JawaPos.com – KH Abdul Hakim Mahfudz menyatakan siap menjalankan amanah apabila mendapatkan tugas untuk maju sebagai calon Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).
Pernyataan tersebut disampaikan Abdul Hakim saat menghadiri kegiatan silaturahmi bersama sejumlah pengurus cabang Nahdlatul Ulama (NU) dari berbagai daerah di Jakarta.
Menurut Abdul Hakim, silaturahmi merupakan bagian dari tradisi NU yang menjadi ruang untuk mempererat hubungan sekaligus berdiskusi mengenai berbagai persoalan organisasi dan kehidupan masyarakat.
Baca Juga: Bakal Bertarung dengan Sesama Kiai Jatim untuk Kursi Ketum PBNU, Gus Salam Ingin Persaingan Sehat
“Sore ini kami silaturahmi. Setelah tadi siang ada acara mendengarkan PBNU mengenai Qanun Asasi dan ini masih banyak dari PC-PC seluruh Indonesia. Kita berkumpul secara silaturahmi. Ini tradisi NU, silaturahmi, berdiskusi,” ujar Abdul Hakim.
Ia mengatakan, pertemuan tersebut juga menjadi momentum bagi pengurus NU dari berbagai daerah yang sedang berada di Jakarta untuk saling bertemu dan memperkuat komunikasi.
Abdul Hakim menilai tradisi silaturahmi dan diskusi penting untuk menjaga kesinambungan perjuangan NU. Menurutnya, setiap pertemuan antarpengurus diharapkan dapat memberikan manfaat sekaligus memperkuat semangat pengabdian kepada masyarakat.
Baca Juga: Sudah Datangi 29 Provinsi, Calon Ketum PBNU Gus Salam Sowan ke Rais Syuriyah PWNU Sulteng
Ketika ditanya mengenai kesiapannya jika mendapatkan amanah untuk maju dalam bursa calon Ketua Umum PBNU, Abdul Hakim menegaskan bahwa pengabdian di NU dapat dilakukan melalui posisi apa pun.
“Jadi kita berkhidmat di NU itu mau di posisi mana pun, kita bisa berkhidmat. Yang jadi pertimbangan itu bagaimana kita berkhidmat untuk menjadikan masyarakat lebih berkat,” katanya.
Ia menekankan bahwa khidmah di NU bukan semata-mata berkaitan dengan posisi maupun jabatan. Hal terpenting, kata dia, adalah bagaimana kader NU dapat memberikan manfaat bagi masyarakat dan meneruskan nilai-nilai kebaikan yang diwariskan para pendahulu.
“Pesan-pesan dari para ashab, pesan dari para leluhur. Menyemaikan kebaikan di mana pun kita berada. Mudah-mudahan nanti semuanya juga sama. Nggak perlu kita untuk mengharapkan kebaikan itu. Sama-sama kita berkhidmat di NU ini,” ujarnya.
Saat kembali ditanya mengenai kesiapannya apabila mendapat penugasan untuk maju sebagai calon Ketua Umum PBNU, Abdul Hakim memberikan jawaban tegas.
“Lah wong sudah ditugaskan ya harus siap, kan,” katanya.
Pernyataan tersebut menunjukkan keterbukaan Abdul Hakim untuk menjalankan amanah organisasi, termasuk apabila dipercaya maju dalam kontestasi Ketua Umum PBNU. Namun, ia tetap menempatkan prinsip khidmah sebagai landasan utama dalam setiap tugas yang dijalankan di lingkungan NU.
Baca Juga: KH Marsudi Syuhud Siap Maju Calon Ketum PBNU atas Dorongan PWNU dan PCNU, Usung Semangat Khidmah
Didukung PWNU Jawa Timur
Dukungan terhadap Abdul Hakim Mahfudz untuk maju sebagai calon Ketua Umum PBNU disebut datang dari Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur.
KH Abdul Matin Jawahir mengatakan, pencalonan tersebut tidak berangkat dari ambisi pribadi Abdul Hakim untuk menduduki posisi Ketua Umum PBNU. Menurutnya, Abdul Hakim justru sempat menolak ketika diminta untuk maju.
“Sedikit saya sampaikan, saat saya minta waktu di Lampung, beliau masih menolak untuk menjadi calon ketua umum,” ujar KH Abdul Matin Jawahir.
Menurut Abdul Matin, sikap tersebut menunjukkan bahwa Abdul Hakim pada awalnya tidak menghendaki posisi tersebut. Namun, setelah mendapatkan penugasan dan dukungan dari NU Jawa Timur, ia akhirnya bersedia menjalankan amanah organisasi.
Karena itu, pencalonan Abdul Hakim dinilai lebih didasari semangat khidmah dan kesiapan menjalankan amanah daripada kepentingan pribadi.
Abdul Matin juga menegaskan semangat yang dibawa dalam pencalonan tersebut adalah membangun NU yang teduh, mengedepankan persatuan, serta menghindari dinamika organisasi yang berujung pada kegaduhan.
“NU teduh tanpa gaduh,” tegas KH Abdul Matin Jawahir.
Sikap tersebut sejalan dengan penekanan Abdul Hakim bahwa posisi dalam organisasi bukanlah tujuan utama. Baginya, setiap amanah di NU harus diarahkan untuk memberikan manfaat bagi masyarakat dan melanjutkan pengabdian kepada umat.