JawaPos.com - Lembaga Penyelenggara Pelayanan Navigasi Penerbangan Indonesia (AirNav Indonesia) resmi mengoperasikan Jaringan Komunikasi Penerbangan Nasional (JARKOMPENAS). Infrastruktur ini disiapkan sebagai digital backbone untuk mengakselerasi pengembangan berbagai sistem dan aplikasi penerbangan berbasis digital di Indonesia.
Pengoperasian JARKOMPENAS sekaligus mencatatkan sejarah baru dengan menerapkan teknologi Software-Defined Wide Area Network (SD-WAN) pertama di dunia untuk sektor penerbangan. Kesiapan operasional jaringan komunikasi ini ditandai dengan penandatanganan Berita Acara Layak Operasi (BALO) JARKOMPENAS bersama Konsorsium Jasnikom–XL Smart di Sheraton Hotel Surabaya, Selasa (8/9).
Direktur Teknik AirNav Indonesia Zainal Arifin Harahap menjelaskan JARKOMPENAS merupakan fondasi utama dalam transformasi digital navigasi udara nasional. Infrastruktur terintegrasi ini mengoneksikan seluruh unit pelayanan AirNav, pemangku kepentingan domestik seperti Kementerian Perhubungan, Angkasa Pura, BMKG, dan Basarnas, hingga jejaring internasional di kawasan Asia-Pasifik.
"Untuk kawasan Asia-Pasifik, kami menghubungkan dengan CRV atau Common Aeronautical VPN. Dari masing-masing jaringan tersebut dikoneksikan ke masing-masing cabang di kita, di dalam negeri melalui JARKOMPENAS," ujarnya.
Zainal menjelaskan salah satu keunggulan utama JARKOMPENAS terletak pada pemanfaatan teknologi SD-WAN. Zainal menegaskan, penggunaan SD-WAN pada industri navigasi udara di Indonesia ini merupakan yang pertama kalinya di kawasan Asia-Pasifik, bahkan di tingkat global.
Teknologi pintar ini memungkinkan sistem untuk memilih kualitas jaringan atau link terbaik secara otomatis dari beberapa jalur konektivitas yang tersedia.
"Perangkat SD-WAN yang dipasang tidak lagi melihat jaringan secara terpisah, tetapi secara otomatis memilih mana kualitas link terbaik agar paket data dari titik A ke titik B terkirim tanpa hambatan. Untuk aplikasi umum di luar penerbangan, SD-WAN memang sudah sering dipakai, tetapi untuk navigasi penerbangan, kita adalah yang pertama," kata Zainal.
Ia melanjutkan, JARKOMPENAS mendukung implementasi standar global System Wide Information Management (SWIM). Konsep ini memungkinkan seluruh pemangku kepentingan penerbangan untuk saling bertukar data secara real-time dan terintegrasi.
Ia mencontohkan ketika terjadi bencana alam seperti erupsi gunung berapi, penyebaran informasi melalui JARKOMPENAS jauh lebih cepat. Informasi publikasi mengenai adanya guguran abu vulkanik maupun NOTAM penutupan bandara bisa dilakukan jauh lebih cepat dan mudah diakses.
'"Sebelum ada JARKOMPEMAS, kalau misalnya Makassar ingin berhubungan langsung dengan Palembang, dulu harus melalui Jakarta, dari Jakarta baru datanya dikirimkan ke Palembang. Tapi itu pun melalui proses yang cukup rumit," ucapnya.