JawaPos.com — Aroma bawang goreng menguar dari dapur produksi di wilayah Rajagaluh, Kecamatan Sindangwengi, Kabupaten Majalengka. Aktivitas di dalamnya tampak sibuk sekali: ada yang mengupas, mengiris, hingga menggoreng bawang merah.
Dari sebuah dapur rumahan inilah Umi Yuhana, 45 tahun, membangun bisnis Bawang Goreng Rajagaluh “Bagora”. Usaha yang Ia rintis sejak 2016 ini bukan sekadar mencari untung, tetapi juga memberi ruang pemberdayaan bagi perempuan di sekitarnya.
Umi bercerita, usaha ini berawal dari melihat potensi bawang merah lokal varietas Sumenep yang banyak ditanam di kaki Gunung Ciremai. Saat itu, pengolahan bawang masih dilakukan secara tradisional dan belum maksimal.
Dari situlah ia mulai bereksperimen hingga menemukan kualitas bawang goreng yang renyah, tidak berminyak, dan berwarna kuning keemasan.
Perjalanan usahanya kemudian mendapat titik balik saat produknya dilirik oleh pihak BNI. Ia pun diajak bergabung menjadi UMKM binaan dan mulai mendapatkan berbagai dukungan, terutama dalam bentuk promosi melalui pameran dan event.
“Mulai bergabung (UMKM Binaan BNI) 5 tahunan yang lalu ya,” ujarnya kepada Jawapos.com, Selasa (5/5).
Baca Juga: Kisah Rafi Ridwan, Desainer Disabilitas yang Kembangkan Usaha Fesyen Lewat Dukungan BNI
Umi mengaku dukungan dari BNI berdampak pada peningkatan kapasitas produksi dan perluasan pasar. Produk Bagora semakin dikenal, termasuk di kalangan instansi pemerintah yang kerap menjadi lokasi pameran. Bahkan, membuat pelanggan kembali membeli karena sudah familiar dengan produknya.
"Alhamdulillah ya setelah dibina dari Bank BNI itu untuk penjualan, terus kapasitas produksi juga alhamdulillah meningkat. Promosi juga saya dibawa event-event," aku ibu dari dua anak ini.
Berdayakan Kaum Perempuan
Di balik pertumbuhan usaha tersebut, Umi justru menaruh perhatian besar pada aspek sosial. Ia mempekerjakan sekitar 12 karyawan yang mayoritas adalah perempuan, termasuk ibu rumah tangga dan janda yang membutuhkan tambahan penghasilan.
“Iya, soalnya kan kebanyakan dari saya itu pegawai itu kan semua perempuan, ibu-ibu rumah tangga, ibu-ibu muda gitu mereka itu masih butuh uang tambahan,” tuturnya.
Tak hanya itu, ia juga melibatkan pekerja lansia dalam proses produksi, khususnya untuk pekerjaan mengupas bawang yang bisa dilakukan dari rumah. Dengan sistem ini, para pekerja tetap bisa menjalankan peran domestik sembari bekerja.
“Tua kayaknya 60 tahun eh 65 tahun hampir 70 ada… jadi bisa sambil masak, sambil momong cucu,” katanya.
Di tengah tantangan ekonomi dan penurunan produksi akibat faktor cuaca dalam dua tahun terakhir, Umi tetap mempertahankan seluruh karyawannya. Alih-alih melakukan pemutusan kerja, ia memilih menerapkan sistem shift agar beban kerja tetap terbagi.
Langkah tersebut menunjukkan komitmennya dalam menjaga keberlangsungan ekonomi para pekerja, sekaligus membuktikan bahwa UMKM tidak hanya berorientasi pada keuntungan, tetapi juga memiliki peran sosial yang kuat.
Ke depan, Umi berharap dukungan dari BNI dapat semakin diperluas, terutama dalam bentuk pelatihan, akses sertifikasi, hingga pembukaan pasar ekspor. "Biar UMKM seperti saya bisa lebih naik kelas lagi gitu," pungkasnya, tersenyum.