← Beranda
Pasar Masih 'Wait and See', IHSG Diprediksi Lanjutkan Penguatan Meskipun Tipis
Agas Putra HartantoSenin, 21 Agustus 2023 | 18.34 WIB
layar yang menunjukkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta.

JawaPos.com - Sejumlah sentimen bakal memengaruhi pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG) pada pekan keempat Agustus 2023. Pelaku pasar modal masih menanti penjelasan Gubernur The Federal Reserve (The Fed) Jerome Poweell terkait arah kebijakan pekan ini. Meski ekonomi Amerika Serikat (AS) membaik, tampaknya bank sentral masih hawkish lebih lama.

Departemen Tenaga Kerja AS melaporkan jumlah warga yang mengajukan klaim baru untuk tunjangan pengangguran turun. Per 12 Agustus 2023 turun 11 ribu klaim dari pekan sebelumnya menjadi 239 ribu klaim.

Meski demikian, The Fed melihat pasar tenaga kerja masih ketat. "Hal ini dapat memperpanjang kampanye pengetatan The Fed guna mendinginkan perekonomian AS," jelas analis pasar modal Hans Kwee kepada Jawa Pos, tadi malam.

Menurut dia, pandangan bank sentral sentral AS itu tengah terbagi. Sejumlah pejabat memilih menahan suku bunga acuan pada pertemuan September mendatang setelah Biro Statistik Ketenagakerjaan AS merilis inflasi Juli sebesar 3,2 persen year-on-year (YoY).

Di sisi lain, ada yang berpendapat bahwa level inflasi saat ini masih lebih tinggi dari target dua persen. Sehingga masih sangat mungkin akan ada kenaikan 25 basis poin (bps) lebih lanjut tahun ini.

Meski demikian, Hans menilai, pendapat para pembuat kebijakan The Fed itu menunjukkan potensi soft landing perekonomian AS mulai terbentuk. Sejalan dengan perolehan pekerjaan yang berkelanjutan, pertumbuhan ekonomi, serta keyakinan bahwa inflasi akan terus menurun.

"Dengan tidak adanya katalis utama yang menggerakkan pasar, fokus pelaku pasar beralih ke pidato (Gubernur The Fed Jerome) Powell di simposium ekonomi Jackson Hole Jumat (25/8) mendatang sebagai petunjuk prospek suku bunga. Pasar memperhitungkan prospek yang lebih hawkish saat ini di tengah risiko yang muncul dari potensi kenaikan suku bunga The Fed," terang dosen Fakultas Ekonomi Bisnis Universitas Trisakti itu.

Dari Asia, pasar keuangan masih dibayangi kekhawatiran sektor properti Tiongkok menyusul masalah yang dihadapi Evergrande. Stimulus yang saat ini diberikan pemerintah dianggap masih mengecewakan pasar.

Pada Juli 2023, Evergrande membukukan kerugian gabungan sebesar USD 81 miliar selama dua tahun terakhir setelah berjuang menyelesaikan proyek dan membayar kembali pemasok serta pemberi pinjaman. Kekhawatiran pelaku pasar modal juga meningkat atas risiko gagal bayar di sektor shadow banking.

"Masalah pada ekonomi Tiongkok berpotensi menekan permintaan komoditas yang berpotensi berdampak pada ekonomi Indonesia," ujarnya.

Dari dalam negeri, sejumlah sektor diperkirakan akan mendapatkan manfaat terbesar dari APBN 2024. Saham-saham konsumer, seperti produsen makanan PT Indofood CBP Sukses Makmur, Tbk (ICBP) dan produsen makanan ringan PT Mayora Indah (MYOR).

Ada pula produsen bahan bangunan akan mendapat keuntungan dari peningkatan belanja infrastruktur, ketika biaya-biaya lebih rendah karena penurunan harga batu bara. Antara lain, produsen semen PT Indocement Tunggal Prakarsa (INTP) dan BUMN PT Semen Indonesia (SMGR) kemungkinan besar akan menjadi pemenang di sektor ini.

Perbankan, termasuk PT Bank Rakyat Indonesia (BBRI), PT Bank Negara Indonesia (BBNI) dan PT Bank Syariah Indonesia (BRIS) kemungkinan besar akan mendapat manfaat peningkatan pembiayaan investasi di perusahaan-perusahaan BUMN. Selain itu, akses pembiayaan yang lebih besar untuk masyarakat berpenghasilan rendah, usaha kecil, dan ultra mikro.

Perusahaan-perusahaan tambang dengan investasi hilir juga akan mendapatkan keuntungan dari kebijakan-kebijakan yang mendukung langkah Indonesia untuk meningkatkan rantai nilai komoditas dengan membatasi ekspor mineral mentah. Saham seperti PT Trimegah Bangun Persada (NCKL) yang sudah mengapalkan nikel sulfat pertamanya ke Tiongkok pada Juni lalu bisa jadi pilihan.

"IHSG diperkirakan konsolidasi menguat terbatas dengan support di level 6.823 sampai 6.783 dan resistance di level 6.928 hingga 7.000," pungkas Hans.

Pejabat Sementara (Pj. S) Sekretaris Perusahaan PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Kautsar Primadi Nurahmad menjelaskan, data perdagangan bursa selama periode 14-18 Agustus 2023 ditutup bervariasi. Kapitalisasi pasar bursa naik tipis 0,04 persen menjadi Rp 10.060 triliun. Rata-rata nilai transaksi harian bursa turut meningkat 12,62 persen menjadi Rp 10,700 triliun.

Hanya saja, rerata frekuensi transaksi harian selama sepekan turun 3,56 persen menjadi 1.051.405 transaksi. Begitu pula, IHSG yang melemah 0,29 persen di level 6.859,912 dari 6.879,979 pada pekan sebelumnya.

"Investor asing pada perdaganga Jumat (18/8) mencatatkan nilai jual bersih Rp 258,20 miliar dan sepanjang 2023 investor asing mencatatkan nilai beli bersih sebesar Rp 3,64 triliun," tandasnya.

EDITOR: Estu Suryowati