← Beranda
Mentan Proyeksikan Kopdes Merah Putih Dapat Margin Rp 50 T, Pengamat: Boleh-Boleh Saja Angka Itu Digunakan, Namanya Doa
Syahrul YunizarMinggu, 26 April 2026 | 00.42 WIB
Menteri Pertanian Amran Sulaiman (Tangkapan Layar Youtube Setpres)

 

 

JawaPos.com-Analis politik Hendro Satrio buka suara soal keterangan Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman berkaitan dengan program Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih. Menurut dia, proyeksi margin Rp 50 triliun dari memutus rantai pasok pihak ketiga atau middleman sah-sah saja. Mengingat program Kopdes Merah putih masih belum bergulir secara menyeluruh.

”Mungkin itu hitungannya menghasilkan margin Rp 50 triliun, tapi kan memang belum ada yang jalan (programnya). Karena belum ada yang jalan, ya boleh-boleh saja angka itu digunakan, namanya doa,” kata dia saat diwawancarai oleh JawaPos.com pada Sabtu (25/4).

Pria yang akrab dipanggil Hensat itu menyatakan bahwa dirinya tidak pernah meragukan komitmen pemerintah untuk memenuhi kebutuhan pangan masyarakat Indonesia. Namun demikian, pemerintah tetap harus diingatkan. Bahwa masyarakat juga berusaha sangat keras untuk hidup dan mempertahankan hidup masing-masing.

”Sehingga memang dibutuhkan sebuah komitmen yang luar biasa dalam menyediakan bahan pangan dan mempertahankan agar affordable untuk dibeli, harganya harus terjangkau,” ucap dia.

Tentu saja, Hensat berharap program Kopdes Merah Putih yang dirancang oleh pemerintah berjalan sesuai rencana. Termasuk proyeksi Mentan Amran yang sudah menghitung potensi margin Rp 50 triliun dengan memangkas rantai pasok bahan pangan. Dia percaya, jika itu dilakukan dengan baik, bukan tidak mungkin angka yang keluar dari keterangan Amran benar-benar tercapai.

”Kemarin kan kalau dari keterangan mentan tujuannya baik, memotong middleman dalam rangkaian distribusi beras misalnya. Nah ini harus segera diwujudkan. Tapi, yang paling penting ini adalah supaya middleman-middleman itu turut membantu program pemerintah,” jelasnya.

Hensat menilai hal itu harus dilakukan karena middleman tersebut sudah lama mencari makan dari rantai pasok tersebut. Apabila tiba-tiba hilang, bukan tidak mungkin mereka berontak. Para pihak ketiga itu, lanjut dia, bisa jadi tidak langsung manut apabila tidak ada kompensasi atau jalan yang diberikan oleh pemerintah berkaitan dengan periuk mereka.

”Kan susah ya, tadinya mereka makan sebagai middleman terus tiba-tiba ada Koperasi Desa Merah Putih, kecil kemungkinannya mereka langsung nurut. Kecuali ada kompensasi atau dilibatkan dalam kegiatan Koperasi Merah Putih oleh pemerintah,” ujarnya.

Diberitakan sebelumnya, rantai pasok pangan dari petani hingga konsumen akhir terlalu panjang. Hal itu memicu tingginya harga yang didapatkan konsumen. Sementara petani tidak mendapat keuntungan lebih baik. Rantai pasok yang panjang itu hanya memberikan keuntungan kepada pihak ketiga atau middleman.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengungkap bahwa untuk mempersingkat alur rantai pasok produk pangan dari petani hingga sampai ke konsumen akhir yakni lewat Koperasi Merah Putih. Dia menyebut selama ini total potensi keuntungan yang diperoleh middleman dengan rantai pasok yang panjang mencapai Rp 313,08 triliun.

”Di middleman untungnya bisa 10 persen, 20 persen, 30 persen (dari setiap tahap distribusi)," ujar Amran dalam diskusi dengan sejumlah pengamat di gudang sewa penyimpanan beras Bulog di Karawang, Jawa Barat, Kamis (23/4).

Dengan skema Koperasi Merah Putih, rantai pasok produk pertanian lebih pendek. Dari petani ke koperasi dan ke konsumen akhir.

Baca Juga: Penggunaan 58,03 Persen Dana Desa untuk Kopdes Merah Putih Disebut Sebagai Realokasi, Bukan Pemotongan

”Potensi marginnya Rp 50 triliun,” tegas Amran yang juga Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) tersebut. (*)

EDITOR: Dinarsa Kurniawan