← Beranda
Peserta Muktamar NU Dikarantina di Asrama Haji Surabaya, Ulama Soroti Dugaan Intervensi
Novia HerawatiJumat, 28 Agustus 2026 | 20.00 WIB
Asrama Haji Sukolilo, Surabaya, yang diduga menjadi tempat transit peserta Muktamar ke-35 NU sebelum pembukaan di Jombang. (Novia Herawati/ JawaPos.com)

 

JawaPos.com - Dua hari menjelang pembukaan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Jombang, sejumlah peserta berdatangan ke Asrama Haji Sukolilo, Surabaya. Fenomena ini menjadi sorotan publik.

Tidak diketahui secara pasti agenda berkumpulnya peserta Muktamar di Asrama Haji tersebut. Lokasi dijaga ketat petugas, sementara awak media dilarang masuk untuk melakukan tugas peliputan.

Menanggapi hal tersebut, Pengasuh Pondok Pesantren Al-Mizan Majalengka, KH Maman Imanulhaq, mengaku prihatin dengan fenomena karantina sejumlah peserta Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) di Asrama Haji Sukolilo.

Sebagai warga NU, Kiai Maman, sapaan karibnya, menilai langkah ini tak mencerminkan etika permusyawaratan. Apalagi, muncul dugaan campur tangan eksternal yang dinilai berpotensi memengaruhi kebebasan sikap peserta.

Baca Juga: Harga Emas Antam Turun Pagi Ini Jumat 28 Agustus, Cek Rincian Pegadaian, Galeri24, dan UBS

’’Dalih apa pun, kalau sampai ada upaya mengondisikan peserta, apalagi dimobilisasi sedemikian rupa, tentu itu tidak patut dan bisa mencederai marwah Muktamar,’’ katanya, dikutip dari Jawa Pos Radar Jombang, Jumat (28/8).

Menurut anggota Dewan Syuro DPP PKB itu, Muktamar NU semestinya menjadi ruang bagi peserta untuk menyampaikan pandangan serta menentukan sikap secara bebas, demokratis, dan bertanggung jawab.

Karena itu, peserta seharusnya tidak ditempatkan dalam kondisi yang berpotensi membatasi kebebasan mereka, terlebih jika terdapat pihak tertentu yang berupaya mengarahkan sikap peserta.

’’Peserta Muktamar itu seharusnya merdeka dengan sikapnya, demokratis dalam tindakannya, bukan malah dikekang. Muktamar ini forum untuk bermusyawarah, bukan tempat mengondisikan peserta,’’ tegas Kiai Maman.

Dalam kesempatan yang sama, ia meminta panitia Muktamar segera menelusuri secara serius dugaan adanya pihak tertentu yang menginisiasi atau berada di balik berkumpulnya sejumlah peserta tersebut.

Ia berharap persoalan ini tidak berkembang menjadi spekulasi publik. Jika ditemukan intervensi atau upaya pengondisian peserta, pihak yang terlibat harus diungkap secara transparan.

’’Panitia harus segera mencari tahu, kalau memang ada pihak yang mencoba mengintervensi peserta, ungkap secara terbuka kepada publik. Jangan sampai persoalan ini justru menimbulkan kecurigaan dan mencederai proses Muktamar,’’ pungkasnya.

Kiai Maman berharap semua pihak mengutamakan kepentingan organisasi dan persatuan warga NU. Menurutnya, legitimasi hasil Muktamar ditentukan oleh proses yang demokratis, terbuka, dan bermartabat.

EDITOR: Sabik Aji Taufan