← Beranda
Jelang Muktamar NU, Tradisi Menulis Kitab Kembali Disorot sebagai Warisan Intelektual Ulama
Banu AdikaraKamis, 9 Juli 2026 | 06.12 WIB
Logo PBNU. (Salman Toyibi/Jawa Pos)

 

JawaPos.com – Menjelang pelaksanaan Muktamar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), perhatian terhadap masa depan tradisi keilmuan di lingkungan pesantren kembali mengemuka.

Muncul dorongan agar kalangan ulama tidak hanya mempertahankan tradisi mengkaji kitab, tetapi juga kembali aktif melahirkan karya-karya keislaman yang relevan dengan perkembangan zaman.

Data Kementerian Agama Republik Indonesia menunjukkan Indonesia memiliki lebih dari 42 ribu pesantren dengan jutaan santri yang menjadi bagian penting dari ekosistem pendidikan Islam nasional.

Baca Juga: Sekjen PBNU: Muktamar NU ke-35 di Tambakberas Momentum Emas Penyatuan Seluruh Nahdliyin

Sementara itu, Nahdlatul Ulama sebagai organisasi kemasyarakatan Islam terbesar di Indonesia selama ini dikenal memiliki tradisi keilmuan yang kuat melalui kajian kitab kuning dan pengembangan pemikiran para ulama.

Namun, sejumlah kalangan menilai tradisi produksi karya tulis keagamaan perlu terus diperkuat agar pesantren tidak hanya menjadi pusat transmisi ilmu, tetapi juga pusat lahirnya pemikiran baru yang mampu menjawab berbagai persoalan kontemporer.

Pandangan tersebut disampaikan Wakil Ketua Umum PBNU KH Zulfa Mustofa menjelang peluncuran sekaligus bedah kitab karyanya, Ithafu Ummati Al Muqtafa, yang dijadwalkan berlangsung pada Jumat (10/7) di Aula Sakinah Masjid Sunda Kelapa, Jakarta.

Baca Juga: PBNU Tunjuk Ponpes Tambakberas Jombang Jadi Lokasi Muktamar ke-35 NU

Menurut KH Zulfa, tradisi menulis kitab merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari sejarah perkembangan peradaban Islam.

"Tradisi ulama adalah tradisi ilmu. Dan tradisi ilmu tidak akan kokoh tanpa tradisi menulis. Karena itulah para ulama terdahulu tidak hanya mendidik murid, tetapi juga meninggalkan kitab sebagai warisan intelektual bagi umat," ujarnya.

Ia menilai pesantren selama ini telah berperan besar menjaga kesinambungan ilmu melalui kajian kitab-kitab klasik. Namun, di tengah tantangan baru seperti perkembangan teknologi, perubahan sosial, hingga persoalan kebangsaan, kalangan ulama juga didorong menghasilkan karya yang dapat menjadi rujukan bagi generasi berikutnya.

"Memang penting membaca dan mengkaji kitab para ulama terdahulu. Tetapi para ulama juga memiliki tanggung jawab moral untuk melahirkan karya yang dapat menjadi rujukan bagi generasi mendatang. Di situlah estafet keilmuan terus berjalan," katanya.

Menurut KH Zulfa, menulis kitab bukan sekadar aktivitas akademik, melainkan bagian dari dakwah dan ikhtiar menjaga kesinambungan ilmu agar tetap hidup lintas generasi.

"Ceramah dapat menggerakkan hati pada masanya. Tetapi kitab menjaga ilmu tetap hidup sepanjang masa. Karena itu, setiap ulama perlu memiliki semangat untuk meninggalkan karya sebagai bagian dari amal jariyah keilmuan," tuturnya.

Baca Juga: Dorong Berbenah Total, NU Akar Rumput Ingatkan Konflik Elite PBNU Bisa Rusak Organisasi

Peluncuran kitab Ithafu Ummati Al Muqtafa menjadi bagian dari upaya mendorong kembali budaya literasi di lingkungan pesantren, perguruan tinggi Islam, serta lembaga keagamaan. Kegiatan tersebut akan dihadiri ulama, akademisi, santri, dan warga Nahdliyin, serta diisi dengan sesi bedah buku yang membahas kontribusi karya tulis dalam memperkaya khazanah keilmuan Islam Indonesia.

Dorongan untuk memperkuat tradisi menulis kitab dinilai menjadi salah satu refleksi penting menjelang Muktamar NU, ketika pembahasan mengenai arah organisasi tidak hanya menyangkut kepemimpinan, tetapi juga bagaimana menjaga keberlanjutan tradisi intelektual yang selama ini menjadi salah satu fondasi utama Nahdlatul Ulama.

EDITOR: Banu Adikara