JawaPos.com - Microsoft kembali melakukan restrukturisasi besar-besaran di divisi game Xbox. Perusahaan mengumumkan akan memangkas sekitar 3.200 karyawan dari berbagai studio game di bawah naungannya sebagai bagian dari upaya meningkatkan efisiensi dan memperbaiki kinerja bisnis.
Seperti dilansir dari Engadget, Selasa (7/7), keputusan tersebut merupakan bagian dari gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) yang lebih luas di Microsoft. Secara keseluruhan, perusahaan memangkas sekitar 4.800 posisi atau sekitar 2,1 persen dari total tenaga kerja globalnya.
Dalam memo kepada karyawan yang dipublikasikan, CEO Xbox Asha Sharma menjelaskan bahwa PHK akan menyasar sejumlah studio, termasuk Activision, Bethesda/ZeniMax, Blizzard, King, Mojang, hingga Xbox Game Studios. Dari total 3.200 pekerja yang terdampak, sekitar 1.600 orang akan diberhentikan dalam waktu dekat, sementara sisanya dilakukan secara bertahap selama satu tahun ke depan.
Selain PHK, Microsoft juga melakukan divestasi terhadap beberapa studio game. Berdasarkan laporan The Game Business, sekitar 350 karyawan berasal dari empat studio yang akan dialihkan ke pemilik baru.
Studio pengembang South of Midnight, Compulsion Games, dan Double Fine Productions akan kembali berdiri sebagai perusahaan independen dengan tetap mempertahankan hak atas kekayaan intelektual (IP), katalog gim, serta fondasi untuk proyek-proyek mereka berikutnya.
Melalui pernyataan di media sosial X, Compulsion Games memastikan hak atas seluruh gim yang dikembangkannya tetap berada di tangan perusahaan. "Prioritas utama kami adalah mendukung tim kami selama periode transisi ini,” kata Compulsion Games.
Sementara itu, Double Fine juga menyatakan akan segera menyampaikan informasi lebih lanjut mengenai arah perusahaan setelah proses tersebut selesai.
Menurut Sharma, Ninja Theory dan Undead Labs juga tidak ditutup. Kedua studio tersebut telah mencapai kesepakatan untuk bergabung dengan pemilik baru yang akan memberikan pendanaan guna menyelesaikan sekaligus mengembangkan proyek Senua dan State of Decay 3. Namun, Microsoft belum mengungkap identitas calon pembeli kedua studio tersebut.
Berbeda dengan dua studio itu, masa depan Arkane Studios masih dalam tahap pembahasan. Sharma mengatakan manajemen Arkane tengah memulai konsultasi dengan Dewan Pekerja di Prancis untuk mengevaluasi berbagai opsi strategis yang tersedia.
Arkane diketahui berbasis di Lyon, Prancis, sehingga Microsoft harus mengikuti ketentuan hukum ketenagakerjaan setempat sebelum mengambil keputusan akhir. Sejumlah laporan sebelumnya menyebut pengembangan gim Blade mengalami penundaan secara internal dan kini diperkirakan baru akan dirilis pada akhir 2027.
Sharma menjelaskan bahwa seluruh langkah tersebut merupakan bagian dari penataan ulang portofolio konten Xbox.
"Sejak 2018, kami telah secara agresif memperluas portofolio studio kami sementara jumlah game yang dibuat setiap bulan di seluruh industri sekarang melampaui gabungan sepuluh tahun terakhir," tulisnya.
Ia mengakui kondisi industri telah berubah drastis. Menurut Sharma, Xbox kini tidak hanya bersaing dengan perusahaan game besar, tetapi juga studio independen yang jumlahnya terus bertambah.
"Sekarang kami mendapati diri kami bersaing tidak hanya dengan penerbit terbesar, tetapi juga dengan studio independen yang lebih kecil. Tidak mungkin dan tidak diinginkan untuk memiliki setiap studio independen yang hebat,, ungkapnya.
Meski melakukan restrukturisasi, Sharma memastikan Xbox tidak membatalkan proyek atau gim pihak pertama yang sebelumnya telah diumumkan kepada publik. Perusahaan hanya mengalihkan sebagian investasi untuk memprioritaskan proyek yang dianggap memiliki prospek lebih besar.
Gelombang PHK ini sebenarnya telah diperkirakan sejak beberapa pekan terakhir setelah manajemen Xbox mengirim memo internal mengenai rencana "pengaturan ulang" divisi game tersebut. Tak lama berselang, Kepala Xbox Game Studios juga mengundurkan diri, sementara sejumlah studio dikabarkan tengah mencari investor baru agar dapat kembali menjadi perusahaan independen.
Sebelum pengumuman PHK ini, serikat pekerja Communications Workers of America (CWA) yang mewakili banyak pekerja industri game di Microsoft juga mendesak perusahaan untuk bernegosiasi mengenai perlindungan kompensasi bagi para karyawan yang terdampak.
PHK kali ini menambah panjang daftar restrukturisasi Microsoft di divisi game. Sebelumnya, pada awal 2024 perusahaan telah memangkas sekitar 1.600 karyawan Xbox, disusul ratusan pekerja lainnya beberapa bulan setelahnya.
Langkah efisiensi tersebut dilakukan tidak lama setelah Microsoft menaikkan harga konsol Xbox akibat meningkatnya biaya memori dan penyimpanan, di tengah besarnya investasi perusahaan dalam membangun infrastruktur komputasi untuk pengembangan teknologi kecerdasan buatan (AI).