JawaPos.com - Pemasangan box trap atau kotak perangkap Harimau Sumatera di Nagari Pasia Laweh, Kabupaten Agam, terpaksa dilakukan oleh Badan Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumatera Barat (Sumbar). Meski kerap berkonflik dengan masyarakat, kelestarian satwa dilindungi itu tetap dijamin.
Hartono sebagai kepala BKSDA Sumbar menegaskan hal itu. Dia menyampaikan bahwa pihaknya memasang box trap di Agam setelah mendapat laporan dari masyarakat telah terjadi konflik dengan Harimau Sumatera. Satwa liar itu memasuki area pemukiman warga dan memasang beberapa ekor hewan ternak.
”Kami dari BKSDA (Sumbar) menerima laporan terkait dengan adanya interaksi negatif antara satwa Harimau (Sumatera) dengan masyarakat,” kata dia pada Kamis (13/8).
Baca Juga: PKB Bentuk Satgas Prabowonomics, Perkuat Agenda Prekonomian Presiden Prabowo
Menurut Hartono, interaksi negatif atau konflik itu memang sudah meningkat sejak beberapa bulan belakangan. Terakhir, Harimau Sumatera masuk wilayah Nagari Pasia Laweh. Kemudian memangsa beberapa hewan ternak dan beraktivitas tidak jauh dari sekolah.
”Jaranya hanya 50 meter kurang lebih dari lokasi sekolah dasar, kemudian kurang lebih 100 meter itu dari sekolah menengah pertama yang ada di sekitar TKP,” ujar Hartono.
Karena itu, BKSDA Sumbar mengirimkan tim untuk melakukan verifikasi sebelum akhirnya memasang box trap. Hartono menekankan bahwa pemasangan box trap merupakan alternatif terakhir yang dipilih oleh instansinya. Langkah itu mau tidak mau harus diambil.
”Karena memang situasi yang mengharuskan kami dari BKSDA memasang box trap, makanya kami putuskan pasang box trap pada lokasi kemunculan Harimau di lokasi yang sudah intensitasnya sangat luar biasa,” terang dia.
Selain memasang box trap, Hartono memastikan turut dilakukan edukasi kepada masyarakat. Bahwa satwa liar seperti Harimau Sumatera dilindungi. Sehingga perlakuannya harus sesuai dengan aturan dan standar yang berlaku. Tujuannya tidak lain untuk menjaga kelestarian satwa tersebut.
”Kami juga menginginkan masyarakat yang melakukan aktivitas aman dan nyaman dan kami juga menjaga keselamatan daripada Harimau yang ada di lokasi. Makanya kami memutuskan memasang box trap di lokasi kemunculan Harimau,” terang dia.
Harimau Sumatera dari Agam Dititipkan ke Lembaga Konservasi
Setelah berhasil dievakuasi, Harimau Sumatera tersebut dititipkan kepada lembaga konservasi untuk menjalani pemeriksaan dan penanganan lebih lanjut. Pemeriksaan akan dilakukan oleh tim medis dan dokter hewan untuk memastikan kondisi kesehatan satwa sebelum ditentukan langkah penanganan konservasi selanjutnya.
”Kami langsung memutuskan terhadap Harimau itu untuk sementara waktu akan kami titipkan pada lembaga konservasi, untuk observasi lebih lanjut sebelum kami memutuskan terhadap Harimau itu akan kami kembalikan lagi ke alam,” terang dia.
Tidak hanya itu, BKSDA Sumbar akan melakukan survei lebih dulu untuk menentukan lokasi yang representatif untuk Harimau tersebut. Baik dari sisi habitatnya maupun kelimpahan mangsanya. Sehingga diharapkan tidak kembali terjadi konflik di kemudian hari.
Kemenhut pun menjelaskan bahwa penanganan cepat konflik Harimau Sumatera di Agam tidak hanya diarahkan untuk merespons kejadian setelah konflik dengan masyarakat terjadi, melainkan juga untuk memperkuat sistem deteksi dini, respons lapangan, edukasi masyarakat, serta penanganan satwa secara terukur.
Pemasangan box trap menjadi salah satu langkah mitigasi untuk mengurangi risiko interaksi berulang antara Harimau Sumatera dengan masyarakat. Apalagi lokasi kejadian berdekatan dengan sekolah dan fasilitas umum yang digunakan oleh masyarakat.