JawaPos.com - Guru korban gempa bumi di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur, Maria Epivania Getrudis, menceritakan pengalaman mencekam saat gempa terjadi kepada Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti. Ia mengaku berlari sekitar 100 meter menuju tempat aman tanpa menyadari dirinya sudah mengalami luka.
“Kami langsung lari keluar. Kami tidak melihat lagi apa yang kami injak. Sempat jatuh karena ada tangga, tetapi tetap lari sekitar 100 meter sampai ke tempat kosong,” tutur Maria saat bertemu Mu'ti di SD Inpres Ngelapadhi, Kabupaten Ngada, Selasa (25/8).
Maria merupakan guru dari TKN Libunio yang menjadi salah satu korban luka dalam gempa. Ia menuturkan, saat gempa terjadi, dirinya dan suami sedang tertidur sebelum terbangun oleh teriakan anggota keluarga yang memperingatkan adanya gempa.
Keduanya langsung berusaha menyelamatkan diri dengan berlari keluar rumah. Dalam kondisi panik dan gelap, Maria tidak lagi memperhatikan pijakan hingga sempat terjatuh karena tangga.
Baca Juga: BGN Ubah Jam Kerja Baru Kepala Dapur SPPG, Absen Lewat Zoom Pukul 02.00
Setelah berhasil mencapai tempat yang dianggap aman, Maria baru menyadari bahwa dirinya dan sejumlah anggota keluarga mengalami luka akibat kejadian tersebut.
Pengalaman itu juga meninggalkan trauma bagi Maria. Hingga kini, getaran kecil terkadang membuatnya spontan berpikir bahwa gempa kembali terjadi.
Meski begitu, ia mengaku terharu ketika mendapat kesempatan bertemu langsung dengan Mu'ti. Kehadiran Menteri di wilayah yang berada di ujung timur Indonesia dinilai memberikan dukungan sekaligus membantu mengobati trauma yang dialaminya.
“Bertemu langsung dengan Bapak Menteri merupakan suatu kebanggaan bagi kami. Kami yang berada di ujung timur bisa dikunjungi oleh Bapak Menteri dari pusat, itu luar biasa. Trauma-trauma kami sebelumnya semakin terobati dengan kehadiran Bapak Menteri,” tutur Maria.
Mendikdasmen Abdul Mu’ti pun mengapresiasi keteguhan para guru yang tetap menjalankan tugas di tengah kondisi pascagempa.
“Bapak ibu sudah menjadi guru yang hebat, membangkitkan semangat dan mencerdaskan anak-anak kita,” ujar Abdul Mu’ti.
Selain berdialog dengan guru, Abdul Mu’ti juga berinteraksi dengan para murid di SD Inpres Ngelapadhi. Para siswa menyambut kedatangannya dengan menyanyikan lagu Rukun Sama Teman dan Mendikdasmen turut bernyanyi bersama mereka.
Kemendikdasmen Salurkan Santunan Rp 305 Juta
Dalam kunjungannya ke Kabupaten Ngada dan Nagekeo, Kemendikdasmen menyalurkan santunan dengan total Rp 305 juta bagi guru dan murid yang menjadi korban gempa.
Santunan duka diberikan sebesar Rp 25 juta. Rinciannya, Rp 10 juta untuk satu guru yang meninggal dunia dan masing-masing Rp 5 juta untuk tiga murid yang meninggal dunia akibat bencana.
Sementara itu, Rp 270 juta diberikan kepada guru yang mengalami luka-luka dan Rp 10 juta kepada murid yang mengalami luka-luka.