terhadap bagian kabel yang mengalami gangguan.

Baca Juga: Reza Arya Pratama Makin Dekat Gabung Persebaya Surabaya, Simak Performanya Bersama PSM Makassar 

Menurut Djoko, dalam sistem interkoneksi besar seperti Sumatra, gangguan pada satu jalur transmisi strategis dapat dengan cepat berkembang menjadi gangguan berantai.

Hal itu terjadi karena pembangkit listrik secara otomatis akan melepaskan diri dari sistem ketika frekuensi jaringan turun drastis untuk melindungi peralatan.

“Begitu frekuensi terganggu, proteksi bekerja otomatis dan pembangkit bisa trip berantai,” ujarnya.

Menurutnya, mekanisme proteksi tersebut merupakan standar dalam sistem ketenagalistrikan untuk menjaga peralatan pembangkit dan jaringan dari risiko kerusakan yang lebih besar.

EDITOR: Bintang Pradewo