JawaPos.com - Korem 091/Aji Surya Natakesuma (ASN) bersama masyarakat menggelar Salat Istisqa di Lapangan Makorem Samarinda, Sabtu (29/8).
Ibadah tersebut dilakukan sebagai ikhtiar spiritual untuk memohon turunnya hujan di tengah kemarau panjang yang melanda Kalimantan Timur (Kaltim). Kondisi kemarau panjang meningkatkan potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Kaltim.
Komandan Korem 091/ASN Brigjen TNI Anggara Sitompul mengatakan Salat Istisqa menjadi bagian dari upaya menghadapi kondisi kekeringan. Menurutnya, ikhtiar menghadapi karhutla tidak hanya dilakukan melalui penanganan langsung di lapangan, tetapi juga melalui doa.
"Di samping aktivitas fisik di lapangan, kami juga berikhtiar memohon kepada Tuhan Yang Maha Kuasa melalui doa. Salat Istisqa ini adalah bentuk permohonan agar diberikan kemudahan bagi personel di lapangan dan berharap hujan segera turun di wilayah Kaltim," kata Anggara.
Imbau Umat Beragama Lain Berdoa
Anggara juga mengajak masyarakat dari berbagai agama untuk melakukan ikhtiar spiritual sesuai dengan keyakinan masing-masing. Menurutnya, doa dapat menjadi bagian dari upaya bersama menghadapi dampak kemarau panjang.
Ajakan tersebut disampaikan seiring dengan meningkatnya kebutuhan untuk mengatasi kekeringan dan ancaman karhutla di Kaltim. Upaya penanganan di lapangan tetap berjalan, sementara masyarakat juga didorong untuk menjaga lingkungan dan menggunakan sumber daya air secara bijak.
Langkah Korem 091/ASN tersebut mendapat apresiasi dari Wali Kota Samarinda Andi Harun. Ia mengajak masyarakat di Kaltim memperkuat upaya penanganan kekeringan dengan pendekatan spiritual.
"Tidak semua bisa diupayakan hanya melalui tangan manusia. Tentu kita juga sangat membutuhkan pertolongan Tuhan,” ujar Andi Harun.
Samarinda Tetapkan Darurat Kekeringan
Andi Harun mengatakan Pemerintah Kota Samarinda telah menetapkan status darurat kekeringan selama 14 hari. Kebijakan tersebut diambil karena kondisi wilayah Samarinda telah memasuki fase siaga.
"Fokus utama pemerintah saat ini adalah krisis air bersih akibat menyusutnya Sungai Mahakam," ungkap Andi Harun.
Menyusutnya debit Sungai Mahakam menjadi perhatian pemerintah karena sungai tersebut memiliki peran penting dalam pemenuhan kebutuhan masyarakat. Kondisi kekeringan juga berpotensi meningkatkan persoalan lain, termasuk ketersediaan air bersih dan ancaman kebakaran lahan.
Karena itu, pemerintah bersama berbagai pihak terus melakukan langkah penanganan untuk mengantisipasi dampak kemarau. Kolaborasi antara pemerintah, aparat, dan masyarakat dinilai penting untuk menghadapi kondisi tersebut.
Imam Ajak Jaga Kelestarian Alam
Salat Istisqa digelar mulai pukul 07.00 WITA dan dipimpin Imam KH Muhammad Subhan. Ratusan jamaah mengikuti rangkaian ibadah tersebut di Lapangan Makorem Samarinda.
Dalam khutbahnya, KH Muhammad Subhan mengingatkan jamaah agar meningkatkan ketakwaan. Nilai tersebut, kata dia, juga perlu diwujudkan melalui kepedulian terhadap lingkungan dan upaya menjaga kelestarian alam.
Pesan tersebut menjadi relevan di tengah ancaman kekeringan dan karhutla yang terjadi di Kaltim. Selain memohon hujan, masyarakat juga diingatkan untuk berperan dalam menjaga lingkungan agar risiko bencana dapat ditekan.
Salat Istisqa pun menjadi simbol ikhtiar bersama menghadapi kondisi alam yang semakin kering. Di tengah upaya penanganan karhutla dan krisis air bersih, doa diharapkan menjadi penguat bagi masyarakat dan personel yang bekerja di lapangan.