JawaPos.com - Kementerian Kehutanan (Kemenhut) telah mengevakuasi seekor orang utan dari wilayah Ketapang, Kalimantan Barat (Kalbar). Langkah itu diambil di tengah kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Pulau Borneo. Untuk menghindari ancaman api, petugas mengupayakan evakuasi 3 individu lainnya.
Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Kerja Sama Luar Negeri Kemenhut Ristianto Pribadi menyampaikan bahwa evakuasi orang utan dari wilayah terdampak karhutla dilakukan oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalbar setelah mendapat informasi dari masyarakat.
”BKSDA Kalbar telah menindaklanjuti informasi mengenai keberadaan sejumlah orang utan di lokasi tersebut. Berdasarkan penanganan sementara, tim telah berhasil menyelamatkan dan mengevakuasi satu individu orangutan,” kata Ristianto dikutip Sabtu (22/8).
Saat ini, BKSDA Kalbar sudah mengidentifikasi keberadaan 3 orang utan di lokasi yang sama. Petugas juga telah menyusun rencana untuk menyelamatkan ketiga individu satwa liar dilindungi tersebut. Namun, prosesnya belum bisa dilakukan karena ketiga orang utan itu terus berpindah posisi.
Baca Juga: KPK Ungkap Jual Beli Kursi Maba Unsoed, Rp 650 Juta untuk Fakultas Kedokteran
”Dalam penanganan satwa liar, keselamatan orang utan, petugas, dan masyarakat menjadi pertimbangan utama sehingga tindakan harus dilaksanakan secara hati-hati sesuai kondisi lapangan,” terang dia.
Kemenhut memastikan, BKSDA Kalbar terus memantau pergerakan ketiga orang utan tersebut. Mereka juga menyiagakan tim di lokasi untuk melakukan evakuasi sewaktu-waktu. Upaya penyelamatan akan dilanjutkan saat posisi satwa memungkinkan untuk dilakukan evakuasi secara aman.
Kepada masyarakat yang melihat keberadaan orang utan tersebut, Kemenhut mengimbau agar tidak mendekati, mengejar, memberi makan, atau melakukan tindakan yang dapat membuat satwa tersebut merasa tertekan. Ristianto meminta masyarakat mempercayakan penangannya kepada petugas di lapangan.
”Kami mengapresiasi perhatian dan kepedulian masyarakat terhadap keselamatan orang utan. Setiap perkembangan penanganan akan disampaikan berdasarkan hasil pemantauan dan verifikasi petugas di lapangan,” ujarnya.
Terpisah, Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan menyampaikan bahwa penanggulangan karhutla di Kalimantan masih menjadi prioritas utama pemerintah saat ini. Selain penguatan Satgas Darat, BNPB juga melakukan penguatan Satgas Udara.
”Di Kalimantan Selatan (Kalsel) BNPB mengoperasikan 1 unit helikopter untuk patroli, 1 unit untuk OMC (Operasi Modifikasi Cuaca) dan 3 unit untuk water bombing,” kata Berton pada Jumat (21/8).
Di Kalimantan Tengah (Kalteng), 1 unit helikopter difungsikan untuk patroli, 1 unit untuk OMC, dan 4 lainnya untuk operasi pemadaman udara atau water bombing. Sementar di Kalimantan Barat (Kalbar), BNPB mengoperasikan 2 unit helikopter untuk patroli, 1 unit untuk operasi modifikasi cuaca, dan 5 unit untuk water bombing.
”Pengoperasian helikopter tersebut akan terus disesuaikan dengan kebutuhan di lapangan,” imbuhnya.
Khusus OMC, dalam pelaksanaannya BNPB berkolaborasi dengan BMKG untuk memantau pertumbuhan potensi awan hujan yang dapat dimanfaatkan memancing hujan. BNPB juga mengimbau pemerintah daerah dan masyarakat tetap meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi karhutla.