← Beranda
Kejam, Sopir Truk Dibakar Oleh Atasan dan Alami Luka Bakar Sampai 68 Persen
Ryandi ZahdomoRabu, 23 September 2026 | 20.41 WIB
Keluarga korban sopir truk yang dibakar bos. (Istimewa/Radar Bali)

JawaPos.com - Seorang sopir truk bernama I Gede Selamet (20 tahun) terbaring tak sadarkan diri di ICU RSUP Prof. Ngoerah, Denpasar. Ia mengalami luka bakar serius hingga 68 persen dari bagian tubuhnya. Luka bakar di tubuh Selamet itu disebabkan aksi pembakaran yang dilakukan atasannya sendiri. Aksi keji itu kabarnya terkait persoalan setoran pekerjaan.

Korban asal Banjar Susut, Desa Muncan, Karangasem, Bali ini mengalami luka bakar kategori derajat 2B hingga 3 yang melingkar dari dada hingga punggung. Selamet juga menderita trauma inhalasi akibat terhirup uap panas.

Dokter Spesialis Bedah Plastik RSUP Prof. Ngoerah, dr. Agus Roy Rusly Hariantana Hamid mengungkapkan bahwa area luka bakar terparah berada di bagian dada depan hingga melingkar ke bagian belakang tubuh korban.

"Pada pasien ini yang paling berat itu daerah toraks depan, dada depan. Persis kayak baju yang dipakai pasien, sama melingkar sampai belakang. Itu yang dalam," ujar dr. Roy dikutip dari Radar Bali (JawaPos Group) pada Rabu (23/9).

Jeratan luka bakar melingkar pada bagian dada tersebut mengakibatkan fungsi pernapasan korban terganggu secara drastis.

"Luka bakar dengan melingkar di dada, itu risiko untuk pasien itu bernapas sendiri atau sadar baik itu sangat fighting dia, sangat struggle," paparnya.

Guna mengamankan jalan napas yang berisiko mengalami pembengkakan hebat, tim medis terpaksa menidurkan (knockdown) korban serta memasang alat bantu pernapasan berupa ventilator.

Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif, dr. I Putu Kurniyanta, Sp.An-TI, menegaskan fokus utama saat ini adalah menjaga kestabilan oksigenasi."Sehingga ketakutan kami ke depan adalah pembengkakan jalan napasnya," tutur dr. Putu Kurniyanta.

Jika mampu melewati masa kritis dalam dua minggu pertama, Selamet diproyeksikan harus menjalani 10 hingga 12 kali tindakan operasi cangkok kulit secara bertahap.

 

Roy menambahkan, kombinasi luka bakar luar yang luas dengan trauma inhalasi meningkatkan risiko fatalitas secara signifikan. "Kalau dia luka bakar 68 persen tanpa trauma inhalasi, itu masih survivable, masih bisa. Tapi dengan adanya trauma inhalasi itu 300 kali lipat angka kematiannya," tegas dr. Roy.

Terganjal Biaya Berobat dan Aturan BPJS

Penderitaan keluarga makin berat lantaran seluruh penanganan medis Selamet dikategorikan sebagai pasien umum. Pembiayaan korban tidak dapat dijamin oleh BPJS Kesehatan karena cedera yang dialami masuk dalam ranah tindakan kriminal.

Paman korban, I Nengah Sridana, membeberkan bahwa tagihan rumah sakit telah membengkak dalam waktu singkat sementara korban selama ini merupakan tulang punggung keluarga. "Total rincian pengeluaran untuk sementara per hari ini mulai dari masuk sampai sekarang sudah Rp 63 juta. Pada tindakan pertama saja kata dokter butuh Rp 19 juta sekian," kata Sridana.

Keluarga korban yang berasal dari kalangan kurang mampu dengan orang tua bekerja sebagai petani dan pedagang kecil kini sangat bergantung pada sumbangan dermawan."Ini juga mengandalkan donasi dari teman-teman. Kami butuh bantuan untuk biaya hidup selama menemani di sini dan biaya obat selanjutnya agar dokter bisa mengambil tindakan," imbuhnya.

Pihak Terduga Pelaku Sempat Ajak Damai

Sridana juga membeberkan bahwa perwakilan keluarga terduga pelaku sempat mendatangi pihak korban untuk menawarkan jalan damai. Mereka berjanji membiayai seluruh pengobatan asalkan laporan di kepolisian dicabut demi penangguhan penahanan.

Namun, janji tersebut mendadak surut usai pihak pelaku mengetahui besarnya estimasi biaya medis awal."Tapi pas tanyakan biaya tindakan pertama ke bapaknya pelaku, dia bilang tidak sanggup. Setelah itu sampai sekarang tidak ada datang atau menghubungi lagi," ungkap Sridana.

 Dugaan Motif Penganiayaan

Dugaan aksi kekerasan ini disinyalir dipicu oleh masalah keterlambatan setoran operasional truk selama 15 hari. Korban yang baru bekerja selama empat bulan tersebut tertunda menyerahkan uang lantaran sempat jatuh sakit.

"Yang saya tahu mungkin karena masalah setoran truk. Tapi saat itu korban memang lagi sakit tidur dua hari, panas dingin. Namun korban ini orangnya tertutup, tidak pernah cerita atau curhat masalah pekerjaan ke orang tua," terang Sridana.

 

 

EDITOR: Diar Candra