JawaPos.com - Mekanisme pemilihan sembilan nama calon anggota Ahlul Halli Wal Aqdi (AHWA) dalam Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU), mendapat respons pro dan kontra dari kalangan ulama.
Salah satunya Rais Syuriah PCNU Kabupaten Garut, KH Amin Muhyiddin Maolani. Menurutnya, mekanisme yang mengharuskan peserta menulis 9 nama calon AHWA dan dimasukkan ke kotak berpotensi menimbulkan kecurangan.
’’Di registrasi, peserta diminta menyerahkan 9 nama calon AHWA secara tertulis, kemudian dimasukkan dalam kotak. Memang kotaknya dikunci, tetapi kita kan tidak tahu kuncinya dipegang siapa?’’ katanya, Minggu (30/8).
Ia menilai mekanisme tersebut perlu menjadi perhatian agar proses pemilihan berlangsung transparan, terbuka, dan mampu memberikan rasa percaya kepada seluruh peserta Muktamar terhadap hasil yang ditetapkan.
Baca Juga: Mojtaba Khamenei: AS dan Israel Bukan Cuma Musuh Iran, tapi Seluruh Dunia Islam
’’Makanya, tetap ada kemungkinan-kemungkinan kecurangan yang bisa terjadi dalam proses memasukkan nama ke dalam kotak,’ imbuhnya.
KH Amin menilai mekanisme pemilihan AHWA dapat dibuat lebih sederhana, yakni peserta menuliskan sembilan nama calon dalam pleno, lalu menyerahkannya kepada panitia untuk dihitung secara terbuka.
’’Sebenarnya apa susahnya kalau pada waktunya, dalam rapat pleno, kita menulis sembilan nama ulama calon anggota AHWA, kemudian langsung diberikan kepada panitia? Itu sebenarnya sederhana,’’ tanyanya.
Mekanisme tersebut dialami sendiri oleh Kiai Amin. Ia mengaku harus melalui proses pemilihan AHWA yang dinilainya cukup panjang dan berbelit sejak kedatangannya bersama rombongan peserta.
Awalnya, Kiai Amin datang bersama rombongan dan turut mengawal dua bus peserta. Namun, sebagian rombongan tiba lebih dahulu sehingga ia harus menunggu peserta lainnya sebelum proses pemilihan berlangsung.
Menurut Kiai Amin, mekanisme pemilihan sebenarnya dapat dilakukan dengan cara lebih sederhana. Para rais dan kiai cukup dikumpulkan, kemudian masing-masing menuliskan 9 nama calon anggota AHWA.
Dengan mekanisme yang sederhana dan terbuka, potensi kecurangan dapat dipersempit, sekaligus membuat peserta lebih percaya terhadap proses serta hasil pemilihan anggota AHWA.
Baca Juga: Perkuat Infrastruktur Digital Dukung Kawasan Industri BeFa yang Siap AI
"Menurut saya, tidak ada political will atau kemauan politik yang kuat dari panitia untuk kemudian mengakomodasi usulan para kiai sepuh," ucap Kiai Amin.
Meski mengaku kecewa, ia tetap berharap proses pemilihan dalam forum tertinggi NU tersebut dapat berjalan lancar, dengan mengedepankan kesederhanaan, transparansi, serta menghormati aspirasi para kiai.