← Beranda
Danantara Genjot 13 Proyek Hilirisasi Rp 116 T, Targetkan Hemat Devisa USD 1,25 M per Tahun
AntaraJumat, 1 Mei 2026 | 00.50 WIB
Menteri Investasi dan Hilirisasi sekaligus CEO Danantara Indonesia, Rosan Roeslani. (Salman Toyibi/Jawa Pos)

 

 

JawaPos.com – Pemerintah terus mempercepat transformasi ekonomi nasional melalui penguatan hilirisasi lintas sektor. Terbaru, Presiden Prabowo Subianto meresmikan groundbreaking 13 proyek hilirisasi nasional fase II senilai Rp116 triliun di Cilacap, Jawa Tengah, Rabu (29/4).

Peresmian ini menjadi langkah strategis dalam memperkuat industrialisasi berbasis sumber daya alam sekaligus menegaskan peran Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) sebagai motor penggerak transformasi ekonomi nasional.

Menteri Investasi dan Hilirisasi yang juga CEO Danantara, Rosan Perkasa Roeslani, mengungkapkan bahwa salah satu fokus utama proyek tahap kedua ini adalah memperkuat ketahanan energi nasional.

“Dari pembangunan di Cilacap dan Dumai ini, ini akan mengurangi impor kurang lebih 1,25 miliar dolar AS per tahunnya,” ujar Rosan dalam keterangannya.

Dua proyek utama tersebut adalah pembangunan fasilitas kilang gasoline di Cilacap dan Dumai. Kehadiran kilang ini diharapkan mampu menekan ketergantungan impor bahan bakar minyak (BBM) yang selama ini masih tinggi.

Selain itu, pemerintah juga mendorong substitusi energi untuk mengurangi beban impor LPG yang saat ini mencapai sekitar 80 persen kebutuhan nasional. Salah satu langkah konkret adalah pembangunan fasilitas pengolahan batu bara menjadi Dimethyl Ether (DME) di Tanjung Enim.

“Penguatan ketahanan energi menjadi prioritas dalam proyek hilirisasi ini, khususnya untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor,” jelas Rosan.

Tak hanya sektor energi, proyek hilirisasi tahap II juga mencakup pengembangan industri strategis lainnya, mulai dari manufaktur baja nirkarat berbasis nikel di Indonesia Morowali Industrial Park, produksi slab baja karbon di Cilegon, hingga hilirisasi tembaga dan emas di Gresik.

Di sektor infrastruktur bahan baku, pemerintah juga mengembangkan produksi aspal Buton guna menekan impor aspal. Sementara di sektor pertanian, hilirisasi dilakukan melalui pengolahan sawit menjadi oleofood dan biodiesel di Sei Mangkei, serta pengolahan kelapa dan pala di Maluku Tengah.

Presiden Prabowo dalam sambutannya menegaskan bahwa hilirisasi merupakan fondasi utama menuju kemakmuran nasional.

“Hilirisasi adalah jalan satu-satunya untuk kita bisa lebih makmur,” tegasnya.

Menurut Rosan, langkah ini juga menandai perubahan paradigma dalam pengelolaan kekayaan negara. Danantara tidak lagi berfungsi sebagai sovereign wealth fund (SWF) pasif, melainkan menjadi instrumen strategis yang terintegrasi dengan kebijakan industrialisasi nasional.

“Kami akan melakukan ini sebagai awal dari lompatan besar Indonesia sebagai bangsa yang tidak hanya kaya sumber daya alam, tetapi juga berdaulat dalam pengolahannya,” ujarnya.

Secara global, tren serupa mulai diadopsi sejumlah negara. Perdana Menteri Kanada Mark Carney, misalnya, baru-baru ini mengumumkan pembentukan sovereign wealth fund “Canada Strong Fund” untuk membiayai proyek strategis nasional. Amerika Serikat dan Inggris juga tengah memperkuat peran SWF mereka dalam mendukung pertumbuhan ekonomi jangka panjang dan transisi energi.

Namun, Indonesia dinilai selangkah lebih maju karena telah mengintegrasikan SWF secara langsung ke dalam agenda hilirisasi nasional yang konkret.

Hingga saat ini, nilai investasi proyek strategis nasional di bawah koordinasi Danantara telah mencapai USD 26 miliar. Pembangunan 13 proyek tahap II ini merupakan lanjutan dari fase pertama yang dimulai pada Februari lalu di 11 lokasi berbeda.

Ke depan, pemerintah menargetkan total 30 proyek hilirisasi dalam tiga tahap. Dengan langkah ini, Indonesia diharapkan tidak hanya menjadi pemasok bahan mentah, tetapi juga pemain utama dalam rantai nilai industri global.

EDITOR: Dinarsa Kurniawan