JawaPos.com - Sebanyak 289 siswa di Berastagi, Kabupaten Karo, Sumatera Utara, harus menjalani perawatan setelah diduga keracunan usai menyantap hidangan program Makanan Bergizi Gratis (MBG), Kamis (13/8).
Dilanair Sumut Pos (Jawa Pos Group), Insiden tersebut terjadi di SMA Negeri 1 Berastagi dan SMA Swasta Bersama Berastagi.
Hingga Kamis malam, ratusan siswa tersebut telah mendapatkan penanganan medis di lima fasilitas kesehatan.
Di RS Amanda terdapat 157 siswa, terdiri dari 137 orang yang menjalani rawat inap dan 20 lainnya menjalani rawat jalan.
Baca Juga: Prabowo Didesak Evaluasi MBG dan Klarifikasi Isu Nepotisme
Kemudian 90 siswa dirawat di RS Efarina, 35 siswa di RSUD Kabanjahe, empat siswa di RS Mina, serta tiga siswa mendapatkan penanganan di Puskesmas Berastagi.
Jumlah tersebut masih merupakan data sementara dan dapat berubah seiring proses pendataan serta pemeriksaan medis terhadap siswa yang terdampak.
Kondisi ini membuat Pemkab Karo mengambil langkah cepat untuk memastikan seluruh kebutuhan medis para siswa terpenuhi.
“Pemerintah Kabupaten Karo bertanggung jawab penuh atas keselamatan dan kesembuhan anak-anak kita. Kami pastikan perawatan medis berjalan maksimal,” tegas Bupati Karo, Antonius.
Baca Juga: Cegah Keracunan, Kepala BGN Sudaryono Larang Siswa Bawa Pulang MBG
Ia juga memastikan pemerintah daerah tidak akan membiarkan para siswa dan keluarga menghadapi persoalan tersebut sendirian.
Bagi siswa yang telah dinyatakan pulih oleh tim medis, Pemkab Karo akan memfasilitasi kepulangan mereka hingga ke rumah masing-masing.
“Jika ada siswa yang kondisinya sudah membaik dan dinyatakan sehat oleh tim dokter, proses kepulangannya akan difasilitasi langsung oleh Pemkab Karo hingga sampai ke rumah masing-masing,” lanjutnya.
Masyarakat Diminta Tunggu Investigasi
Di tengah meningkatnya jumlah siswa yang mendapatkan perawatan, penyebab pasti kejadian tersebut masih menunggu hasil investigasi dan pemeriksaan lebih lanjut.
Baca Juga: Guru Besar IPB: Batas Konsumsi 4 Jam Bukan Jaminan MBG Aman
Pemkab Karo meminta masyarakat tidak berspekulasi dan tetap mempercayakan penanganan medis kepada tenaga kesehatan serta proses penyelidikan kepada pihak berwenang.
Pemerintah daerah juga berkomitmen menyampaikan perkembangan kondisi para siswa secara terbuka kepada masyarakat.
"Insiden ini sekaligus menjadi sorotan serius terhadap pelaksanaan program MBG, khususnya terkait keamanan dan kualitas makanan yang dikonsumsi para siswa," ujarnya.
Evaluasi menyeluruh diperlukan agar kejadian serupa tidak kembali terjadi dan tujuan program pemenuhan gizi bagi peserta didik tetap berjalan tanpa mengorbankan aspek keselamatan.
Baca Juga: MBG Bisa Picu Keracunan Meski Dikonsumsi Sebelum 4 Jam, Begini Penjelasan Pakar