JawaPos.com–Di tengah tekanan ekonomi dan ketidakpastian pendapatan, akses terhadap pembiayaan mikro semakin menjadi penopang penting bagi rumah tangga dan pelaku usaha kecil.
Skema pendanaan yang cepat dan fleksibel dinilai mampu menjaga keberlangsungan usaha sekaligus membantu memenuhi kebutuhan mendesak. Terutama bagi pekerja sektor informal yang mengandalkan penghasilan harian.
Kondisi ini tercermin dari meningkatnya penyaluran pembiayaan kepada mitra UMKM dan pengemudi melalui GrabModal by OVO Finansial, yang diklaim telah melampaui Rp 6 triliun sejak diluncurkan. Lebih dari 445.000 mitra di seluruh Indonesia tercatat telah memanfaatkan akses pendanaan tersebut.
Baca Juga: Sistem Digitalisasi Bansos Capai 80 persen, Uji Coba Menyasar 42 kabupaten/kota
Skema cicilan yang menyesuaikan pola pendapatan harian menjadi salah satu faktor yang mendorong pemanfaatan pembiayaan ini. Bagi pelaku usaha kecil dan pekerja mandiri, fleksibilitas tersebut membantu menjaga arus kas agar tetap stabil di tengah fluktuasi pendapatan.
Di tingkat individu, pembiayaan mikro tidak hanya digunakan untuk ekspansi usaha, tetapi juga untuk kebutuhan produktif dan mendesak. Hal ini terlihat dari pengalaman Mak Netty, mitra pengemudi GrabBike sejak 2018, yang memanfaatkan pinjaman awal sekitar Rp 2 juta untuk biaya pengobatan suaminya.
”Namun, ketika kondisi kesehatan suami semakin menurun, saya harus bekerja lebih keras lagi dan lebih aktif untuk membantu biaya pengobatannya, sekaligus untuk kebutuhan keluarga,” ujar Mak Netty.
Baca Juga: MBG Sabtu Ditiadakan, Wamenkeu Ungkap Menghemat Uang Negara Rp 1 Triliun per Hari
Selain kebutuhan kesehatan, pembiayaan juga dimanfaatkan untuk menjaga produktivitas kerja. Dia pernah menggunakan akses dana tersebut saat ponsel yang menjadi alat utamanya bekerja mengalami kerusakan, sehingga dapat segera kembali beroperasi tanpa kehilangan sumber penghasilan.
Meski kini menjadi tulang punggung keluarga, Mak Netty menilai akses pembiayaan membantu menjaga stabilitas ekonomi rumah tangga. ”Selama pekerjaannya baik dan tidak melanggar aturan, kenapa harus malu? Yang penting kita semua bisa membantu kehidupan keluarga,” kata dia.
Pemanfaatan pembiayaan untuk penguatan usaha juga terlihat pada pelaku UMKM seperti Fitri Farhatani di Serang, Banten. Setelah kehilangan tabungan Rp 120 juta akibat penipuan digital, Fitri memulai kembali usahanya dari skala kecil dengan modal Rp 200 ribu.
”Awalnya saya berharap bisa dapat Rp 50 ribu sampai Rp 100 ribu sehari, itu saja sudah Alhamdulillah. Tapi ternyata usaha ini bisa jadi harapan baru untuk keluarga kami,” ujar Fitri.
Seiring pertumbuhan usaha, Fitri mulai mengakses pembiayaan untuk meningkatkan kapasitas produksi. Pinjaman hingga Rp 10 juta digunakan untuk pengadaan peralatan dan mendukung operasional, yang pada akhirnya mempercepat pengembangan usaha.
Dari sisi ekonomi, akses terhadap pembiayaan ini berperan sebagai katalis pemulihan usaha mikro. Tidak hanya membantu menjaga likuiditas, tetapi juga membuka peluang akumulasi aset.
Baca Juga: DJP Terima Pelaporan SPT Tahunan Hampir 12 Juta per 26 April 2026
Fitri menyebut usahanya kini mampu memulihkan kondisi keuangan keluarga hingga membeli rumah secara tunai pada 2026. ”Jangan pernah takut untuk memulai. Perempuan juga harus berdaya dan percaya pada diri sendiri,” kata Fitri.
Secara lebih luas, penyaluran pembiayaan mikro ini menunjukkan peran penting inklusi keuangan dalam memperkuat ketahanan ekonomi masyarakat, khususnya di segmen UMKM dan pekerja informal. Akses yang cepat dan fleksibel memungkinkan pelaku usaha bertahan di tengah tekanan, sekaligus menciptakan peluang pertumbuhan baru.
”Boleh nangis, tapi tetap harus jalan,” ujar Mak Netty, menggambarkan bagaimana pembiayaan tidak hanya menjadi alat ekonomi, tetapi juga penopang keberlanjutan hidup di tengah ketidakpastian.
Baca Juga: Kata Maman Abdurrahman, Kenaikan Harga BBM Nonsubsidi Tak Berdampak ke UMKM