← Beranda
Puncak Gunung Wilis Membara, 46 Titik Panas Terdeteksi di Nganjuk dan Ponorogo
Dadang Kurnia• Jumat, 18 September 2026 | 17.13 WIB
Ilustrasi petugas gabungan melakukan pembasahan setelah karhutla di kawasan Gunung Bromo pada Jumat (11/9) (Dok BPBD Jatim).

JawaPos.com - Puncak Gunung Wilis di Jawa Timur kembali membara. Sebanyak delapan titik kebakaran ditemukan melalap area hutan di Desa Ngliman, Kecamatan Sawahan, Nganjuk pada Rabu (16/9).

 

Dikutip dari Radar Nganjuk Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Nganjuk Iwan Setiawan menjelaskan bahwa peristiwa kebakaran tersebut mulai terdeteksi sejak Rabu pagi. "Kebakaran terjadi di Desa Ngliman yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Ponorogo," ujar Iwan.

 

Insiden kebakaran ini tidak bisa dipandang sebelah mata. Pasalnya, BMKG mencatat terdapat sedikitnya 46 titik panas (hotspot) yang tersebar di sekitar lokasi kebakaran. Dari puluhan titik panas tersebut, sebanyak 8 titik berada di wilayah Kabupaten Nganjuk. Sementara itu, 38 titik panas sisanya mengepung dua kecamatan di Kabupaten Ponorogo, yakni Kecamatan Pulung dan Kecamatan Pudak.

 

Meskipun demikian, Iwan memastikan lokasi kebakaran saat ini berada di tengah-tengah kawasan hutan sehingga relatif jauh dari pemukiman penduduk. Kendati jauh dari pemukiman, ia tetap mengimbau para petugas dan pihak berwenang untuk bergerak cepat memadamkan kobaran api agar tidak kian meluas.

 

Kebakaran kali ini menjadi peristiwa kedua yang melanda kawasan Gunung Wilis dalam kurun waktu satu bulan terakhir. Sebelumnya, pada 30 Agustus lalu, si jago merah juga sempat mengamuk di Puncak Limas yang berada di wilayah Kecamatan Ngetos, Kabupaten Nganjuk.

 

Sementara itu, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Nganjuk, Sutomo, membeberkan bahwa kebakaran diduga kuat terjadi secara alami akibat cuaca ekstrem di musim kemarau. "Gunung Wilis saat ini sedang memasuki masa kekeringan. Kondisi itu membuat pepohonan dan tanaman di lokasi mengering, sehingga sangat mudah terbakar ketika terjadi gesekan," jelas Sutomo.

Untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan, Sutomo mewanti-wanti masyarakat maupun pengunjung agar tidak melakukan aktivitas yang melibatkan api di sekitar area rawan Karhutla. "Proses pemadaman terus dilakukan dengan bantuan masyarakat. Kami mengimbau masyarakat jangan beraktivitas yang melibatkan api di lokasi rawan kebakaran," tegasnya.

 

EDITOR: Diar Candra