JawaPos.com - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lebak, Banten, mulai bersiap menghadapi potensi kekeringan selama kemarau.
Salah satu yang tengah diantisipasi dampaknya adalah krisis air bersih. Berdasarkan pemetaan BPBD Lebak, sedikitnya 90 desa rawan krisis air bersih.
"Kami siaga menghadapi kekeringan dengan memberikan pelayanan kepada masyarakat, termasuk pendistribusian air bersih," terang Kepala BPBD Kabupaten Lebak Sukanta di Rangkasbitung, Senin (29/6) sebagaimana dilansir dari Antara.
untuk itu, pihaknya menyiapkan tiga mobil tangki dengan kapasitas masing-masing 6.000 liter untuk penanganan krisis air bersih menghadapi kekeringan di musim kemarau.
Baca Juga: El Nino Ekstrem 2026 Ancam Indonesia, Pakar Ingatkan Dampak Kekeringan hingga Krisis Air
Ketiga truk tangki itu nantinya akan menyalurkan pasokan air bersih ke desa-desa yang mengalami kekeringan.
Untuk itu, lanjut Sukanta, pihaknya juga bekerja sama dengan PDAM Lebak untuk penyediaan air bersih.
Ia mengimbau masyarakat Kabupaten Lebak yang mengalami krisis air bersih untuk melapor ke BPBD melalui kepala desa setempat. agar pihaknya langsung bisa menyiapkan pengiriman air ke lokasi krisis.
Penyaluran air bersih oleh BPBD, tututr Sukanta, dipastikan gratis tanpa dipungut biaya. Karena pihaknya sudah menjalin kerja sama dengan PDAM Lebak.
sebagai antisipai bila kekeringan meluas, pihaknya juga menggandeng BPBD Provinsi Banten dan BUMN untuk menyiagakan truk tangki yang siap mendistribusikan air bersih.
Baca Juga: BMKG Prediksi Musim Kemarau 2026 Lebih Panjang, DPR Wanti-wanti Pemerintah soal Bencana Kekeringan
Meski demikian, hingga kini pihaknya belum menerima laporan adanya warga yang mengalami krisis air bersih, meski kemarau sudah berlangsung beberapa pekan terakhir ini.
Pada tahun-tahun sebelumnya krisis air bersih pada musim kemarau tersebar di sejumlah kecamatan.
Antara lain Kecamatan Sajira, Muncang, Cipanas, Cibadak, Warunggunung, Banjarsari, Cimarga, Cirinten, Bojongmanik, Cihara, Cilograng, Cileles, Gunungkencana, Maja, dan Wanasalam.
Penyebab krisis air bersih itu, kata dia, di antaranya karena warga tidak memiliki mesin pompa air dan belum tersentuh jaringan PDAM.
Selain itu juga wilayah-wilayah tersebut tidak memiliki sumber air baku yang baik dari aliran sungai maupun sumber mata air.
Baca Juga: Hari Pertama BTN JAKIM 2026 Berjalan Mulus Meski Cuaca Mengkhawatirkan
Sukanta memastikan pihaknya terus menguatkan mitigasi dan antisipasi bencana selama musim kemarau.
Tahun ini, musim kemarau di Lebak diprediksi berlangsung pada Juni sampai Desember.
Selain mengantisipasi kemarau, BPBD juga mewaspadai bencana kebakaran permukiman serta kawasan hutan dan lahan, juga penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD), diare, pneumonia, dan ISPA.
"Kami juga bekerja sama dengan Dinas Kesehatan setempat untuk penanganan penyakit menular agar tidak menimbulkan kasus Kejadian Luar Biasa (KLB)," katanya menjelaskan.
Sementara itu Sekretaris Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Lebak Endang Komarudin meminta masyarakat agar tetap membudayakan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) selama kemarau.
Baca Juga: Declan Rice Sebut Skuad Timnas Inggris Sudah Beradaptasi dengan Cuaca Panas di Turnamen Piala Dunia
Sehingga tidak mudah terserang berbagai penyakit menular, seperti diare, DBD, dan muntaber.
"Kami minta warga agar menjaga lingkungan bersih dan tidak buang air besar di aliran sungai maupun kebun saat musim kemarau, karena berpotensi menimbulkan penyakit diare," kata Endang.