JawaPos.com - Kantor Staf Presiden (KSP) mempercepat koordinasi pembangunan fasilitas Compressed Natural Gas (CNG) Mother Station di Tanjung Enim, Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan, untuk mendukung ketahanan energi nasional sekaligus mendorong penciptaan lapangan kerja, dikutip dari ANTARA.
Berdasarkan data Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM, wilayah Tanjung Enim menyimpan potensi sekitar 9,7 triliun kaki kubik (TCF) Original Gas in Place (OGIP) dengan estimasi nilai ekonomi mencapai USD 15,4 miliar.
Indonesia sendiri merupakan salah satu negara dengan cadangan CBM terbesar di dunia, dengan total potensi sekitar 453 TCF, menurut data Ditjen Migas Kementerian ESDM.
Potensi tersebut selama ini masih belum dimanfaatkan secara optimal sehingga menjadi peluang besar untuk memperkuat pasokan energi domestik.
Baca Juga: Kinerja Operasional Moncer, Pertamina Pertahankan Produksi Migas di Atas 1 Juta BOEPD
"Saya dengan jajaran menyelesaikan koordinasi untuk pembangunan Mother Station CNG yang rencana akan dibangun di Tanjung Enim. Memang ada beberapa permasalahan, namun karena semua sepakat bahwa demi bangsa dan negara dan ini merupakan proyek nasional, program strategis nasional yang harus kita kembangkan," kata Kepala Staf Kepresidenan Jenderal TNI (Purn) Dudung Abdurachman dalam siaran pers KSP.
Dalam koordinasi percepatan pembangunan fasilitas CNG Mother Station di Tanjung Enim, Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan, Jumat (3/7), Dudung menyampaikan masih terdapat sejumlah aspek administrasi yang perlu diselesaikan, termasuk penyesuaian Rencana Detail Tata Ruang (RDTR). Namun, seluruh pihak disebut telah berkomitmen mempercepat penyelesaiannya sesuai ketentuan karena proyek tersebut merupakan Program Strategis Nasional.
Baca Juga: Keselamatan Migas Jadi Sorotan, PGN Perkuat Sinergi dengan Ditjen Migas
Menurut Dudung, penyelesaian administrasi akan tetap dilakukan melalui mekanisme yang berlaku dengan melibatkan pemerintah daerah maupun kementerian terkait. Pada saat yang sama, proses administrasi dan pelaksanaan pekerjaan akan dijalankan secara paralel agar target penyelesaian proyek pada tahun ini dapat tercapai.
"Di dalam penyelesaian administrasi itu sendiri, karena ini harus segera, target sesuai dengan tahun ini, maka proyek ini akan segera dikerjakan," katanya.
KSP menjelaskan penguatan koordinasi lintas sektor terus dilakukan sebagai bagian dari tugas lembaga tersebut dalam mengawal pelaksanaan program prioritas Presiden. Langkah itu ditempuh untuk membantu mengatasi berbagai hambatan implementasi di lapangan sehingga Program Strategis Nasional dapat berjalan tepat waktu, sesuai ketentuan, dan memberikan manfaat bagi masyarakat.
Baca Juga: Neraca Dagang Defisit usai 72 Bulan Surplus, Ekonom CORE Soroti Masalah Struktural Migas
Selain memperkuat ketahanan energi nasional, Dudung mengatakan pembangunan Mother Station CNG di Tanjung Enim diharapkan memberikan dampak ekonomi secara langsung melalui pembukaan lapangan pekerjaan. "Yang paling dominan dirasakan pasti adalah membuka lapangan pekerjaan, kemudian ketahanan energi nasional," ujarnya.
Ia menambahkan Sumatera Selatan dipilih sebagai lokasi pembangunan karena memiliki potensi sumber daya energi yang melimpah, baik gas bumi maupun batu bara, sehingga dinilai strategis untuk mendukung pengembangan sektor energi nasional.
Sementara itu, Direktur Utama PT PGN Arief K. Risdianto menyatakan dukungan KSP penting dalam mengawal optimalisasi gas domestik, khususnya pengembangan Coalbed Methane (CBM) Tanjung Enim dan infrastruktur penyaluran di Pagardewa.
"Dalam upaya menjaga kestabilan pasokan sekaligus memanfaatkan sumber daya alam yang tersedia di Sumatera Selatan, PGN melaksanakan pengembangan infrastruktur injection point. Infrastruktur ini menjadi titik pengumpul gas yang berasal dari coalbed methane, biomethane maupun sumber lainnya sebelum disalurkan ke jaringan pipa transmisi yang sudah ada," ujar Arief.
Baca Juga: Realisasi Masih Rendah, Pengelolaan PI 10 Persen di Wilayah Kerja Migas Perlu Pembenahan Menyeluruh
Selain CBM, PGN juga mengembangkan potensi pasokan dari biomethane berbasis limbah kelapa sawit serta Synthetic Natural Gas (SNG). Ketiga sumber energi tersebut diproyeksikan saling melengkapi dalam mendukung kebutuhan gas domestik, khususnya di Sumatera Selatan yang memiliki potensi besar sebagai pusat energi nasional.
"Dengan infrastruktur dan pengalaman yang dimiliki PGN sebagai Subholding Gas Pertamina, kami siap menjalankan peran sebagai penghubung antara potensi pasokan gas domestik dengan kebutuhan energi nasional," kata Arief.
Dia menjelaskan pihaknya siap memberikan manfaat bagi masyarakat serta berkontribusi pada perekonomian daerah. Menurutnya dukungan KSP sangat penting untuk membantu memastikan koordinasi berjalan lebih efektif, dengan pembagian peran dan tindak lanjut yang jelas di antara seluruh pemangku kepentingan.