← Beranda
Gunung Ile Lewotolok Catatkan 5.350 Erupsi Selama September, Penutupan Kawasan Terus Berlanjut
Antara• Rabu, 23 September 2026 | 21.41 WIB
Gunung Ile Lewotolok, NTT (Dok Antara)

JawaPos.com - Pos Pengamatan Gunung Ile Lewotolok di Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur mencatat 5.350 kali gempa erupsi selama periode 1–15 September. Angka itu menunjukkan aktivitas erupsi masih tergolong tinggi.

Dikutip dari Antara Rabu (23/9) pengamat Gunung Ile Lewotolok Stanislaus Ara Kian dalam laporan evaluasi aktivitas vulkanik dari Lembata menyebutkan selain gempa erupsi, periode tersebut juga tercatat 1.757 kali gempa hembusan, 403 kali tremor nonharmonik, 175 kali gempa guguran, dan 66 kali gempa harmonik.

"Selain itu tercatat sebanyak 33 kali gempa hibrid, 14 kali gempa vulkanik dangkal, 23 kali gempa vulkanik dalam, satu kali gempa tektonik lokal, dan 19 kali gempa tektonik jauh," katanya. Secara visual, gunung api terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah berwarna putih dan kelabu tipis hingga tebal teramati dengan ketinggian 20–500 meter dari puncak.

Selama periode tersebut juga terjadi erupsi dengan tinggi kolom 50–800 meter dari puncak. Kolom erupsi berwarna putih, kelabu hingga hitam, sedangkan guguran teramati dengan jarak luncur 200–700 meter ke arah selatan.

Evaluasi Badan Geologi menyebut aktivitas erupsi dan hembusan pada 1–15 September menunjukkan peningkatan, dengan kolom erupsi mencapai 800 meter dan asap hembusan hingga 500 meter. "Erupsi terkadang disertai suara gemuruh dan dentuman dengan intensitas lemah hingga kuat," ujar dia.

Dia menjelaskan, pada 18 Agustus 2026, aliran lava mulai keluar dari kawah menuju sektor selatan dengan jarak mencapai 1.800 meter. Kemudian pada 4 September teramati aliran lava baru menuju sektor timur laut sejauh 500 meter di atas endapan lava lama, dengan endapan mencapai 1.100 meter dari bibir kawah. “Teramati sinar api di puncak gunung Ile Lewotolok dan saat terjadi erupsi teramati lontaran material pijar ke segala arah dengan dominan ke sektor tenggara,” ujar dia dalam laporannya.

Dia juga menjelaskan lontaran material pijar ke sektor tenggara mencapai 200–500 meter dari bibir kawah, sektor selatan hingga 200 meter, barat daya 100–200 meter, dan sektor barat hingga 200 meter.

Dari sisi kegempaan, jumlah gempa erupsi atau letusan meningkat tajam. Gempa hembusan, guguran, dan harmonik juga mengalami peningkatan meskipun tidak signifikan.

 

Sementara itu, tremor nonharmonik, gempa tektonik, dan gempa tektonik jauh mengalami penurunan.

Badan Geologi menyatakan kemunculan gempa vulkanik dangkal dan dalam menunjukkan proses peretakan batuan akibat suplai magma dari kedalaman menuju bagian yang lebih dangkal sehingga meningkatkan tekanan pada tubuh Gunung Ile Lewotolok.

Berdasarkan evaluasi tersebut, status Gunung Ile Lewotolok tetap Level II (Waspada). Masyarakat dan wisatawan diminta tidak memasuki wilayah radius dua kilometer dari pusat aktivitas gunung serta radius 3 kilometer pada sektor selatan dan tenggara.

Masyarakat juga diminta mewaspadai potensi guguran atau longsoran lava dan awan panas pada sektor selatan, tenggara, barat, serta timur laut, menggunakan masker ketika terjadi hujan abu, menutup tempat penampungan air, dan mewaspadai lahar terutama saat musim hujan.

 

EDITOR: Diar Candra