JawaPos.com - Indonesia memperluas peluang kerja sama ekonomi dengan Kamerun melalui proyek pengolahan singkong senilai USD 15 juta atau sekitar Rp 269 miliar, dikutip dari ANTARA.
Proyek tersebut ditujukan untuk membangun kapasitas produksi tapioka di Kamerun sekaligus membuka peluang bagi perusahaan Indonesia untuk memperluas bisnis di kawasan Afrika Tengah.
Duta Besar RI untuk Kamerun, Agung Cahaya Sumirat, mengatakan proyek percontohan pengolahan singkong itu merupakan tindak lanjut nota kesepahaman yang disepakati delegasi bisnis Afrika Tengah dan pelaku usaha Indonesia dalam Trade Expo Indonesia (TEI) 2026. Proyek tersebut diproyeksikan rampung dalam dua tahun mendatang.
"Di Kamerun, singkong menjadi makanan harian masyarakat mereka. Jadi, mereka mengusulkan kerja sama dengan Indonesia supaya terjadi transfer of knowledge (transfer pengetahuan) dan teknologi. Sehingga, Kamerun akan memiliki kapasitas untuk memproduksi bagaimana singkong diubah, ditransformasi menjadi tapioka," kata Agung.
Dalam TEI 2026, perusahaan rekayasa, pengadaan, dan konstruksi asal Indonesia, PT Asindo Tech, menyepakati proyek penyediaan teknologi serta fasilitas produksi pengolahan singkong dengan Nego-Titans PLC asal Kamerun senilai USD 15 juta.
Agung menilai kerja sama ini dapat memberi manfaat bagi kedua negara. Perusahaan Indonesia berpeluang berinvestasi dan memasok teknologi, sedangkan produsen singkong di Kamerun dapat meningkatkan kapasitas produksi, termasuk untuk memenuhi kebutuhan ekspor.
Baca Juga: Trade Expo Resmi Dibuka, Mendag Optimistis Target Transaksi TEI 17,5 Miliar Dolar AS Tercapai
Pupuk Organik
Di sisi lain, Agung juga menyoroti potensi Kamerun sebagai pasar regional. Negara itu memiliki sekitar 30 juta penduduk dan menjadi bagian dari Komunitas Ekonomi dan Moneter Afrika Tengah (CEMAC), yang mencakup enam negara dengan total populasi sekitar 60 juta jiwa.
Menurut Agung, pemerintah Kamerun memprioritaskan sektor pertanian, peternakan, dan perikanan, yang dinilai sejalan dengan kemampuan Indonesia dalam hilirisasi.
"Kehadiran perusahaan Indonesia disambut sangat baik, bahkan disiapkan berbagai insentif kemudahan termasuk keringanan pajak," ungkap Agung.
Salah satu contoh kerja sama di sektor pertanian yang turut disorot adalah penggunaan pupuk organik dari PT Turrima Agro Mass yang menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) alih teknologi pertanian dengan TMG International (Investment Group PLC Cameroon) di TEI 2026.
Founder dan CEO Turrima Agro Mass, Mulyono, menjelaskan langkah ini didorong kebutuhan model bisnis yang lebih efisien dan berkelanjutan. Jarak Indonesia-Kamerun memakan waktu pengiriman 50–60 hari via laut dengan biaya logistik tinggi dan risiko rantai pasok global seperti gangguan di Selat Hormuz.
"MoU ini merupakan pembaruan dari model bisnis yang selama ini kami jalankan. Kami memulai dari ekspor produk pupuk organik, tetapi ke depan kami melihat peluang untuk melangkah lebih jauh melalui alih teknologi dan pengembangan sistem pertanian terpadu bersama mitra lokal," ujar Mulyono.
"Jika kita terus-menerus mengandalkan pengiriman jarak jauh, tantangannya adalah high cost dalam logistik dan distribusi. Karena itu, kami sepakat menjajaki alih teknologi sebagai langkah strategis," tambahnya.
Presiden Direktur TMG International, Tebid Harmony Fongang, menambahkan pelaku bisnis harus proaktif menjemput peluang.
"Kita tidak bisa hanya duduk diam. Kita harus pro, terbang ke Kamerun, mengamati pasarnya, dan membawa teknologi nyata untuk dikembangkan bersama," ujarnya.