← Beranda
Badan Geologi Periksa Fenomena Api Biru di Kawah Gunung Papandayan
Antara• Jumat, 25 September 2026 | 22.23 WIB
Kawah Gunung Papandayan terjadi peningkatan aktivitas yang terdeteksi muncul api berwarna biru sejak 24 September 2026. (BBKSDA Jabar/Antara)
 

 

JawaPos.com - Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menerjunkan tim tanggap darurat ke lapangan.

Mereka memeriksa dan menganalisis potensi bahaya munculnya fenomena pancaran api biru (blue fire) di kawasan Kawah Gunung Papandayan, Kabupaten Garut, Jawa Barat.

Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi Rita Susilawati mengonfirmasi hasil pengamatan visual pada 23 September 2026 mencatat adanya pendaran nyala biru keunguan di beberapa titik lokasi dengan sebaran yang cukup luas.

Baca Juga: 400 Ton Sekam Padi Setiap Hari Bantu Produksi Semen Hijau di Tuban

Kemudian pada 24 September 2026, pancaran sinar yang teramati mulai berkurang, lebih terkonsentrasi, serta berpendar warna biru keputihan.

Rita menjelaskan, kemunculan fenomena tersebut diinterpretasikan sebagai pembakaran belerang alami pada area solfatara, mirip dengan peristiwa yang pernah dilaporkan melanda kawasan kawah baru Gunung Papandayan sebelumnya.

"Tim Badan Geologi saat ini sedang melakukan pemeriksaan lapangan untuk menganalisis fenomena tersebut dan potensi bahayanya," ujar Rita dilansir dari Antara.

Baca Juga: Dari Tradisi ke Teknologi, Mooncake Festival 2026 Rawat Budaya di Semarang

Badan Geologi mencatat dinamika struktur permukaan sejak 2025 menunjukkan bukaan Kawah Manuk cenderung mengalami penyempitan yang disertai penurunan intensitas asap di permukaan.

Kondisi tersebut mengindikasi terjadinya pergeseran jalur pelepasan gas panas ke rekahan atau dinding kawah lain di sekitarnya.

Kendati demikian, PVMBG menegaskan korelasi antara penyempitan bukaan Kawah Manuk dengan pemicu munculnya api biru atau blue fire masih dalam proses pengkajian komprehensif dan belum bisa disimpulkan sekadar dari rekaman visual semata.

Rita memastikan tingkat aktivitas vulkanik Gunung Papandayan secara keseluruhan hingga saat ini masih bertahan stabil pada Level I (Normal).

Pihaknya mengimbau masyarakat, wisatawan, maupun pendaki agar tetap tenang, tidak panik, serta mematuhi batas aman dengan tidak beraktivitas atau menginap dalam radius 500 meter dari bukaan kawah aktif.

Sementara itu, kunjungan wisatawan ke Taman Wisata Alam (TWA) Gunung Papandayan di Kecamatan Cisurupan, Kabupaten Garut, diberlakukan pembatasan menyusul peningkatan aktivitas vulkanik.

Baca Juga: Pemilik Tongtong Apresiasi Pemkab Sumenep

"Sementara waktu dilakukan pembatasan pengunjung hingga Pos 4," kata Kepala Seksi Konservasi Wilayah V Garut Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Barat Vitriana Yulalita.

Dia mendapatkan laporan adanya gejala peningkatan aktivitas gunung berapi Gunung Papandayan yang terdeteksi muncul api berwarna biru di kawasan kawah gunung tersebut pada 24 September 2026.

"Menurut PVMBG terdapat potensi bahaya dengan kemunculan blue-fire adalah semburan gas dan paparan gas vulkanik beracun di atas ambang batas," tutur Vitriana Yulalita.

Baca Juga: Gubernur Iqbal Buka Peluang Investasi Tunisia ke NTB, Siapkan NTB Capital hingga Kerja Sama Pendidik

Dia menyampaikan, jajarannya bersama Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) serta pengelola TWA Gunung Papandayan melakukan pengecekan untuk memastikan keamanan kawasan.

Berdasar laporan potensi bahaya tersebut, kegiatan wisata seperti perkemahan dan pendakian dibatasi agar pengunjung tidak mendekati zona bahaya sampai ada surat resmi terkait keamanannya.

"Untuk itu, saat ini sedang dilakukan pengecekan oleh pihak berwenang guna memastikan keamanan pengunjung," ungkap Vitriana Yulalita.

Baca Juga: Abrasi Ancam Pantura Jawa, Mangrove Diupayakan Jadi Benteng Alam

Manajer Operasional TWA Gunung Papandayan Amin Kaban membenarkan adanya peningkatan aktivitas gunung sehingga diberlakukan pembatasan kawasan yang hanya boleh di bawah, dan tidak boleh masuk jalur pendakian.

"Kalau untuk jalur kita menunggu info dari vulkanologi," tandas Amin Kaban.

EDITOR: Latu Ratri Mubyarsah