← Beranda
Mengenal EEHV, Virus yang Menyebabkan Matinya Anak Gajah di Aceh
Ilham SafutraSabtu, 15 Agustus 2026 | 06.50 WIB
ILUSTRASI: Pawang bermain dengan anak gajah sumatera di kawasan Taman Wisata Alam Buluh Cina Kabupaten Kampar, Riau, Jumat (19/3/2021). (MHD AKHWAN/RIAU POS)

 

JawaPos.com - Dunia konservasi satwa langka digegerkan dengan kematian seekor anak gajah sumatera di Pusat Latihan Gajah (PLG) Saree, Aceh.

Kementerian Kehutanan (Kemenhut) melaporkan kematian Elephas maximus sumatranus yang bernama Yuna itu akibat serangan Elephant Endotheliotropic Herpesvirus (EEHV).

Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh Ujang Wisnu Barata mengatakan, Yuna merupakan anak gajah dari induk Gajah Suci. Ia menghembuskan napas terakhir pada Selasa (11/8) malam setelah kondisi kesehatannya menurun secara cepat.

"Kondisi Yuna drop sangat cepat, yang berdasarkan diagnosa awal dipicu oleh serangan virus mematikan bagi anak gajah," ungkap Ujang Wisnu Barata kepada wartawan pada Jumat (14/8). 

Baca Juga: Lindungi Populasi dan Habitat Gajah, Menhut Raja Juli Antoni Perkuat Strategi Konservasi

Dia menjelaskan secara makroskopis, gejalanya terlihat dari pembengkakan wajah, mata merah, dan mukosa lidah kebiruan, serta perubahan mikroskopis berupa pendarahan (hemoragik) pada organ pencernaan dalam. 

Untuk mempertegas penyebab pasti matinya Yuna, BKSDA Aceh telah mengambil sampel organ guna pengujian laboratorium lebih lanjut.

Menurut Ujang, anak gajah betina berusia di bawah tiga tahun itu diduga mati akibat serangan Elephant Endotheliotropic Herpesvirus (EEHV), virus yang dikenal rentan menyerang anak gajah.

EEHV merupakan virus herpes yang secara khusus menginfeksi gajah, terutama menjadi ancaman bagi anak gajah. Virus tersebut menyerang lapisan dalam pembuluh darah atau endotelium. 

Infeksi dapat menyebabkan kebocoran darah dan cairan tubuh ke organ dalam sehingga memicu kondisi fatal dan kematian dalam waktu relatif singkat. 

Baca Juga: KBS Sebut Selama Periode Dugaan Korupsi, Hanya Satu Gajah yang Mati karena Herpes

Dalam kasus Yuna, dugaan infeksi EEHV masih memerlukan konfirmasi melalui pemeriksaan laboratorium terhadap sampel organ yang telah diambil oleh tim medis. Langkah tersebut penting untuk memastikan penyebab kematian sekaligus menjadi dasar bagi tindakan pencegahan terhadap gajah lain yang berada dalam pemantauan BKSDA Aceh.

Kondisi Yuna Memburuk dalam Hitungan Jam

Kematian Yuna menjadi perhatian karena kondisi kesehatan anak gajah itu sebelumnya masih terpantau baik. Pada Selasa pagi hingga siang hari, Yuna masih aktif beraktivitas seperti biasa.

Perubahan kondisi baru terlihat sekitar pukul 16.00 WIB. Saat itu, mahout atau pawang gajah mendapati Yuna dalam keadaan lemas, mata bengkak dan merah, wajah membengkak, serta lidah pucat membiru.

Tim dokter hewan BKSDA Aceh bersama mahout kemudian memberikan tindakan medis darurat berupa pemberian cairan infus dan multivitamin. Namun, kondisi kesehatan Yuna terus menurun secara drastis. Anak gajah tersebut kemudian terjatuh lemas dan nyawanya tidak tertolong pada pukul 20.48 WIB.

Selanjutnya, Tim medis melakukan prosedur nekropsi untuk mengetahui penyebab kematian. Proses itu kemudian dilanjutkan dengan pemakaman yang selesai pada pukul 00.30 WIB dini hari.

Anehnya, sebelum kejadian itu kondisi kesehatan Yuna berada dalam pemantauan rutin harian dan evaluasi berkala setiap tiga bulan. 

Hasil pemeriksaan medis terakhir pada Juni 2026 menunjukkan Yuna dalam keadaan sehat dengan nilai Body Condition Index Score (BCIS) 5,5. Nilai tersebut berada dalam skala ideal gajah jinak, yakni 5–7.

Gajah Anakan Lain Langsung Diperiksa

Kementerian Kehutanan (Kemenhut) di bawah kepemimpinan Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni menempatkan perlindungan gajah sumatera sebagai bagian penting dari upaya menjaga keanekaragaman hayati Indonesia. 

Pemantauan kesehatan, deteksi dini penyakit, serta penanganan medis terhadap gajah binaan menjadi bagian dari langkah konservasi untuk memastikan satwa dilindungi tersebut tetap dapat bertahan dan berkembang biak.

Kematian Yuna juga mendorong BKSDA Aceh meningkatkan kewaspadaan terhadap gajah anakan lain yang berada di wilayah kerjanya. BKSDA Aceh langsung melakukan deteksi terhadap gajah berusia di bawah 14 tahun. Langkah itu antisipasi kemungkinan munculnya kasus serupa.

Baca Juga: Presiden Prabowo Terbitkan Inpres Penyelamatan Gajah, Libatkan 9 Menteri

"Khususnya gajah Gerry, Yuyun, dan Dilan, guna mengantisipasi serta meminimalkan potensi penyebaran virus tersebut," tutup Ujang.

Upaya deteksi dini menjadi penting mengingat EEHV dapat menyebabkan penurunan kondisi kesehatan secara cepat. Pemeriksaan terhadap gajah lain diharapkan dapat membantu petugas mengetahui kondisi kesehatan satwa sedini mungkin dan mengambil tindakan medis apabila ditemukan tanda-tanda yang mengarah pada infeksi.

BKSDA Aceh juga terus melakukan pemantauan kesehatan gajah binaan sebagai bagian dari upaya menjaga populasi dan kesejahteraan satwa dilindungi tersebut.

Kasus kematian Yuna sekaligus menunjukkan pentingnya pemantauan kesehatan secara rutin, deteksi dini, serta pemeriksaan laboratorium dalam menghadapi ancaman penyakit pada populasi gajah sumatera.

EDITOR: Ilham Safutra