JawaPos.com – Badan Pusat Statistik (BPS) merilis Indeks Harga Konsumen (IHK) pada bulan April 2026 mengalami inflasi sebesar 0,13 persen secara bulanan atau Month-to-Month (mtm) atau dibandingkan Maret 2026. Sedangkan inflasi tahun kalender (Desember 2025-April 2026) tercatat sebesar 1,06 persen.
“Terjadi kenaikan IHK dari 110,95 pada Maret 2026 menjadi 111,09 pada April 2026,” ujar Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono dalam konferensi pers, Senin (4/5).
Berdasarkan kelompok pengeluaran, inflasi April 2026 yang sebesar 0,13 persen (mtm) disumbang utamanya oleh kelompok transportasi yang mengalami inflasi 0,99 persen (dengan andil 0,12 persen), serta kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran yang mengalami inflasi 0,69 persen (andil 0,07 persen).
Adapun kelompok pengeluaran penghambat inflasi April 2026 secara bulanan yakni kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya yang turun 0,99 persen (andil -0,07 persen), serta makanan, minuman dan tembakau (mamintem) yang turun 0,20 persen (andil -0,06 persen).
Berdasarkan komponen pembentuk inflasi, inflasi April 2026 yang sebesar 0,13 persen (mtm), komponen inti mengalami inflasi sebesar 0,23 persen (andil 0,15 persen), sedangkan komponen harga diatur pemerintah mengalami inflasi sebesar 0,69 persen (andil 0,13 persen). Adapun komponen harga bergejolak malah mengalami deflasi sebesar 0,88 persen (andil -0,15 persen).
“Komoditas yang dominan memberikan andil pada komponen harga diatur pemerintah adalah tarif angkutan udara, bahan bakar rumah tangga, bensin, dan sigaret kretek mesin (SKM),” jelas Ateng.
Sementara itu, komoditas yang dominan memberikan andil deflasi pada kelompok harga bergejolak antara lain daging ayam ras, cabai rawit, telur ayam ras, dan cabai merah.
Menurut sebarannya, pada April 2026 sebanyak 30 provinsi mengalami inflasi, dan 8 provinsi mengalami deflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Papua Barat sebesar 2 persen, sedangkan deflasi terdalam terjadi di Maluku sebesar 0,17 persen.
Komoditas Emas Perhiasan Redam Inflasi April
Pada April 2026, dua kelompok pengeluaran yang meredam inflasi bulanan yakni kelompok mamintem (0,20 persen) dan kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya (0,99 persen).
“Tingkat inflasi kelompok makanan, minuman, dan tembakau umumnya lebih rendah pada periode yang bertepatan dengan momen yang pasca Lebaran, seiring juga adanya normalisasi permintaan pasca HBKN (Hari Besar Keagamaan dan Nasional). Begitu pun dengan momen pasca Lebaran di tahun ini yang bertepatan dengan bulan April 2026, kelompok ini mengalami deflasi sebesar 0,20 persen dengan andil inflasi sebesar 0,06 persen,” jelas Ateng.
Beberapa komoditas yang menjadi penyumbang utama deflasi dari kelompok ini diantaranya adalah daging ayam ras, cabai rawit, telur ayam ras, dan cabai merah. Selain kelompok mamintem, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya juga meredam inflasi April 2026.
Tingkat deflasi kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya merupakan yang terdalam sejak 2020. Kelompok yang memberikan andil deflasi terdalam pada kelompok ini yaitu komoditas emas perhiasan.
“Pada April 2026, emas perhiasan mengalami deflasi cukup tinggi yaitu 3,76 persen dengan andil 0,09 persen, lebih dalam jika dibandingkan Maret 2026. Sebelumnya emas perhiasan mengalami inflasi selama 30 bulan berturut-turut atau sejak bulan September 2023 sampai dengan bulan Februari 2026,” terang Ateng.
Avtur dan BBM Nonsubsidi Pendorong Inflasi
Pada April 2026, kelompok transportasi mengalami inflasi sebesar 0,99 persen (andil 0,12 persen). Inflasi disumbang oleh kenaikan tarif angkutan udara dan harga bensin, seiring dengan meningkatnya harga avtur dan beberapa jenis BBM nonsubsidi. Sementara itu, tarif angkutan antarkota mengalami deflasi.
Inflasi April Tahun ke Tahun 2,42 Persen
BPS juga melaporkan IHK pada April 2026 mengalami inflasi tahun ke tahun atau Year-on-Year (YoY) sebesar 2,42 persen, dengan kenaikan angka IHK dari 108,47 pada April 2025 menjadi 111,09 pada April 2026.
Berdasarkan kelompok pengeluarannya, inflasi tahunan didorong oleh kelompok mamintem yang mengalami inflasi sebesar 3,06 persen (andil 0,90 persen). Adapun komoditas yang memberikan andil terbesar pada kelompok ini antara lain ikan segar, daging ayam ras, beras, minyak goreng, SKM, dan telur ayam ras.
“Kelompok pengeluaran lain yang mengalami inflasi tahun ke tahun: kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya yang mengalami inflasi 11,43 persen dan memberi andil sebesar 0,77 persen terhadap inflasi. Inflasi pada kelompok tersebut terjadi pada emas perhiasan,” jelas Ateng.
Berdasarkan komponen pembentuk inflasi, seluruh komponen mengalami inflasi. Komponen inti mengalami inflasi tahunan 2,44 persen. Komponen ini memberikan andil inflasi sebesar 1,56 persen.
“Komoditas yang dominan memberikan andil inflasi pada komponen inti terutama emas perhiasan, minyak goreng, nasi dengan lauk, dan juga biaya kuliah akademi atau berguruan tinggi,” imbuh Ateng.
Sedangkan komponen harga bergejolak mengalami inflasi tahunan sebesar 3,37 persen, dengan andil sebesar 0,56 persen. Komoditas yang dominan memberikan andil inflasi pada komponen harga bergejolak yaitu daging ayam ras, beras, dan telur ayam ras.
Komponen harga diatur pemerintah mengalami inflasi sebesar 1,53 persen, dengan andil inflasi sebesar 0,30 persen. Komoditas yang dominan memberikan andil inflasi pada komponen harga diatur pemerintah terutama yakni tarif angkutan udara, SKM, dan SKT.
“Secara tahunan, seluruh provinsi mengalami inflasi. Tertinggi di Papua Barat sebesar 5 persen, sedangkan inflasi terendah terjadi di Lampung 0,53 persen,” pungkas Ateng.