← Beranda
Pindahkan Ruang BK ke Aplikasi agar Siswa Lebih Nyaman Curhat
Ilham SafutraRabu, 19 Agustus 2026 | 03.08 WIB
Siswi SMP Negeri 1 Lubuk Pakam memaparkan soal aplikasi Perisai Pintar. (Istimewa)

 

JawaPos.com - Siswa SMP umumnya sudah masuk masa puber. Di usia itu mereka membutuhkan ruang ekspresi, minimal mencurahkan isi hati (curhat) yang sedang dihadapi. Tapi, lokasinya bukan ruang bimbingan konseling (BK). 

Para siswa SMP Negeri 1 Lubuk Pakam, Sumatera Utara (Sumut) memindahkan fungsi ruang BK ke ruang digital sehingga lebih leluasa bercerita dengan nama anonim. 

Ruang curhat digital pengganti BK itu bernama Perisai Pintar. Sebuah aplikasi yang memudahkan siswa menyampaikan cerita maupun keluhan secara anonim kepada guru BK.

Mennusuriani Saragih, guru BK SMP Negeri 1 Lubuk Pakam bercerita bahwa sebelumnya sekolah telah menyediakan kotak curhat sebagai ruang bagi siswa untuk menyampaikan cerita. Dalam perjalanannya tidak efektif. Pengalaman itu mendorong siswa mencari pendekatan yang menurut mereka lebih sesuai dengan kebiasaan teman-temannya.

Baca Juga: 6 Zodiak yang Ahli Menjaga Rahasia, Cocok Menjadi Teman Curhat Saat Hidup Terasa Berat

Saat dilakukan observasi, sekitar 60 persen siswa menyarankan ada aplikasi tempat bercerita yang bisa merahasiakan identitas siswa. Maka, lahirnya Perisai Pintar, sebuah aplikasi berbasis AI. Di aplikasi itu siswa bisa bercerita secara anonim.

Mennusuriani menyebut perubahan itu karena menggunakan pendekatan Challenge Based Learning (CBL). Yaitu, membantu siswa belajar bekerja sama dan bergotong royong dalam mengembangkan inovasi.

“Yang saya lihat dari materi CBL, anak-anak akhirnya bisa bekerja sama, bergotong royong dalam melaksanakan program CBL ini di sekolah,” ujarnya.

Kehadiran Perisai Pintar ini sangat dirasakan positifnya oleh siswa. Seperti yang diakui siswa bernama Angelika Patresia Gultom. Dia melihat Perisai Pintar sebagai wadah yang lebih nyaman bagi siswa lainnya untuk menyampaikan persoalan yang sulit diceritakan secara langsung.

"Jadi ngerti gimana perasaannya kalau curhat itu enggak didengar. Jadi kalau ada Perisai Pintar ini, kami punya tempat untuk berkeluh kesah,” akunya. 

Baca Juga: 10 Hal yang Perlu Anda Ketahui Sebelum Curhat kepada AI Menurut Psikologi, Apa Sajakah Itu?

Corporate Communication & CSR Manager PT Trakindo Utama Candy Sihombing mengatakan, inovasi yang dilakukan SMP Negeri 1 Lubuk Pakam merupakan salah satu bagian dari program GENERASI Trakindo 2026. Trakindo mengusung tema Sekolah Ramah Anak dengan pendekatan Challenge Based Learning (CBL).

"Dengan program itu siswa didorong untuk mengenali persoalan di lingkungannya, merancang solusi, dan terlibat langsung dalam menciptakan perubahan bersama warga sekolah," ujar Candy Sihombing kepada JawaPos.com pada Selasa (18/8).

Di SMP Negeri 1 Lubuk Pakam, Trakindo memberikan pelatihan kepada guru dan siswa mengenai Sekolah Ramah Anak, serta dukungan material untuk membantu proses riset dan pengembangan inovasi. Dengan pengalaman itu dapat disimpulkan bahwa pentingnya memberi ruang bagi siswa untuk mengenali persoalan di lingkungan mereka dan para siswa ikut ambil bagian dalam mencari solusi.

“Ketika siswa diberikan ruang untuk memahami persoalan di sekitarnya dan dipercaya untuk mencari solusi, mereka belajar bahwa suara dan gagasan mereka dapat memberikan dampak nyata," bebernya.

Baca Juga: Laga Sulit Persija Jakarta! Rio Fahmi Curhat Kondisi Ruang Ganti Usai Kalah dari Persebaya Surabaya di Piala Presiden 2026

Selain di SMP Negeri 1 Lubuk Pakam, program GENERASI Trakindo 2026 juga dilakukan di SDN Pelambuan 4 Banjarmasin, Kalimantan Selatan (Kalsel). Di sana, Trakindo membina kelompok siswa mengembangkan Papan Kompas (Kontrol Mulut Pastikan Sopan).

Papan itu menjadi media pembelajaran berbasis permainan edukatif yang dirancang untuk membantu siswa mengendalikan ucapan melalui sistem penghargaan dan konsekuensi. Papan Kompas itu terinspirasi dari papan perkalian yang biasa digunakan di kelas. Lalu dikembangkan menjadi permainan bertema petualangan agar lebih menarik dan mudah dipahami oleh teman-temannya.

EDITOR: Ilham Safutra