JawaPos.com - Debu kuning mengepul di udara setiap kali roda kendaraan berputar di jalanan tanah Desa Bandangdajah, Kecamatan Tanjung Bumi, Kabupaten Bangkalan.
Sudah hampir tujuh bulan langit enggan menurunkan air hujan, menyisakan pemandangan ladang gersang bagaikan hamparan cadas tanpa kehidupan.
Namun, di tengah kepungan kekeringan ekstrem di 'Bumi Karapan Sapi', tersembunyi sebuah oase hijau ranum yang tetap subur berisi tanaman semangka, gambas, tomat, hingga timun.
Di balik hijau lahan tersebut, terukir kisah perjuangan penuh keringat dari Marnawi, seorang pemuda setempat yang hanya lulusan Madrasah Tsanawiyah (MTs). Bersama dua rekannya, Marnawi memilih menolak panggilan tanah rantau, sebuah jalur pintas yang kerap diambil pemuda desa demi rupiah yang lebih cepat.
Menolak menyerah pada takdir kekeringan, ketiganya bergabung dalam program Eco Edufarming yang diinisiasi PT Pertamina Hulu Energi West Madura Offshore (PHE WMO).
Marnawi mengenang awal keterlibatannya sepulang merantau pada 2019. Sempat terhenti akibat pandemi COVID-19, tekadnya terpacu kembali pada 2021 saat program tersebut dibuka kembali.
Didampingi akademisi dan praktisi pertanian, mereka belajar mengolah tanah dari nol dengan menanam tomat varietas sofia, cabai, serta sawi.
Langkah awal itu tak berjalan mulus. Bibit sayur yang dipindah ke lahan sempat diejek warga sekitar karena dianggap mustahil bertahan di tanah gersang Tanjung Bumi. "Tapi saya dan kawan-kawan memilih menutup telinga dan fokus belajar," ujarnya, Senin (19/10).
Tantangan kian berat ketika hasil panen hendak dipasarkan. Para tengkulak dan pedagang tradisional di Madura enggan menerima sayur lokal dengan alasan kualitas air tanah yang kurang cocok, serta anggapan bahwa tomat setempat lebih cepat membusuk dibanding pasokan dari Pulau Jawa.
Guna meruntuhkan penolakan pasar, Marnawi memutar otak dengan membagikan sampel gratis ke warung-warung dan membanting harga.
Jika pedagang biasa mengambil tomat dari Jawa seharga Rp 6.000 hingga Rp 7.000 per kilogram, ia melepas hasil panennya di kisaran Rp 2.000 hingga Rp 3.000 per kilogram.
Usaha itu berbuah manis setelah ia membuktikan tomat lahannya sanggup bertahan hingga sepekan tanpa membusuk. "Perlahan tapi pasti, para tengkulak mulai berdatangan mencari tomat kita," ucaonya.
Keberhasilan ini tak lepas dari penerapan sistem pertanian regeneratif dan teknologi tepat guna. Melalui irigasi tetes, panel surya, serta pemanfaatan limbah kotoran ternak, kelembapan tanah di Bandangdajah berhasil dijaga secara optimal.
Senior Manager Relations Regional Indonesia Timur PHE, Sigit Dwi Aryono, menyampaikan bahwa program ini merupakan bagian dari konsep One Belt One Road (OBOR) PHE WMO untuk mendorong keberlanjutan dan kesejahteraan masyarakat pesisir di sekitar wilayah operasi.
"Program Eco Edufarming di Desa Bandangdajah merupakan bentuk nyata komitmen PHE WMO berkontribusi pada upaya pemberdayaan masyarakat melalui pertanian regeneratif dan adaptif terhadap kondisi lahan kering," ungkap Sigit.
Dari keuletan mengolah lahan kering tersebut, dampak ekonomi nyata kini dirasakan kelompok tani. Dalam kondisi panen gemilang, penghasilan mereka mampu menembus angka Rp 60 juta dalam kurun waktu enam bulan.
Kendati fluktuatif, dengan pendapatan di kisaran Rp 15 juta hingga Rp 20 juta saat panen kurang beruntung, hasil tersebut terbukti mampu menghidupi keluarga dengan layak.
Bahkan pada musim panen paling sulit sekalipun, setiap anggota sedikitnya masih mengantongi Rp 1,5 juta setiap bulannya, dan angka ini melambung tinggi saat musim panen berlimpah.