JawaPos.com - Persaingan usaha yang semakin ketat membuat pelaku UMKM tidak lagi cukup hanya mengandalkan produk dan harga. Ketika pilihan konsumen semakin beragam dan perilaku belanja berubah, kemampuan membaca pasar, mengatur keuangan, memanfaatkan teknologi, serta menjaga efisiensi usaha menjadi semakin penting untuk mempertahankan bisnis.
Kondisi tersebut menjadi salah satu perhatian dalam rangkaian 'Teras Perwira' yang digelar di 10 kota di Indonesia. Kegiatan yang berlangsung sepanjang Agustus hingga awal September itu menjangkau sekitar 1.400 pelaku usaha.
Rangkaian tersebut berlangsung di Medan, Bandung, Palembang, Semarang, Yogyakarta, Surabaya, Denpasar, Makassar, Balikpapan, dan Jakarta. Kegiatan digelar bertepatan dengan momentum Hari UMKM Nasional pada 12 Agustus serta Bulan Literasi Keuangan 2026.
Fokus pembekalan diarahkan pada persoalan yang semakin dekat dengan keseharian UMKM, mulai dari bagaimana produk lebih mudah ditemukan konsumen, bagaimana menentukan harga jual secara tepat, hingga bagaimana membaca peluang pasar dan mengelola kebutuhan keuangan.
Tantangan UMKM Bukan Lagi sekadar Cari Pembeli
Perubahan perilaku konsumen membuat persaingan antarusaha semakin dinamis. Produk yang sebelumnya mudah mendapatkan pelanggan kini harus bersaing dengan lebih banyak pilihan.
Konsumen juga semakin leluasa membandingkan harga, menu, promosi, hingga pengalaman pelanggan sebelum mengambil keputusan.
Situasi tersebut membuat kemampuan membaca tren konsumen menjadi semakin penting. Pelaku usaha juga perlu memahami biaya operasional agar peningkatan transaksi tidak justru diikuti margin keuntungan yang semakin tipis.
Melalui sesi workshop bisnis, pelaku UMKM mendapat pembekalan mengenai pemasaran digital, penghitungan Harga Pokok Penjualan (HPP), biaya layanan dan komisi promosi, pemanfaatan data, hingga teknologi kecerdasan buatan untuk membantu memahami performa usaha.
Roy Nugroho, Director of Commercial, Grab Indonesia, mengatakan merchant perlu beradaptasi dengan perubahan pilihan konsumen.
“Di tengah semakin beragamnya pilihan konsumen, tantangan bagi merchant bukan hanya menghadirkan produk yang relevan, tetapi juga memastikan produk tersebut mudah ditemukan dan menjangkau konsumen yang tepat," kata Roy melalui keterangannya.
Menurut dia, pemahaman terhadap tren dan perilaku konsumen perlu berjalan bersama dengan pemanfaatan data dan teknologi.
Salah Hitung Harga, Keuntungan Tergerus
Salah satu persoalan penting dalam pengelolaan UMKM adalah menentukan harga jual. Kesalahan menghitung biaya produksi maupun biaya pendukung dapat membuat harga terlihat kompetitif, tetapi keuntungan yang tersisa justru terlalu kecil.
Karena itu, pelaku usaha perlu memahami HPP sekaligus memperhitungkan berbagai biaya ketika menjual produk melalui kanal digital.
Persoalan ini menjadi semakin penting ketika UMKM menggunakan promosi untuk menarik pelanggan. Diskon yang tidak dihitung secara cermat memang dapat meningkatkan transaksi, tetapi belum tentu memberikan keuntungan yang sehat.
Artinya, pertumbuhan usaha tidak cukup diukur dari banyaknya pesanan. Pelaku UMKM juga perlu mengetahui berapa biaya yang dikeluarkan untuk mendapatkan pelanggan dan berapa margin yang tersisa setelah seluruh biaya diperhitungkan.
Untungnya, teknologi kini tidak hanya digunakan untuk memasarkan produk, tetapi juga mulai dimanfaatkan untuk membantu pelaku usaha mengambil keputusan.
Pemanfaatan data penjualan dan perangkat berbasis kecerdasan buatan dapat membantu merchant memahami performa toko, mencari inspirasi produk, hingga menyusun strategi promosi.
Bagi UMKM, pendekatan berbasis data dapat menjadi alternatif untuk mengurangi keputusan yang semata-mata mengandalkan perkiraan.
Pengalaman Adli Abu Abdillah, pemilik Geprek Yuksss di Makassar, menunjukkan bagaimana strategi pemasaran digital dapat dikombinasikan dengan inovasi produk.
“Di tengah persaingan bisnis kuliner yang makin ketat, kami harus terus berinovasi agar tetap menjadi pilihan utama konsumen," ucapnya.
Adli mengatakan usahanya sempat mencari cara untuk mendapatkan lebih banyak pelanggan sebelum kemudian mengembangkan strategi promosi dan inovasi menu.
Salah satunya dilakukan dengan mengembangkan menu yang sudah ada serta membuat produk bundling melalui kolaborasi. Berdasarkan materi yang disampaikan, strategi tersebut turut membantu usahanya mencatat pertumbuhan pendapatan lebih dari 120 persen dalam satu tahun terakhir.
Dukungan Akses Modal
Selain persoalan pemasaran, ketahanan UMKM juga sangat berkaitan dengan pengelolaan keuangan. Kebutuhan modal dapat muncul ketika pelaku usaha ingin menambah kapasitas produksi, membeli bahan baku, menjaga operasional, maupun menghadapi kebutuhan tak terduga.
Dalam momentum Bulan Literasi Keuangan 2026, rangkaian kegiatan tersebut turut memberikan edukasi mengenai pengelolaan keuangan dan pilihan pendanaan bagi pelaku usaha.
Berdasarkan data yang disampaikan penyelenggara, pendanaan melalui GrabModal by OVO Finansial telah disalurkan lebih dari Rp 6 triliun kepada lebih dari 445.000 Mitra UMKM dan Mitra Pengemudi di ekosistem Grab.
Namun, akses modal tetap perlu diikuti perhitungan yang matang. Pelaku usaha perlu menyesuaikan jumlah pendanaan dengan kebutuhan dan kemampuan membayar agar modal tidak berubah menjadi beban bagi arus kas bisnis.
Teras Perwira 2026 memasuki tahun kelima penyelenggaraan. Rangkaian tahun ini dibuka di Makassar pada 19 Agustus dan ditutup di Palembang serta Semarang pada 7 September.
Peserta di setiap kota dikurasi berdasarkan semangat untuk belajar, berkembang, dan berbagi pengalaman dengan pelaku usaha lainnya.
Bagi UMKM di tengah perubahan perilaku konsumen, tantangannya kini semakin kompleks. Produk tetap menjadi fondasi, tetapi keberlangsungan bisnis juga ditentukan oleh kemampuan menghitung biaya, membaca pasar, mengelola keuangan, memilih strategi pemasaran, dan memanfaatkan teknologi secara tepat.
Dengan demikian, ukuran keberhasilan usaha tidak berhenti pada seberapa ramai penjualan hari ini. Yang tak kalah penting adalah seberapa sehat bisnis setelah pertumbuhan terjadi dan seberapa siap pelaku UMKM menghadapi perubahan pasar berikutnya.