JawaPos.com - Teknologi berbasis Artificial Intelligence (AI) membantu memprediksi potensi kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) berhasil dibuat. Teknologi ini bisa memprediksi lokasi hingga waktu 24 bulan ke depan.
Pengusaha sekaligus pengembang teknologi asal Kalimantan Barat, Hajon Mahdy menghibahkan teknologi ini kepada Pemprov Kalbar. Dia berharap upaya pencegahan karhutla lebih maksimal.
Sistem yang dikembangkan Hotama Technologies ini menggunakan pendekatan predictive analytics berbasis AI, dengan mengolah berbagai variabel dan data terkait untuk menghasilkan pemetaan tingkat risiko Karhutla pada suatu wilayah dalam periode tertentu.
Teknologi ini tidak menghasilkan prediksi absolut, melainkan bersifat meningkatkan probabilitas dan tingkat risiko untuk mengetahui lokasi dan waktu karhutla.
Baca Juga: Pemerintah Perluas Integrasi Simbara, Awasi Lingkungan hingga Ketenagakerjaan di Smelter
“Selama ini teknologi banyak digunakan ketika titik api sudah muncul. Kami ingin mendorong pendekatan yang lebih preventif. Dengan data yang cukup, AI dapat membantu membaca pola dan memberikan gambaran risiko jauh lebih awal, sehingga kita memiliki waktu untuk melakukan mitigasi,” ujar Hajon, Kamis (27/8).
AI ini sudah dikenalkan dalam diskusi penanganan Karhutla yang diinisiasi PMI Kalimantan Barat.
Teknologi tersebut kini membutuhkan sumber data untuk membuat prediksi. Semakin lengkap dan berkualitas data yang tersedia, peluang model menghasilkan pemetaan risiko juga meningkat.
Salah satu fitur utama yang dikembangkan adalah Peat Fire Vulnerability Index (PFVI), sebuah indeks yang dirancang untuk membantu mengidentifikasi dan memetakan tingkat kerentanan kebakaran pada kawasan gambut.
Keberadaan PFVI menjadi penting karena kawasan gambut memiliki karakteristik kebakaran yang berbeda dengan lahan mineral. Ketika gambut mengering, api dapat menjalar ke lapisan bawah permukaan sehingga lebih sulit dideteksi dan dipadamkan.
Melalui Peat Fire Vulnerability Index, sistem dapat menggabungkan sejumlah indikator relevan untuk menghasilkan klasifikasi tingkat kerentanan kawasan gambut.
Data tersebut kemudian dapat dipadukan dengan model prediksi AI sehingga sistem tidak hanya menjawab pertanyaan “di mana terdapat hotspot?”, tetapi bergerak lebih awal untuk membantu menjawab “wilayah gambut mana yang semakin rentan dan perlu mendapatkan intervensi sebelum kebakaran terjadi?”
“Kalau kita baru bergerak setelah hotspot muncul, kita sudah berada pada fase kejadian. Peat Fire Vulnerability Index kami kembangkan agar kita bisa melihat kerentanan kawasan lebih awal. Tujuannya sederhana: jangan menunggu ada api untuk mulai bergerak,” jelasnya.
Baca Juga: Komisi XI DPR Setujui Destry Damayanti sebagai Gubernur BI 2026-2031
Dengan teknologi seperti ini diharapkan upaya pencegahan karhutla lebih optimal. Sehingga, pemerintah tidak hanya bergerak setelah kebakaran terjadi.
“Bayangkan jika kita mengetahui sebuah kawasan memiliki tren risiko yang meningkat beberapa bulan sebelum memasuki kondisi kritis. Pemerintah dan petugas lapangan memiliki waktu untuk melakukan intervensi,” ujarnya.
Hajon memastikan teknologi ini diberikan secara gratis. AI ini diharapkan bisa digunakan maksimal untuk kepentingan luas.
“Teknologinya kami hibahkan. Kami tidak meminta pemerintah membeli sistem ini. Yang kami harapkan adalah kolaborasi dan akses terhadap data yang relevan agar AI dapat bekerja semakin baik dan manfaatnya dapat dirasakan masyarakat,” tandasnya.