← Beranda
Rupiah Melemah Bisa Tekan Industri Otomotif, Astra Andalkan Diversifikasi Bisnis
Dimas Choirul• Rabu, 23 September 2026 | 21.32 WIB
Konferensi Pers Astra Media Day. (Dimas Choirul/Jawapos.com)

JawaPos.com - Pelemahan nilai tukar rupiah menjadi salah satu tantangan bagi bisnis otomotif PT Astra International Tbk. (ASII). Kondisi tersebut berpotensi menekan kinerja sektor otomotif karena harga kendaraan dapat terdampak ketika nilai tukar rupiah melemah.

Head of Corporate Investors Relations PT Astra International, Tira Ardianti, mengatakan kondisi tersebut menjadi salah satu alasan pentingnya diversifikasi bisnis yang selama ini dibangun Astra. Menurut dia, karakter bisnis Astra yang beragam memungkinkan tekanan di satu sektor dapat diimbangi oleh kinerja sektor lainnya.

"Karena ketika misalnya rupiah itu melemah, biasanya tidak begitu menguntungkan untuk sektor otomotif, karena harga otomotif biasanya [terpengaruh] kalau rupiah melemah," kata Tira dalam Astra Media Day, Rabu (23/9).

Namun, kondisi tersebut dapat diimbangi oleh bisnis Astra lainnya yang memiliki eksposur terhadap dolar. Menurut Tira, kapasitas pendapatan dalam dolar dari sektor tertentu dapat membantu mengompensasi tekanan yang terjadi di bisnis otomotif.

"Tapi pada sektor [lain], itu menguntungkan karena kapasitasnya dalam dolar, itu akan cukup bisa mengompensasi pengurangan pada sektor yang lain," ujarnya.

Diversifikasi tersebut tercermin dari struktur bisnis Astra yang tidak hanya bertumpu pada otomotif. Saat ini, Astra memiliki tiga bisnis inti, yakni otomotif, jasa keuangan, serta mining solutions and equipment. Ketiganya menyumbang sekitar 90 persen terhadap pendapatan konsolidasi Astra.

Sementara itu, bisnis di luar tiga sektor inti atau yang disebut wider businesses menyumbang sekitar 10 persen.

Tira mengatakan kontribusi bisnis non-otomotif Astra juga terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Pada 2021, kontribusi non-otomotif masih sekitar 20 persen. Angka tersebut meningkat menjadi 32,8 persen pada 2025.

"Ini yang kami akan terus mengembangkan. Pada tiga bisnis ini kami masih melihat banyak peluang pertumbuhan ke depan, dan kami akan terus memperkuatnya, akan terus mempertahankan fokus strategi kita kepada tiga bisnis ini," jelasnya.

Salah satu penopang diversifikasi tersebut berasal dari bisnis heavy equipment and mining solutions yang dijalankan melalui United Tractors. Astra memiliki sekitar 60 persen saham perusahaan tersebut.

United Tractors memiliki portofolio yang terintegrasi, mulai dari distribusi alat berat, kontraktor penambangan hingga bisnis pertambangan seperti emas dan nikel. Portofolio tersebut juga mencakup bisnis energi terbarukan.

Tira menyebut diversifikasi menjadi salah satu kekuatan Astra dalam menghadapi perubahan kondisi ekonomi. Dengan karakter bisnis yang berbeda, tekanan yang muncul pada satu sektor tidak selalu berdampak sama pada sektor lainnya.

"Jadi inilah salah satu beauty of diversification Astra yang dibangun sudah sejak lama, di mana Astra akhirnya well positioned untuk bisa melewati berbagai situasi problem ini," tuturnya.

Ke depan, Astra masih akan mempertahankan tiga bisnis inti sebagai fokus strategi. Di sisi lain, perusahaan juga menyiapkan pendekatan berbeda untuk bisnis-bisnis yang berada di luar tiga pilar tersebut.

Untuk wider businesses, Astra menyiapkan tiga pendekatan, yakni investasi, kemitraan, dan alokasi modal. Bisnis yang dinilai memiliki kesesuaian strategis dengan ekosistem Astra akan terus dikembangkan melalui investasi.

Sementara bisnis yang dinilai memiliki potensi pertumbuhan dan membutuhkan penguatan kapabilitas dapat dikembangkan melalui kemitraan. Adapun bisnis yang dinilai tidak memiliki potensi pertumbuhan lebih baik dapat menjadi objek realokasi modal.

"Paling intinya, semua pendekatan yang dilakukan itu adalah bisnis yang lebih berkualitas dan mengoptimalkan alokasi modal kami untuk memperkuat kapabilitas," pungkasnya.

EDITOR: Estu Suryowati