JawaPos.com — Pesatnya penggunaan kecerdasan buatan (AI) di Indonesia belum otomatis membuat Indonesia memiliki kapasitas sebagai pemain utama teknologi global. Pemerintah menilai penguatan talenta, riset, infrastruktur, hingga kebijakan menjadi kunci agar Indonesia tidak sekadar menjadi pasar bagi teknologi AI dari luar negeri.
Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan, Indonesia perlu membangun kapasitas nasional agar mampu menjadi pencipta teknologi, bukan hanya pengguna.
Menurutnya, pengembangan AI perlu berjalan beriringan dengan energi bersih dan pendidikan STEM.
“Melalui perpaduan AI bertenaga energi bersih dan pendidikan STEM, kita membangun kapasitas nasional agar Indonesia berdiri sendiri sebagai pencipta global, bukan sekadar konsumen,” ungkap Luhut dalam World Encounter Summit 2026 yang merupakan bagian dari rangkaian Bali Harmony Encounter Week 2026 di United In Diversity (UID) Bali Campus dan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Kura Kura Bali, Jumat (4/9).
Senada, Menteri Komunikasi dan Digital Republik Indonesia Meutya Hafid mengingatkan bahwa tingginya tingkat adopsi AI, khususnya di kalangan generasi muda, belum cukup untuk membentuk kapasitas AI nasional.
“Indonesia tidak memulai dari nol mengingat pesatnya adopsi AI di kalangan generasi muda, namun tingkat penggunaan saja tidak otomatis menjadi kapasitas nasional. Tanpa penyelarasan strategis di seluruh bidang kebijakan, riset, talenta, dan infrastruktur, kita berisiko hanya menjadi pasar konsumen bagi teknologi luar,” ujarnya.
Meutya menyebut kehadiran ‘Garuda Spark Innovation Hub’ di UID Bali Campus sebagai Regional Hub dan Global Gateway Indonesia dapat menjadi bagian dari upaya menghubungkan industri, investor, dan inovator global.
“Kami menyambut baik hadirnya ‘Garuda Spark Innovation Hub’ di UID Bali Campus sebagai Regional Hub dan Global Gateway Indonesia yang menghubungkan para pemuka industri, investor, dan inovator global. Berlandaskan visi digital nasional kita, Terhubung, Tumbuh, Terjaga, inisiatif ini bertujuan memajukan 'AI yang Bermakna' (Meaningful AI)—memastikan AI tidak hanya mendorong produktivitas dan pelayanan publik, tetapi juga memberdayakan masyarakat serta memastikan masa depan AI dibangun dan berakar di Bali, dari Indonesia untuk dunia,” ujar H.E. Meutya Hafid, Menteri Komunikasi dan Digital Republik Indonesia.
Di sisi lain, forum tersebut tidak hanya membahas kapasitas teknologi. Dimensi kemanusiaan dan spiritualitas juga menjadi perhatian dalam pembahasan mengenai masa depan AI.
Wakil Presiden United In Diversity Foundation Suyoto mengatakan Bali memiliki posisi penting dalam mempertemukan gagasan teknologi dengan nilai spiritual.
“Pekan Bali Harmony Encounter menyatukan gagasan global dan lokal untuk memperkuat nilai-nilai spiritual sebagai jangkar peradaban. Bali adalah tempat terbaik, di mana keharmonisan antara manusia, alam dan spiritualitas sungguh tumbuh subur,” tegasnya.
Direktur Eksekutif Scholas Occurrentes Maria Paz Jurado menilai tantangan AI tidak cukup dilihat dari seberapa jauh teknologi tersebut mampu berkembang. Menurutnya, pertanyaan yang lebih mendasar adalah manusia seperti apa yang ingin dibangun bersama teknologi tersebut.
"Oleh karena itu, kita memerlukan pendidikan yang mampu mengarahkan kecerdasan manusia maupun kecerdasan buatan, sehingga kemajuan tidak menjauhkan kita dari hakikat kemanusiaan yang mendalam, melainkan justru memperkuat martabat, persaudaraan, dan perdamaian," pungkasnya.