JawaPos.com - PT Solusi Bangun Indonesia Tbk memperkuat tata kelola air di seluruh rantai produksinya untuk menghadapi ancaman musim kemarau panjang dan fenomena El Nino yang diprakirakan berlangsung hingga awal 2027.
Langkah tersebut dilakukan melalui efisiensi konsumsi, peningkatan daur ulang, serta pengembangan sumber air alternatif secara terintegrasi.
“Perubahan pola iklim ini memaksa industri untuk tidak sekadar bertahan, tapi harus responsif dan adaptif. Air adalah nyawa bagi kegiatan ekonomi dan industri, sehingga penekanan konsumsi air permukaan bukan lagi sekadar program, melainkan keharusan mutlak,” tegas Direktur Operasi Solusi Bangun Indonesia, Edi Sarwono.
Berdasarkan data keberlanjutan perusahaan, pengambilan air baku secara nasional turun dari 2.252 megaliter pada 2024 menjadi 2.132 megaliter pada akhir 2025.
“Hingga tahun 2025 lalu, kami secara kumulatif telah berhasil menekan pengambilan air baku hingga 45 persen. Capaian progresif ini faktanya berlari jauh melampaui target awal peta jalan keberlanjutan kami, yang mulanya hanya mematok pengurangan 10 persen pada tahun 2030 mendatang,” ungkap Edi.
Efisiensi tersebut didukung perubahan komposisi konsumsi air. Porsi penyedotan air permukaan berkurang 18 persen, sedangkan penggunaan air tanah ditekan 11 persen.
Di sisi lain, pemanfaatan air hujan melalui sistem panen air meningkat 9 persen.
“Strategi kuncinya adalah menyubstitusi air tawar segar dengan air daur ulang (recycled water). Sepanjang 2025, perputaran operasi pabrik kami telah menyerap 563 megaliter air daur ulang, menyumbang hampir 32 persen dari total kebutuhan air, atau melonjak 24 persen dibandingkan tahun sebelumnya,” jelasnya.
Penerapan efisiensi dilakukan melalui teknologi yang disesuaikan dengan kondisi hidrologis di setiap wilayah operasional perusahaan.
Pabrik Lhoknga di Aceh disebut telah menghilangkan ketergantungan pada air sungai melalui penampungan air hujan. Sementara itu, Pabrik Narogong di Jawa Barat menerapkan digitalisasi dalam pengelolaan air.
“Setiap pabrik punya resep intervensi yang berbeda. Di Narogong, kami mengawinkan teknologi Internet of Things (IoT) dan kontrol presisi cerdas untuk memanajemen pompa sungai, yang terbukti secara akurat mencegah pemborosan puluhan megaliter air tawar,” paparnya.
Menurut Edi, pengurangan eksploitasi air baku menjadi bagian penting dari upaya menghadapi dampak siklus El Nino yang berkepanjangan.
Langkah tersebut juga ditujukan untuk menjaga pasokan air bagi masyarakat di sekitar area tambang dan pabrik.
“Ketahanan dalam menghadapi krisis iklim itu dibangun dari keberanian mengeksekusi keputusan hari ini. Setiap tetes air yang berhasil kita daur ulang dan kita cegah kehilangannya, adalah jaminan keberlanjutan bagi operasi pabrik, daya dukung lingkungan, dan pastinya hak air masyarakat,” ujar Edi.