JawaPos.com - Kematian Serda Ahmad Muzammil Farisa yang dianiaya seniornya membuat keluarga terpukul. Apalagi, Prajurit TNI AU berusia 22 tahun itu dikenal sebagai sosok anak yang baik.
Retno Setyorini, ibunda dari Serda Ahmad Muzammil Farisa mengatakan pria yang akrab disapa Faris itu merupakan anak penurut, pendiam, ramah, dan menjadi kebanggaan keluarga.
Kini, kenangan tentang Faris tersisa di rumah duka di Desa Jonggrang, Kecamatan Barat, Kabupaten Magetan.
Baca Juga: Rezeki Mengalir Berkat Kerja Keras, 7 Weton Ini Disebut Kesayangan Dewi Sri
Di tengah luka kehilangan putranya, Retno masih mengingat betul kebiasaan Faris yang selalu berusaha menjaga salat lima waktu.
’’Sebagai seorang ibu, hati saya benar-benar hancur. Sepanjang hidupnya, anak saya tidak pernah sekalipun membantah perkataan orang tua. Dia anak yang hebat dan penurut,’’ tutur Retno, dikutip Radar Madiun (Jawa Pos Group), Rabu (16/9).
Menjaga salat menjadi salah satu pesan yang selalu disampaikan Retno kepada Faris. Setiap berkomunikasi melalui telepon, dia tak pernah lupa mengingatkan putranya agar tidak meninggalkan kewajiban tersebut.
Pesan itu, menurut Retno, benar-benar dipegang Faris. Dia mengaku mendapat cerita dari senior putranya di Lanud Halim Perdanakusuma bahwa Faris dikenal disiplin menjalankan salat.
Namun, Kamis (10/9) dini hari menjadi waktu yang tak akan mudah dilupakan Retno. Sekitar pukul 04.15, selepas bangun dan bersiap melaksanakan salat Subuh, dia menyalakan ponselnya.
Baca Juga: Segar dan Cantik, Begini Cara Membuat Es Jeli Hijau dari Bayam
Rentetan panggilan tak terjawab dan pesan WhatsApp memenuhi layar. Firasat buruk seketika muncul. Retno kemudian menghubungi salah seorang rekan seangkatan Faris dari letting 53.
Saat itu, dia belum mendapatkan penjelasan mengenai kondisi putranya dan hanya diminta bersabar serta ikhlas. Kepastian yang menghancurkan hati justru didapat ketika Retno membuka grup WhatsApp paguyuban orang tua letting 53. Ucapan belasungkawa telah memenuhi percakapan.
’’Saat membaca ucapan innalillahi di grup itu, saya langsung lemas dan hancur,’’ ungkapnya.
Jenazah Serda Ahmad Muzammil Farisa tiba di rumah duka pada Jumat sekitar pukul 01.00. Pemakaman secara militer semula direncanakan berlangsung pada pagi hari. Namun, keluarga meminta jenazah segera dikebumikan pada dini hari tersebut.
Baca Juga: Dari Rajin Menabung hingga Takut Berutang, Ini 8 Kebiasaan karena Cemas soal Uang
Semasa hidup, Serda Faris bertugas sebagai anggota Dinas Psikologi TNI Angkatan Udara (Dispsiau). Di balik kepergian Faris, keluarga masih menantikan kejelasan mengenai peristiwa yang menyebabkan kematiannya.
Keluarga sebelumnya menyebut menerima informasi bahwa Faris diduga mengalami penganiayaan oleh senior. Dugaan penganiayaan Serda Faris tersebut masih memerlukan pengusutan dan keterangan resmi dari pihak berwenang.
Keluarga berharap perkara yang merenggut putra sulung mereka dapat diusut hingga tuntas. Bagi Retno, kehilangan itu meninggalkan luka mendalam.