← Beranda
Rapat Anggaran DPRD Riau Berujung Ricuh, Dua Politisi Golkar Dilaporkan ke DPP dan Mahkamah Etik
Muhammad RidwanJumat, 17 Juli 2026 | 23.45 WIB
Rapat pembahasan anggaran di DPRD Provinsi Riau berakhir ricuh setelah perselisihan antara dua politisi Partai Golkar, Parisman Ihwan dan Indra Gunawan Eet, memicu bentrokan antarkelompok pendukung.

 

JawaPos.com - Rapat pembahasan anggaran di DPRD Provinsi Riau berakhir ricuh setelah perselisihan antara dua politisi Partai Golkar, Parisman Ihwan dan Indra Gunawan Eet, memicu bentrokan antarkelompok pendukung. Insiden tersebut terjadi usai rapat Badan Anggaran DPRD bersama Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TAPD) Riau, pada Kamis (16/7).

Parisman yang menjabat sebagai Wakil Ketua DPRD Riau terlibat perselisihan dengan Indra Gunawan Eet selaku Ketua Komisi V DPRD Riau. Ketegangan yang bermula di ruang rapat berlanjut hingga ke lobi Gedung DPRD dan menjadi perhatian publik setelah rekaman video keributan beredar luas di media sosial.

Dampak dari insiden tersebut, kedua legislator itu dilaporkan kepada Ketua Umum DPP Partai Golkar dan Mahkamah Etik Partai Golkar. Laporan disampaikan oleh kader Partai Golkar, TB Faisal Hamdan, yang menilai tindakan keduanya telah mencoreng nama baik partai.

Faisal mengatakan, keributan yang terjadi di lobi Gedung DPRD Provinsi Riau pada 16 Juli 2026 memperlihatkan adanya cekcok, saling dorong, hingga dugaan baku hantam antara kedua anggota dewan tersebut.

"Sebagai kader Partai Golkar, saya merasa berkewajiban menjaga kehormatan dan marwah partai. Peristiwa ini sangat disayangkan karena telah menimbulkan kegaduhan publik serta merugikan nama besar Partai Golkar," kata Faisal kepada wartawan, Jumat (17/7).

Menurut Faisal, dugaan tindakan kekerasan fisik yang terjadi dalam lingkungan DPRD merupakan pelanggaran serius terhadap etika politik, disiplin organisasi, serta kehormatan jabatan sebagai wakil rakyat. Karena itu, ia meminta DPP Partai Golkar mengambil langkah tegas terhadap kedua kadernya.

"Mengambil langkah tegas berupa pemberhentian sebagai Anggota DPRD melalui mekanisme partai dan proses pergantian antarwaktu (PAW) sesuai ketentuan perundang-undangan," jelasnya.

Sementara itu, Wakil Ketua Umum Partai Golkar Ahmad Doli Kurnia menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat atas insiden yang melibatkan dua kader partainya. Ia menilai, peristiwa tersebut sangat memalukan dan tidak mencerminkan sikap seorang wakil rakyat.

"Atas nama Partai Golkar saya menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat, khususnya masyarakat Riau yang pasti tidak nyaman melihat peristiwa tersebut," ujarnya.

Doli menegaskan, setiap persoalan seharusnya diselesaikan melalui dialog dan musyawarah, bukan dengan emosi maupun tindakan fisik.

"Seharusnya sebagai wakil rakyat bisa kasih contoh yang baik kepada masyarakat. Semua persoalan bisa diselesaikan dengan akal sehat, rasional dan dialog, bukan dengan emosi apalagi adu fisik," tegasnya.

Ia juga mengungkapkan hasil penelusuran internal mengenai awal mula perselisihan tersebut. Menurutnya, persoalan itu berawal dari saudara Eet yang memojokkan saudara Parisman. Ia menegaskan, seharusnya sesama anggota Fraksi Partai Golkar dapat menjaga nama baik kolega, soliditas, dan marwah Golkar.

Doli berharap, persoalan tersebut segera diselesaikan oleh pimpinan Partai Golkar di tingkat daerah agar tidak berkembang menjadi konflik yang lebih luas maupun memicu benturan antarkelompok pendukung.

"Saya berharap pimpinan Partai Golkar di sana dapat segera menyelesaikan urusan mereka, dengan memanggil mereka berdua, agar tidak memperpanjang persoalan, apalagi melibatkan antar kelompok masing-masing," pungkasnya.

EDITOR: Estu Suryowati