JawaPos.com - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Timur batal melakukan water bombing langsung ke titik api Karhutla Gunung Bromo pada Minggu (13/10).
Pemadaman lewat jalur udara menggunakan helikopter Helikopter PK-DAP terhambat angin kencang dan abu vulkanik Gunung Semeru yang mengarah ke wilayah Ranupani.
"Saat ini di sejumlah daerah, termasuk di kawasan Bromo ini sedang terjadi angin kencang yang kecepatannya mencapai 19 knot. Dengan kecepatan ini, operasi water bombing tidak bisa kita lakukan," ujar Kalaksa BPBD Jatim Gatot Soebroto, dikonfirmasi JawaPos.com, Senin (14/11).
Dengan kondisi tersebut, upaya pemadaman api dilakukan tim gabungan melalui jalur darat dengan menggunakan tangki air pemadam kebakaran.
Baca Juga: Gunakan Gepyok dan Jet Shooter, BPBD Malang Sebut Kobaran Api di Bromo Telah Padam
Pemadaman dilakukan dengan melibatkan Tim BPBD Jatim, Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), BPBD Kabupaten Malang, TNI, Polri, Manggala Agni dan masyarakat setempat.
Hingga Minggu (13/9) sore, kata dia, titik api yang tersisa berada di kawasan Jemplang, Watu Gede, dan Gunung Kursi.
Upaya pemadaman di sejumlah titik itu terkendala lokasi yang jauh dan medan yang terjal.
"Yang perlu juga diwaspadai dari angin kencang ini adalah bara api yang belum benar-benar padam, bisa menyala lagi akibat hembusan angin yang kencang," kata Gatot.
Kepala Balai Besar TNBTS Rudijatna Tjahja mengatakan, sejak Sabtu (12/9), pihaknya telah memutuskan menutup semua jalur wisata di kawasan Gunung Bromo.
Baca Juga: Angin Kencang dan Awan Tebal Membuat BPBD Jatim Urung Lakukan Water Bombing di Kawasan Bromo
Penutupan dilakukan untuk mengantisipasi dampak buruk Karhutla bagi kesehatan dan keselamatan pengunjung Gunung Bromo.
"Karena asap dan partikel-partikel benda yang terbakar bisa mengganggu kesehatan pengunjung dan gangguan jarak pandang juga bisa berdampak pada keselamatan pengunjung," terangnya.