JawaPos.com - Tim Simone, penampil di Simbang Kulon Night Carnival (SKNC) 2026 Pekalongan yang viral karena diduga mengusung unsur satanic, akhirnya meminta maaf ke publik.
Mereka mengaku hanya menyewa kostum untuk tampil di karnaval tanpa memahami maknanya.
Perwakilan Tim Simone, M. Akhid, menegaskan aksi panggung yang memicu kontroversi di Kota Santri tersebut murni terjadi karena keterbatasan literasi timnya, bukan sengaja menggelar pertunjukan bermakna ritual.
"Kami dari perwakilan Tim Simone meminta maaf. Kami menyesal karena kami kurang literasi," ujar Akhid, dikutip dari Metro Pekalongan (JawaPos Group), Selasa (15/9).
Baca Juga: Peserta Kostum 'Satanic' Meninggal Usai Bikin Heboh Karnaval Pekalongan 2026
Berawal dari Referensi YouTube dan Kostum Sewaan
Akhid menjelaskan, konsep pertunjukan murni lahir dari ketertarikan tim terhadap visual kostum unik dalam berbagai festival di daerah lain.
Seluruh ide peragaan dan gerakan disusun mandiri dengan melihat tayangan di platform video.
"Kalau awalnya kami tidak tahu mengenai apa itu ritual satanic. Kami hanya melihat apa yang menurut kami unik dari festival lain, lalu kami sewa (kostum), lalu kami adaptasi di sini," kata Akhid.
Kostum bernuansa monster tersebut disewa langsung dari Malang, Jawa Timur. Sementara itu, rancangan gerakannya mengadaptasi referensi video pertunjukan karnaval dari daerah seperti Malang dan Magelang.
Mereka beranggapan tampilan tersebut sekadar konsep visual yang menarik untuk memeriahkan acara.
Baca Juga: Oknum Guru SD di Pekalongan yang Mesum hingga Terekam CCTV Ngaku Bersalah dan Minta Maaf
Sorotan Publik dan Duka di Tengah Kontroversi
Pertunjukan SKNC 2026 di Pekalongan menuai perbincangan hangat publik setelah videonya beredar.
Itu lantaran salah satu penampilnya menampilkan aksi teatrikal properti gelap, visual mirip pentagram terbalik, hingga penggunaan kambing hidup pada Kamis (10/9) malam.
Hal ini memicu polemik netizen karena acara berlangsung di Kabupaten Pekalongan yang dikenal sebagai Kota Santri.
Kostum itu kian menjadi sorotan setelah seorang peserta karnaval bernama Ahmad Faiz (40) dilaporkan meninggal dunia pada Jumat (11/9) sekitar pukul 04.00 WIB, selang beberapa jam usai mengikuti rangkaian acara hingga tengah malam.
Meski demikian, belum ada keterangan resmi yang membuktikan bahwa kematian almarhum maupun gelaran SKNC 2026 berkaitan dengan unsur mistis dan ajaran satanisme.
Baca Juga: Oknum Kepsek dan Guru SD di Pekalongan Mesum hingga Terekam CCTV
Pihak panitia melalui representasinya, Ziyad, mengakui bahwa kejadian tersebut berlangsung pada malam kontes.
Namun, panitia tidak mengetahui secara mendalam rincian konsep yang diusung oleh tim peserta.
Evaluasi Kegiatan Kebudayaan Lokal
Menanggapi gejolak di masyarakat, Plt Bupati Pekalongan Sukirman tetap mengapresiasi semangat kemandirian warga Simbang Kulon dalam menggelar festival kebudayaan.
Meski begitu, ia menekankan pentingnya evaluasi menyeluruh agar adegan pertunjukan yang disaksikan beragam kalangan, termasuk anak-anak, tidak menimbulkan salah tafsir.
"Ke depan tentu saja ini akan menjadi evaluasi penting agar setiap kampung yang akan menyelenggarakan festival, temanya harus sesuai dengan kultur, adat, kebiasaan," tegas Sukirman.
Baca Juga: Rute Trans Jateng Diperpanjang hingga KIT Batang, Jangka Panjang sampai Pekalongan
Simbang Kulon Night Carnival 2026 sendiri diselenggarakan oleh 25 barisan berbasis musala setempat dalam rangka peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW dan khitan massal.
Mengusung tema “Nyawiji ing Budaya, Ngukuhake Paseduluran”, ajang ini sejatinya ditujukan untuk mempererat silaturahmi dan melestarikan tradisi warga lokal.