JawaPos.com - Kementerian Kehutanan meningkatkan penanganan kebakaran hutan di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), Jawa Timur, melalui operasi gabungan.
Sampai Rabu (5/8) pukul 18.00 WIB, kobaran api yang berada di Blok Watu Gede masih belum berhasil dipadamkan seluruhnya. Manggala Agni bersama personel gabungan masih melakukan upaya pengendalian agar api tidak meluas dan menimbulkan dampak lebih besar terhadap kawasan konservasi.
Area yang terbakar mencakup sejumlah jenis vegetasi, mulai dari savana, cemara gunung, pakis hingga semak belukar. Proses pemadaman tidak mudah karena petugas harus menghadapi kondisi medan berupa lereng curam dan perbukitan terjal.
Baca Juga: BPS Catat Kemiskinan Jabar Turun Jadi 6,54 Persen, tapi Ketimpangan Meningkat
Selain itu, karakter vegetasi yang mudah terbakar serta minimnya sumber air turut menjadi kendala. Kebutuhan air untuk pemadaman dipenuhi secara bertahap dengan mengerahkan truk tangki ke lokasi-lokasi yang masih memungkinkan dijangkau oleh petugas.
Pemantauan awal terhadap potensi kebakaran dilakukan melalui Sistem Pemantauan Kebakaran Hutan dan Lahan (SiPongi+) milik Kementerian Kehutanan. Sistem tersebut mengolah informasi titik panas atau hotspot yang diperoleh dari sejumlah satelit, salah satunya NASA-MODIS.
Pada Selasa (4/8), sistem mendeteksi adanya hotspot dengan tingkat kepercayaan sedang atau medium confidence. Temuan tersebut kemudian ditindaklanjuti melalui ground check untuk memastikan kondisi di lapangan, sehingga pengerahan tim pemadam bisa dilakukan dengan cepat guna mencegah api semakin menyebar.
Baca Juga: Karhutla Gunung Bromo Meluas hingga 70 Hektare, Cemara hingga Semak Belukar Hangus
Penanganan kebakaran melibatkan BBTNBTS selaku pihak yang bertanggung jawab atas pengelolaan kawasan, bersama Manggala Agni Wilayah Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara. Operasi tersebut juga diperkuat oleh personel TNI, Polri, BPBD Kabupaten Probolinggo, Masyarakat Peduli Api, serta para relawan.
BBTNBTS bertugas memastikan keamanan kawasan, mengidentifikasi wilayah yang terdampak, mengendalikan akses menuju lokasi kebakaran, menjaga kawasan yang memiliki nilai keanekaragaman hayati, dan mengoordinasikan penanganan di dalam wilayah taman nasional.
Sementara itu, Manggala Agni menangani aspek teknis pemadaman dengan memusatkan upaya pada titik-titik api yang masih menyala agar tidak merambat ke area lainnya.
Direktur Jenderal Penegakan Hukum Kehutanan Dwi Januanto Nugroho mengatakan, dampak kebakaran di kawasan konservasi tidak sebatas mengancam tutupan hutan. Kondisi tersebut juga dapat berpengaruh terhadap masyarakat yang menggantungkan kehidupan pada fungsi ekologis kawasan.
"Bromo bukan hanya destinasi wisata, tetapi kawasan konservasi yang menopang kehidupan masyarakat dan menjadi ruang hidup berbagai jenis tumbuhan serta satwa. Api harus segera dikendalikan, penyebabnya diungkap, dan kawasan dipulihkan. Masyarakat juga harus menjadi bagian dari pencegahan dengan menjaga aktivitas di sekitar kawasan dan segera melaporkan setiap tanda kebakaran," tegas Dwi Januanto Nugroho dalam keterangannya, dikutip Sabtu (8/8).
Sejumlah jalur menuju kawasan TNBTS juga dibatasi demi keselamatan wisatawan sekaligus memberikan ruang bagi petugas untuk menjalankan proses pemadaman. BBTNBTS menutup sementara jalur wisata dari Jemplang dan Coban Trisula di Kabupaten Malang serta Senduro di Kabupaten Lumajang.
Baca Juga: Solusi Nelayan Tuban Naikkan Nilai Jual: Tim UNUGIRI Kenalkan Alat Pengukur Kesegaran Ikan
Penutupan berlaku sejak 3 Agustus 2026 pukul 22.00 WIB hingga waktu yang belum ditetapkan.
Adapun akses dari Cemoro Lawang di Kabupaten Probolinggo dan Wonokitri di Kabupaten Pasuruan masih dapat digunakan secara terbatas, tetapi wisatawan hanya diperbolehkan mencapai kawasan Lautan Pasir. Area Savana ditutup sepenuhnya bagi pengunjung.
Sementara itu, Kepala Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru Rudijanta Tjahja Nugraha menjelaskan, pengamanan kawasan berjalan bersamaan dengan operasi pemadaman.
Baca Juga: BP Batam Wajibkan Pemegang Alokasi Lahan Melapor
Langkah tersebut dilakukan untuk mencegah pengunjung berada di area berisiko sekaligus mempertahankan kawasan yang masih aman dari dampak kebakaran.
"Keselamatan pengunjung menjadi prioritas kami. Penutupan sebagian akses dilakukan agar operasi pemadaman dapat berlangsung optimal sekaligus melindungi masyarakat dari potensi bahaya. Setelah kondisi dinyatakan aman, kami akan melakukan penilaian menyeluruh terhadap dampak kebakaran sebagai dasar penyusunan langkah pemulihan kawasan," ujar Rudijanta.
Tak hanya itu, Kepala Balai Pengendalian Kebakaran Hutan Wilayah Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara, Bambang Setyo Antoko, menyampaikan bahwa pola penanganan di lapangan terus diperbarui mengikuti perubahan situasi. Tim pemadam memprioritaskan area yang dinilai memiliki kemungkinan paling besar menjadi jalur penyebaran api.
Baca Juga: Minibus Rombongan Peziarah Tercebur di Lumajang, Sopir Diduga Mengantuk di Jalan Berkabut
"Api masih aktif dan kondisi di lapangan terus berubah. Personel kami fokus pada sektor-sektor yang memiliki potensi rambatan tertinggi agar penyebaran api dapat ditekan secepat mungkin, dengan tetap mengutamakan keselamatan seluruh personel yang bertugas," tegas Bambang.