JawaPos.com – Perkembangan teknologi digital membuat anak-anak semakin akrab dengan berbagai bentuk transaksi keuangan, mulai dari pembayaran digital, belanja daring, hingga layanan paylater.
Kondisi ini dinilai membuat pendidikan literasi keuangan sejak dini menjadi semakin penting agar anak memahami cara mengelola uang secara bijak di tengah perubahan perilaku ekonomi masyarakat.
Urgensi tersebut juga terlihat dari data Badan Pusat Statistik (BPS) 2025 yang mencatat sebanyak 66,72 juta penduduk Indonesia berusia 0–14 tahun, atau sekitar 23,46 persen dari total populasi.
Jumlah tersebut menggambarkan besarnya generasi yang kelak akan mengambil berbagai keputusan ekonomi di masa depan.
Pendidikan keuangan sejak usia dini dinilai bukan sekadar mengenalkan konsep uang, tetapi juga membentuk kecakapan hidup yang relevan dengan keseharian anak. Melalui pemahaman tersebut, anak diharapkan mampu membedakan kebutuhan dan keinginan, belajar menabung, serta menggunakan uang secara bertanggung jawab.
Baca Juga: BI Sebut Transaksi Pembayaran Digital Triwulan II 2026 Tumbuh 36,88 Persen
Salah satu upaya yang dilakukan untuk mendukung literasi keuangan anak adalah melalui Program Cha-Ching yang dijalankan PT Prudential Life Assurance bersama Prudence Foundation dan dikembangkan bekerja sama dengan Prestasi Junior Indonesia. Program ini telah berlangsung lebih dari satu dekade dengan menyasar siswa sekolah dasar melalui metode pembelajaran yang sederhana dan sesuai usia.
Hingga akhir Juni 2026, program tersebut telah menjangkau lebih dari 1,2 juta siswa dari 26.070 sekolah di 60 kota dan kabupaten di Indonesia. Selain itu, lebih dari 39.000 guru juga telah mendapatkan pelatihan agar edukasi literasi keuangan dapat diterapkan secara berkelanjutan di lingkungan sekolah.
Baca Juga: BNI Tebar Promo di Puspa Nuswantara 2026, Dorong Transaksi Digital UMKM Batik
Chief Customer & Marketing Officer Prudential Indonesia, Karin Zulkarnaen dalam keterangan tertulisnya mengatakan bahwa pendidikan keuangan bagi anak tidak bertujuan menjadikan mereka berpikir seperti orang dewasa, melainkan membantu mereka mengambil keputusan sederhana terkait pengelolaan uang.
"Melek uang sejak dini bukan berarti anak harus berpikir seperti orang dewasa. Ini tentang membantu mereka mengambil keputusan sederhana dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari mengenali kebutuhan, menabung untuk tujuan tertentu, hingga belajar berbagi. Melalui program ini, kami ingin pembelajaran keuangan terasa dekat, menyenangkan, dan relevan bagi anak-anak," ujar Karin Zulkarnaen.
Program tersebut, lanjut Karin, mengajarkan empat konsep dasar pengelolaan keuangan, yakni Earn (menghasilkan), Save (menabung), Spend (membelanjakan), dan Donate (berdonasi). Keempat pilar tersebut diperkenalkan untuk membantu anak memahami bahwa uang diperoleh melalui usaha, perlu dikelola sesuai kebutuhan, serta dapat dimanfaatkan untuk berbagi dengan sesama.
Pentingnya literasi keuangan anak juga sejalan dengan perhatian Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA) dalam rangkaian Hari Anak Nasional 2026. Di tengah semakin luasnya penggunaan dompet digital dan akses informasi keuangan melalui media sosial, pemahaman dasar mengenai pengelolaan uang dinilai menjadi bekal penting bagi anak menghadapi perkembangan zaman.
Melalui kolaborasi antara dunia pendidikan, guru, dan berbagai mitra, edukasi literasi keuangan diharapkan dapat terus diperluas sehingga semakin banyak anak Indonesia memiliki kemampuan mengelola keuangan sejak usia dini sebagai bekal menghadapi tantangan ekonomi di masa depan.