JawaPos.com - Seluruh wilayah Jawa Timur saat ini dilaporkan telah sepenuhnya memasuki puncak musim kemarau dan mengalami kondisi tanpa hujan selama berbulan-bulan.
Kondisi cuaca kering ini di antaranya dipicu fenomena atmosfer El Nino dengan kategori sangat kuat yang sedang berlangsung. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi kondisi El Nino kuat ini akan bertahan hingga awal Februari 2026.
"Kalau kemarin puncak musim kemarau diprediksi antara Agustus hingga September. Iya, jadi memang kita sedang berada di puncak musim kemarau," kata Staf Analisa dan Prakirawan BMKG Stasiun Klimatologi Jawa Timur, Firda Amalia Maslakah kepada JawaPos.com, Selasa (22/9).
Baca Juga: Ramalan Karier Zodiak Sagittarius Selasa, 22 September 2026: Wujudkan Ambisi dengan Strategi
Firda menyampaikan, intensitas curah hujan di Jawa Timur diprediksi masih berada pada kategori rendah hingga November mendatang.
"Kondisi cuacanya cukup kering, dan juga untuk beberapa waktu ke depan memang curah hujannya hingga November itu dari prediksi kami memang kategorinya rendah," ungkap Firda.
Ia memprakirakan, intensitas curah hujan pada Oktober masih sangat minim, yakni hanya berkisar antara 0 hingga 50 milimeter per bulan. Memasuki November, potensi curah hujan diperkirakan mulai mengalami peningkatan berangsur ke rentang 51 hingga 100 milimeter per bulan.
Peningkatan curah hujan yang lebih signifikan di Jawa Timur diprediksi baru akan terjadi saat memasuki Desember 2026
"Nah, untuk bulan Desember itu mulai banyak hujannya. Kategorinya kalau di kami itu kategori menengah hingga tinggi, yaitu sampai 300 milimeter per bulan," jelas Firda.
Baca Juga: Ramalan Asmara Zodiak Sagittarius Selasa, 22 September 2026: Bicarakan Masa Depan Bersama
Meski berada dalam periode musim kemarau, Firda menyebut potensi hujan masih bisa terjadi di beberapa daerah di Jawa Timur. Hujan di tengah musim kemarau tersebut umumnya dipicu oleh faktor skala lokal maupun skala regional.
Faktor lokal tersebut antara lain kondisi geografis daerah pegunungan serta kelembapan udara yang cukup tinggi. Sementara faktor regional yang dapat memicu hujan meliputi adanya gangguan gelombang Rossby atau Madden-Julian Oscillation (MJO).
"Tapi mungkin intensitasnya tidak tinggi, ya. Karena di musim kemarau hujannya mungkin ringan saja kategorinya," ucapnya.