← Beranda
Pameran UKM IFRA 2026 Resmi Dibuka, 9 Franchise Thailand Ramaikan Pasar Indonesia
Nanda PrayogaSabtu, 29 Agustus 2026 | 03.48 WIB
Pameran waralaba dan usaha kecil menengah IFRA 2026 resmi digelar di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD, Tangerang, Jumat (28/8). (Nanda Prayoga/JawaPos.com)

 

JawaPos.com - Pameran waralaba dan usaha kecil menengah IFRA 2026 resmi digelar di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD, Tangerang, Jumat (28/8).

Pembukaan IFRA 2026 ditandai dengan seremoni gunting pita yang menjadi tanda dimulainya rangkaian pameran. Ajang tersebut mempertemukan pemilik merek, pelaku usaha, calon investor, hingga mitra bisnis dari berbagai negara.

Thailand menjadi salah satu negara yang ikut berpartisipasi dalam pameran tahun ini. Sebanyak sembilan eksibitor dibawa untuk menjajaki peluang bisnis dan mencari mitra di Indonesia. Dari jumlah tersebut, lima perusahaan bergerak di sektor makanan dan minuman atau food and beverage (F&B).

Keikutsertaan tersebut difasilitasi Department of International Trade Promotion (DITP), Ministry of Commerce Thailand. Selain membawa perusahaan untuk memperkenalkan bisnisnya, DITP juga berperan menghubungkan pelaku usaha Thailand dengan calon investor Indonesia melalui berbagai kegiatan, termasuk business matching.

Deputy Director of Thai Trade Center Jakarta, Nassaree Pathan, mengatakan sembilan franchise Thailand yang hadir di IFRA 2026 memang diarahkan untuk membuka peluang kerja sama dengan investor Indonesia.

“Dari DITP, Ministry of Commerce of Thailand, kami membawa 9 franchise yang bergabung di event ini. Kami sebagai DITP menjadi jembatan untuk menghubungkan pengusaha Thailand dengan investor Indonesia, termasuk melalui business matching. Dari 9 eksibitor tersebut, ada 5 yang bergerak di sektor makanan dan minuman dan kebanyakan memiliki sertifikasi halal dari Thailand,” ujar Nassaree.

Sektor F&B menjadi salah satu bidang yang mendapat perhatian karena Indonesia memiliki jumlah konsumen yang besar. Bagi brand makanan dan minuman Thailand, aspek halal juga menjadi pertimbangan penting untuk memasuki pasar Indonesia.

DITP turut membuka peluang untuk mempertemukan perusahaan Thailand dengan pihak terkait di Indonesia dalam membantu proses penyesuaian dan sertifikasi halal sesuai ketentuan yang berlaku.

Sembilan perusahaan yang dibawa Thailand ke IFRA 2026 juga telah melalui proses seleksi. DITP terlebih dahulu melakukan kurasi terhadap perusahaan yang memiliki ketertarikan untuk mengembangkan bisnisnya di Indonesia.

Perusahaan yang berminat mengikuti program tersebut harus mengajukan aplikasi. Setelah itu, DITP Jakarta melakukan penilaian dengan mempertimbangkan kualitas produk serta kesesuaian model bisnis dengan karakteristik pasar Indonesia.

“Kami memilih Indonesia karena kami pikir pasarnya cukup besar. Produk-produk Thailand kami bisa berkembang dengan sangat baik di sini, dan kami berharap hubungan yang dibangun bukan hanya bisnis, tapi juga budaya dan hubungan jangka panjang,” kata Nassaree.

Besarnya pasar Indonesia menjadi salah satu alasan Thailand melihat peluang ekspansi bisnis di Tanah Air. Pertumbuhan kelas menengah serta perubahan kebutuhan konsumen juga dinilai dapat memberikan ruang bagi merek Thailand untuk berkembang.

Namun, peluang kerja sama yang dibawa Thailand tidak hanya berasal dari sektor F&B. Sejumlah bidang lain seperti pendidikan, kesehatan dan kecantikan, ritel, gaya hidup, hingga layanan bisnis turut dilihat memiliki prospek.

Sementara itu, Director of Thai Trade Center Jakarta, Mrs. Hataichanok Sivara, mengatakan Indonesia menjadi salah satu pasar yang menarik bagi bisnis waralaba di kawasan Asia Tenggara.

“Indonesia adalah salah satu pasar waralaba yang paling menarik di Asia Tenggara, didorong oleh populasi yang besar, kelas menengah yang berkembang, dan pengeluaran konsumen yang kuat. Saat ini, kami melihat peluang signifikan di beberapa sektor, termasuk makanan dan minuman, pendidikan, kesehatan dan kecantikan, ritel dan gaya hidup, serta layanan bisnis,” kata Hataichanok.

Menurut Hataichanok, perubahan pola konsumsi masyarakat Indonesia juga membuka peluang bagi merek internasional. Konsumen dinilai semakin mempertimbangkan kualitas produk dan reputasi sebuah merek sebelum menentukan pilihan.

Karena itu, investor yang tertarik mengambil franchise Thailand perlu memperhatikan berbagai aspek sebelum memilih merek. Kemampuan modal, rekam jejak perusahaan, model bisnis, target konsumen, serta dukungan yang diberikan franchisor menjadi sejumlah faktor yang perlu dipertimbangkan.

Di sisi lain, perusahaan Thailand yang ingin masuk ke Indonesia juga harus menyesuaikan konsep bisnis dengan kondisi pasar lokal. Perbedaan regulasi, perizinan, sertifikasi, kebiasaan konsumen, hingga strategi pemasaran menjadi sejumlah hal yang perlu dipahami.

Kemitraan dengan pelaku usaha Indonesia dapat menjadi salah satu cara untuk membantu proses adaptasi tersebut. Mitra lokal yang memahami karakter pasar dapat membantu perusahaan Thailand menyesuaikan bisnisnya dengan kebutuhan konsumen di Tanah Air.

Perkembangan teknologi juga memengaruhi pengelolaan bisnis waralaba. Sejumlah brand Thailand mulai memanfaatkan pemesanan daring, sistem point-of-sale, pemasaran digital, manajemen hubungan pelanggan, hingga analisis data dalam menjalankan operasional bisnis.

Pemanfaatan teknologi tersebut dapat membantu meningkatkan efisiensi sekaligus memberikan pengalaman yang lebih baik kepada konsumen.

Bagi DITP, keikutsertaan dalam IFRA 2026 tidak hanya ditujukan untuk memperkenalkan merek Thailand. Pameran ini juga menjadi sarana untuk mempertemukan pelaku usaha dari kedua negara dan membuka peluang kerja sama yang dapat berlanjut setelah pameran.

Melalui business matching, perusahaan Thailand dapat berdiskusi langsung dengan calon investor maupun mitra lokal. Pertemuan tersebut diharapkan dapat berkembang menjadi kerja sama komersial dan hubungan bisnis jangka panjang.

Sementara bagi pelaku usaha Indonesia, kehadiran Paviliun Thailand menjadi kesempatan untuk melihat langsung berbagai konsep bisnis asal Thailand yang tengah mencari peluang ekspansi di pasar Indonesia.

EDITOR: Estu Suryowati