← Beranda
Mentan: Pertanian Jadi Bantalan Ekonomi Nasional Di Tengah Penguatan Dolar
Dimas ChoirulRabu, 20 Mei 2026 | 03.28 WIB
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman/(Istimewa)

JawaPos.com — Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa, di tengah ketidakpastian global, pertanian justru menjadi bantalan ekonomi nasional melalui peningkatan produksi dan lonjakan ekspor.

Meskipun berpengaruh terhadap beberapa komoditas impor seperti kedelai dan bawang putih, namun secara keseluruhan sektor pertanian nasional berada dalam kondisi kuat karena mayoritas kebutuhan pangan dipenuhi dari produksi dalam negeri.

“Dampak ada, beli BBM, tetapi ingat BBM subsidi kan tidak naik. Pupuk turun. Itulah yang dimaksud Bapak Presiden bahwa ada dampaknya, iya, tetapi dampak positifnya khususnya di desa, dampak positifnya jauh lebih tinggi,” kata Amran dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa (19/5).

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), nilai ekspor sektor pertanian Januari-Desember 2025 sebesar Rp756,59 triliun meningkat hingga Rp166 triliun, sementara impor turun sekitar Rp41 triliun.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pertanian kini menjadi bantalan utama ekonomi nasional di tengah ketidakpastian global.

“Ekspor kita naik Rp166 triliun, impornya turun Rp41 triliun. Ini data BPS, boleh dicek,” ujarnya.

Menurut Amran, yang paling penting adalah kebutuhan dasar masyarakat Indonesia sesungguhnya tersedia di desa.

Beras berasal dari sawah petani, telur dan ayam dipasok peternakan rakyat, cabai dan bawang berasal dari kebun petani, sementara energi nasional juga ditopang sawit Indonesia.

Sebab itu, ketika dolar menguat, masyarakat tidak otomatis panik karena Indonesia memiliki kekuatan pangan domestik yang besar sebagai penyangga ketahanan nasional.

“Desa adalah pertanian. Dampak positifnya jauh lebih tinggi,” tegasnya.

Selain beras, Indonesia juga memiliki banyak sumber pangan alternatif sebagai substitusi komoditas impor, mulai dari singkong, sagu, jagung, sorgum, pisang, hingga berbagai umbi-umbian lokal yang selama ini menjadi kekuatan pangan nasional.

Pemerintah menilai kondisi Indonesia saat ini sangat berbeda dibandingkan krisis 1997–1998. Saat itu, stok beras pemerintah pada Februari 1998 hanya sebesar 893 ribu ton di tengah El Nino dan gagal panen. Akibatnya pemerintah mengimpor besar-besaran saat nilai tukar rupiah anjlok tajam dan inflasi meledak di atas 70 persen.

Namun kini, kondisinya berbalik. Cadangan beras pemerintah telah menembus lebih dari 5 juta ton, produksi nasional surplus, dan impor beras medium praktis dihentikan. Pemerintah menilai kondisi tersebut menjadi fondasi kuat menghadapi gejolak global.

“Sekarang setiap ada krisis apa pun kondisi apa pun pasti ada plus minus. Sekarang di mana kecerdasan kita
memanfaatkan situasi ini. Katakanlah bawang putih ada pengaruhnya, tetapi berapa komoditas kita ekspor,” terangnya.

 

EDITOR: Dony Lesmana Eko Putra